Kisah Sexual Semasa ABG

cerita mesum

Kisah Sexual Semasa ABG

Semasa ABG saya mempunyai pengalaman dimana waktu itu saya masih kelas 2 SMA , perkenalkan nama saya beryl bisa di bilang saya mempunyai bentuk tubuh yang langsing seksi degan rambut panjang hitam sebahu, ukuran toket gak gede a gak kecil, di bawah ini merupakan cerita sexual yang saya alami mulai kegenitan dengan sahabat sahabat cewek.
Saat saya naik kelas 2 SMA di kota S, ketika saya bertemu dengan sahabat-sahabat (Nora yang paling sexy & paling nekat, Nisa yang cuek, & Neka yang pemalu). Kami berempat kebetulan memiliki keingintahuan & kegatelan yang sama tentang masalah hubungan pria & wanita.

Kami mulai sadar bahwa lelaki-lelaki mengarahkan pandangan kepada kami, & kami menyukai hal tersebut. Sering kali kami saling bercerita bagaimana si A mencuri-curi pandang pinggul Nora, atau si B yang menjulurkan lehernya berusaha mengintip belahan dadaku ketika saya membungkuk untuk mengambil bolpoin jatuh, atau Neka yang diintip ketiaknya waktu membenahi ikat rambutnya.

Merupakan kebanggaan jika ada lelaki yang difavoritkan di kelas kami mencuri pandang ke arah kami. Kadang kami juga suka memancing perhatian, baik dengan berbusana seksi atau bertingkah laku menggoda. Misalnya menggunakan rok ketat dari bahan kaus yang mencetak pantat dengan jelas. Atau menggeliat dengan menarik tangan ke atas & menekuk punggung untuk sekaligus memamerkan lekukan pantat & toket.

Salah satu kesukaan kami yaitu acara ganti baju sebelum & sesudah olahraga. Beberapa kali, tentu saja dengan mengunci pintu kelas sebe-lumnya, kami berempat & beberapa cewek lain, nekat ganti baju di kelas. Satu persatu seragam kami berlolosan hingga tinggal bra & celana dalam, sebelum berganti pakaian olah raga.

Kami saling memperhatikan & memperbandingkan kehalusan kulit, memperbincangkan model bra transparan yang dipakai si D, atau celana dalam Winnie the Pooh nya si Y. Dua tiga kali kejadian ada lelaki yang mencuri lihat lewat lubang kunci, yang tentu saja kami tahu melalui bayang-bayangnya dicelah bawah pintu.

Tapi kami cuek saja, berpura-pura tak terjadi sesuatu. Malahan beberapa dari kami (termasuk saya) secara provokatifberpura-pura mengobrol sambil duduk di atas bangku, sambil membiarkan si pengintip menikmati tubuh kami. Bahkan pernah sekali akudan Nora pernah sengaja mencopot bra, lalu mengoles krim pelembap di dada, sambil sesekali melirik ke arah pintu berdoa semoga lelaki itu masih di situ.

Sahabat-sahabat cewek lain tertawa cekikikan sambil memuji kenekatan kami. & itu, pertama kalinya di kelas kami ada adegan seperti itu. & setelah itu beberapa sahabat cewek mulai berani meniru melepas bra di depan sahabat cewek yang lain, meski belum sampai taraf kenekatan Nora & saya. Meski pernah mempertontonkan tubuh & sering berakting seksi, kami berusaha untuk tak terkesan murahan.

Kami dengan cerdiknya memancing lelaki untuk melirik & menikmati indahnya lekuk tubuh kami, tanpa bermaksud menantang mereka. Pergaulan sehari-hari berjalan seperti biasa. Pancingan-pancingan omongan dari lelaki nekat jelas nggak kami tanggapin. Prinsipnya, kagumilah kami. Lebih dari itu, no way.Kegatelan kami semakin mendapatkan penyalurannya di semester 4.

Diawali dari Nisa yang mendapatkan buku porno dari seorang sahabat lelaki, yang segera beredar di antara kami. Masih teringat jelas bagaimana sang tokoh merendam ‘barang’nya dengan teh basi setiap pagi sore untuk memperkokoh ototnya, bagaimana sang cewek tokoh utama kesakitan dankemudian menikmati diperawani, bagaimana sang tokoh lelaki menggoda & menyetubuhi tetangganya, & seterusnya.

Beberapa kali kami mendisku-sikan cerita itu. Tiap kata & kalimat di buku itu membuat kami semakin penasaran.Pada suatu hari, Nisa kembali membikin ‘ulah’ dengan menawari tontonan vcd porno. Katanya sih ia ambil dari kamar kakaknya yang udah kuliah. Berhubung kami masuk siang, kami punya banyak waktu buat nonton di pagi hari. Kebetulan bapak ibu Nisa bekerja, jadi kami tinggal atur waktu pas kakaknya kuliah.

Dan di suatu hari Jumat pagi, kami berempat untuk pertama kalinya menonton vcd porno, pertama kali kami melihat penis menembus vagina, pertama kali melihat cewek mengulum penis, bagaimana clitoris digelitik dengan jari atau lidah, pertama kali melihat indahnya penis meludahkan cairan putih kental. & reaksi kami… awalnya terpana, terpaku, tenggorokan kering, & kemudian cekikikan, & saling berkomentar seperti “Gimana ya rasanya?” (waktu adegan oral atau adegan lelaki menebar benihnya di mulut pasangannya).

“Wii… banyaknya…” atau “Enak ya, mas?” (adegan keluarnya air mani),

“Mmm… pengeeen…” (adegan cewek orgasme),

“Ayoo… tembak, mas …” (adegan lelaki mo ngeluarin benihnya).Dan itu yaitu bekal akuuntuk mengexplorasi tubuