Anak Ibu Kost Yang Masih SMU

cerita mesum

Anak Ibu Kost Yang Masih SMU

Setiap sebulan sekali saya sering merapikan bulu kemaluanku, tapi di minggu ini naitku untuk mencukur habis semua bulu sudah saya siapkan dari cermin alat cukur, kupasang cermin seukuran buku tulis tepat di depan kemaluanku untuk melihat bagian bawah yang tak terlihat secara langsung. Tak lupa pula kunyalakan lampu duduk di antara selangkanganku. Kumulai pelan-pelan, kugerakkan pisau cukur dari atas ke bawah.

Baru mulai saya menggoreskan pisau cukur itu, saya dengar suara langkah masuk ke kamarku, segera saya lihat bayangan di kaca buffet, tak jelas benar, tetapi saya bisa menebaknya bahwa ia adalah si Endar, kemenakan dari ibu kost.

Saya bingung juga, mau membereskan perangkat ini terlalu repot, tak sempat. Memang saya melakukan kesalahan fatal, saya lupa mengunci pintu depan ketika kumulai kegiatan ini. Akhirnya dalam hitungan detik muncul juga wajah si Endar ke dalam kamarku.

Dalam waktu yang singkat itu, saya sempat meraih celana dalamku untuk menutupi kemaluanku. Sambil meringis berbasa-basi sekenanya.

“He… he… ada apa En..?” sapaku gelagapan.

“Eh, Mas Bayu lagi ngapain..?” kata Endar yang nampaknya juga sedang menyembunyikan kegugupannya.

Si Endar memang akrab dengan saya, ia sering minta bimbingan dalam hal pelajaran di sekolahnya. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang memang menjadi kegemaranku. Endar sendiri masih sekolah di SMU. Berkata jorok memang sering kami saling lakukan tetetapi hanya sebatas bicara saja. Apalagi Endar juga menanggapinya, dengan perkataan yang tak kalah joroknya. Tetapi hanya sebatas itulah.

Kembali pada adegan tadi, dimana saya tengah kehabisan akal menanggapi kehadirannya yang memergokiku sedang mencukur bulu kemaluan. Akhirnya kubuka juga kekakuan ini.

“Enggak apa-apa En, biasa… kegiatan rutin.”

“Apaan sih..?”

“Endar sudah berusia 17 tahun belum..?”

“Emangnya kenapa jika udah..?” kata Endar masih berdiri dengan canggung sambil terus menatapku dengan serius.

“Gini En, saya khan lagi nyukur ini nih, saya minta tolong kamu bantuin aku. Soalnya di bagian ini susah nyukur sendiri…” kataku sambil kuulurkan pisau cukur padanya.

“Mas Adi, ih..!” tetapi ia terima juga pisau cukurnya, sambil duduk di dekatku.

Saya angkat celana yang tadi hanya kututupkan di atas kemaluanku.

“Endar tutup dulu pintunya yach Mas..?”

Dia menutup pintu depan dan pintu kamar. Sebenarnya masih ada pintu belakang yang langsung menuju ke dapur rumah induk. Namun pada jam segini saya yakin bahwa tak ada orang di dalam. Selesai Endar menutup pintu, ia agak kaget melihat kemaluanku terbuka, sambil menutup mulutnya ia meminta agar saya menutupnya.

“Tutup itunya dong..!” katanya dengan manja.

Saya katupkan kedua pahaku, batang kemaluanku saya selipkan di antaranya, sehingga tak terlihat dari atas, sedangkan bulunya terlihat dengan jelas.

“Nah begini khan nggak terlihat…” kataku, dan Endar nampaknya setuju juga.

Endar ragu-ragu untuk melakukannya, namun segera saya yakinkan.

“Nggak apa-apa En, kamu khan sudah 17 tahun, berarti sudah bukan anak-anak lagi, lagian khan cuman bulu, kamu juga punya khan, udah nggak apa-apa. Nanti jika saya sakit, saya bilang deh..”

“Bukannya apa-apa, saya geli hi.. hi..” sambil cekikikan.

Dengan super hati-hati ia gerakkan juga pisau cukur mulai menghabisi bulu-bulu kemaluanku. Karena terlalu hati-hatinya maka ia harus melakukannya dengan berulang-ulang untuk satu bagian saja.

Sentuhan-sentuhan kecil tangannya di pahaku mulai mendarmbulkan getaran yang tak bisa kusembunyikan. Dan ini membuat kemaluanku semakin tegang, tak hanya itu, hal ini juga menyebabkan siksaan tersendiri.

Dengan posisi tegang dan tercepit di antara pahaku menjadikan kemaluanku semakin pegal. Sampai akhirnya tak bisa kutahan, kukendorkan jepitan kedua pahaku, sehingga dengan cepat meluncurlah sebuah tongkat panjang dan keras mengacung ke atas menyentuh tangan Endar yang masih sibuk mempermainkan pisau cukurnya.

Begitu tersentuh tangannya oleh benda kenyal panas kemaluanku, ia kaget dan hampir berteriak.

“Oh, apa ini Mas..? Kok dilepas..?” katanya gugup ketika menyadari bahwa batang kemaluanku lepas dari jepitan dan mengarah ke atas.

“Iya En. Habis nggak tahan. Nggak apa-apa deh, dihadapan cewek harus kelihatan lebih gagah gitu..”

“Mas Bayu sengaja ya..?”

“Suer.., ini cuma normal.”

Endar masih memperhatikan kemaluanku yang sudah besar dan kencang dengan wajah yang sulit digambarkan. Antara takut dan ingin tahu. Lalu ia raih kain yang ada di dekatku untuk menutupinya.

“Kenapa ditutup En..?”

“Aku takut, abis punya Mas Bayu besar banget.”

“Emangnya Endar belum pernah melihat kemaluan laki-laki..?” tanya saya.

Endar diam saja, tetapi digelengkan kepalanya dengan lemah.

“Ayo deh diteruskan,” bisikku.

Kali ini Endar menjadi super hati-hati mencukurnya. Mungkin takut tersentuh kemaluanku. Sedangkan saya sangat ingin tersentuh olehnya. Tetapi saya khawatir ia semakin takut saja. Akhirnya kubiarkan saja ia menyelesaikan tugasnya dengan caranya sendiri.

Akhirnya harapanku sebagian terkabul juga. Ketika Endar mulai mencukur bulu bagian samping kemaluanku, mau tak mau ia harus menyingkirkan kemaluanku.

“Maaf ya Mas..!” dengan tangan kirinya ia mendorong kemaluanku yang masih tertutup kain bagian atasnya ke arah kiri, sehingga bagian kanannya agak leluasa. Untuk lebih membuka areal ini, saya rebahkan tubuhku dan kubentangkan sebelah kakiku.

Endar dengan sabar memainkan pisau cukurnya membersihkan bulu-bulu yang menempel di sekitar kemaluanku, nafasnya mulai memburu, dan kutebak saja bahwa ia juga sedang horny. Walaupun masih dengan ragu-ragu ia tetap memegang kemaluanku.

Didorong ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. saya hanya merasakan kendarkmatan yang luar biasa. Tanpa kusadari kain penutup kepala kemaluanku sudah tersingkap, dan ini nampaknya dibiarkan saja oleh Endar, yang sekali-kali melirik juga ke arah kepala kemaluanku yang mulus dan besar itu.

Lama-kalamaan, Endar semakin terbiasa dengan benda menakjubkan itu. Dengan berani, akhirnya ia singkapkan kain yang menutup sebagian kemaluanku itu.

Dengan terbuka begitu, maka dengan lebih leluasa ia dapat menyantap pemandangan yang jarang terjadi ini. saya diam saja, karena saya sangat menyukainya serta bangga mendapat kesempatkan untuk mempertontonkan batang kemaluanku yang lumayan besar.

“Udah bersih Mas…”

Kulihat kamaluanku sudah pelontos, gundul. Wah, jelek juga tanpa bulu, pikirku.

“Di bawah bijinya udah belum En..?” saya pura-pura tak tahu bahwa di daerah itu jarang ada bulu.
Lalu dengan hati-hati ia sigkapkan kedua bijiku ke atas. Uh, rasanya enak sekali.

“Udah bersih juga Mas…” ia mengulanginya.

Katanya datar saja. Menandakan bahwa hatinya sedang ada kecamuk. saya tarik lengannya, dan dengan sengaja kusenggol toketnya, dan kukecup kendarngnya.

“Terima kasih ya En..!”

Tanpa kusadari, sejak ia memberanikan diri mencukur bulu kemaluanku tadi, buah dadanya yang berukuran sedang terus menempel pada dengkulku. Begitu kukecup kendarngnya, ia diam saja, mematung sambil menundukkan mukanya.

Lalu kuangkat dagunya dan kucium bibirnya, kupeluk sepuas-puasnya. Keremas paudaranya dan nafasnya makin memburu. saya raih kemaluannya tetapi ia diam saja, kuselipnkan satu jarinya dari sela-sela celana dalamnya.

Wah, ternyata sudah basah bukan main. Namun Endar segera terkejut, dan melepaskan diri dariku. Disun pipiku, dan ia segera lari ke rumah induk lewat pintu belakang.

Saya benar-benar puas, kupandangi tampang kemaluan gundulku yang masih tegak.

“Suatu saat nanti engkau akan mendapat bagiannya…” kataku dalam hati.

Sejak peristiwa itu, kami memang tak pernah bertemu dua mata dalam suasana yang sepi. Selalu saja ada orang lain yang hilir mudik di kamarku. Sampai akhirnya liburan datang dan kami semua masing-masing pulang kampung untuk beberapa waktu.

Liburan sekolah sudah selesai, Endar sudah datang lagi setelah berlibur ke rumah orang tuanya di Tabanan, Bali. Begitu juga saya yang datang sebelum masa kuliahku dimulai.

Waktu itu hujan deras. Endar masih berada di kamarku (suasananya sepi karena tak ada orang sama sekali, termasuk di rumah induk) untuk minta bimbingan atas pelajarannya. Begitu selesai, Endar menyandarkan tubuhnya ke dadaku sambil berkata.

“Mas, itunya sudah tumbuh lagi belum..? Hi… hi…” sambilnya ketawa cekikikan.

“Oh, itu..? Lihat aja sendiri.” sambil kupelorotkan celana pendekku sampai lepas, dan kemaluanku yang masih lunglai menggantung.

“Mas Bayu ih, ngawur…” katanya.

Tetapi walaupun demikian, ia santap juga pemandangan itu sambil menyibakkan sebagian T-Shirt-ku yang menutupi daerah itu. Bulu-bulu yang sudah rapih memenuhi lagi sekitar kemaluanku, segera terlihat dengan jelas.

“Nah, begitu khan lebih oke…” katanya.

“Aku kapok En, nggak mau nyukur plontos lagi.”

“Kenapa Mas..?”

“Waktu mau numbuh. Bulunya tajam-tajam dan itu menusuk batangku.”

“Habis Mas Bayu sukanya macem-macem sih..!” sambil terus memandang kemaluanku yang masih tergantung lunglai,

“Mas, kok itunya lemes sih..?”

“Iya En, sebentar juga gede, asal diusap-usap biar seneng.”

“Ah Mas Bayu sih senengnya enak terus.”

Walaupun berkata seperti itu, mau juga Endar mulai memegang kemaluanku dan digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Membuat batang kemaluanku semakin besar, keras dan mengacung ke atas. Endar makin menyandarkan kepalanya ke dadaku. Dan langsung saja saya peluk dia, sedemikian rupa hingga toketnya tesentuh tangan kiriku.

Rupanya Endar tak pakai BH, sehingga kekenyalan toketnya langsung terasa olehku. Kupermainkan toketnya, saya pencet, menjadikan Endar terdiam seribu bahasa tetetapi nafasnya semakin cepat. Demikian pula Endar dengan hati-hati memainkan kemaluanku, masih terus dibolak-balik, ke kanan dan ke kiri.

Saya cium bibir Endar, dan ia menanggapinya dengan tak kalah agresifnya. Barangkali inilah suatu yang ditungu-tunggu. saya lepas blouse-nya, dan toketnya yang masih kencang dan mulus dengan putingnya yang kecil berwarna coklat muda segera terpampang dengan jelas. Karena tak tahan, saya langsung menciuminya.

Hal ini menjadikan Endar semakin menggeliatkan tubuhnya, tandanya ia merasa nikmat. saya ikuti ia ketika ia mambaringkan tubuhnya di tempat tidur. saya hisap-hisap putting toketnya, sementara rok dan celananya kupelorotkan. Endar setuju saja, hal ini ditunjukkan dengan diangkatnya pantat untuk memudahkanku melepaskan pakaian yang tersisa.

Begitu pakaian bagian bawah terlepas, segera tersembul bukit mungil di antara selangkangannya, rambutnya masih jarang, nyaris tak kelihatan. Sekilas hanya terlihat lipatan kecil di bagian bawahnya. Pemandangan ini sungguh membuat nafsuku semakin memuncak.

Begitu kuraba bagian itu, terasa lembut. Makin dalam lagi barulah terasa bahwa ia sudah banyak berair. Endar masih merem-melek, tangannya tak mau lepas dari kemaluanku. Begitu pula ketika kulepas pakaianku. Tangan Endar tak mau lepas dari alat vitalku yang semakin keras saja.

Begitu saya sudah dalam keadaan bugil, saya kembali mempermainkan kemaluannya, ketika jari tengahku mau memasuki memeknya yang sudah banjir itu. Pinggulnya digoyangkannya tanda mengelak, saya hampir putus asa.

Tetapi kudengar suara manjanya,

“Jangan pakai tangan Mas. Pakai itu saja.” sambil menarik-narik alat vitalku ke arah memeknya.

Aku segera mengambil posisi. Tangan lembutnya membimbingnya untuk memasuki arah yang tepat. Kugosok-gosokkan sebentar di bibir memeknya yang berlendir itu. Rasanya nikmat sekali. Setelah kurasa tepat berada di ambang lubangnya, saya dorong sedikit, agar bisa memasukinya. Tetapi nampaknya tak mau masuk. saya coba sekali lagi, tak mau masuk juga.

“Kamu masih perawan En..?” akhirnya saya tanya dia.

Diantara jelita dan wajahnya yang sudah seperti tak sadar itu, saya lihat kepalanya menggeleng dan itu adalah suatu jawaban.

Usaha menembus lubang kendarkmatan itu saya tunda dulu. Operasiku berpindah dengan memagut-magut seluruh tubuhnya. Endar semakin terengah-engah menerima perlakuanku. Erangan-erangan yang terkesan liar semakin membuatku bernafsu.

Aku kecup putingnya, perutnya, dan pahanya. Ketika saya mengecup pahanya, sepintas saya lihat memeknya menganga, semburat warna merah tua yang licin sungguh menarik perhatianku.

Jilatanku makin dekat ke arah memeknya. Begitu lidahku menyentuh bibir kemaluannya, Endar berteriak kelojotan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. saya semakin bersemangat menjilatinya.

Setelah kurasa jenuh, dan kehabisan variasi menjilati memeknya. Kembali kuarahkan kemaluanku ke arah barang yang paling dilindungi wanita ini. Kembali tangan Endar membimbing kemaluanku. Setelah tepat di depan gerbang kendarkmatan, saya dorong sedikit.

“Bless…”

Kepala kemaluanku bisa masuk sedikit, Endar meringis, tetapi terus menekan bokongku. Maksudnya, jelas agar saya masuk lebih banyak lagi. saya dorong lagi, tetetapi lubangya terlalu sempit.

Walaupun hanya kepala saja yang masuk, tetetapi saya berusaha memaju-mundurkan, agar gesekan yang nekmat itu terasa. Setelah beberapa kali saya memaju-mundurkan, sekali lagi saya dorong lebih dalam lagi. Berhasil..! Kini kemaluanku sudah sepertiga berada di dalamnya.

Saya berusaha sabar, saya gerakkan maju mundur lagi. Setelah beberapa kali, saya mendorong lagi. Begitulah kulakukan berulang-ulang sampai semua kemaluanku tertelan dalam remasan memeknya. Kudiamkan untuk sesaat di dalam, kurasakan denyutan-denyutan yang sangat nikmat yang membuat seluruh tubuhku mengejang. Kugerakkan lagi bokongku dengan arah maju-mundur. Tanpa kusangka, Endar menjerit sambil mengejang.

“Terus Mas… terus Mas… saya sampaaiii… ouh… ouh…” jeritan itu lumayan keras.

Saya segera tutup mulutnya dengan bibirku. Bersamaan dengan itu, kemaluanku terasa diremas-remas. Ujung kemaluanku seakan menyentuh dinding yang membuatku merasa geli bukan main. Akhirnya saya tak tahan juga untuk mengeluarkan spermaku ke dalam liang kewanitaannya.

Beberapa semprotan agaknya semakin menjadikan Endar semakin liar dan semakin meregangkan tubuhnya. Kami orgasme bersama-sama, dan itu sangat meletihkan. Dan saya tak ingin cepat-cepat melupakan fantasi yang hebat itu. Kami tertidur untuk beberapa waktu.

Begitu saya bangun, rupanya Endar sudah tak ada. Yang ada hanyalah secarik kertas menutupi kemaluanku dengan tulisan, “YOU ARE THE GREAT”.

Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara rutin dua minggu sekali, paling lama sebulan sekali. Namun tak melakukan di rumah tetetapi kubawa ke hotel di luar kota secara berganti-ganti yang kemungkinan kecil untuk diketahui oleh orang yang kami kenal. Kemudian kami pun berpisah dan saya harus kuliah di luar kota sedangkan Endar juga berkuliah di kota lain.

Related Post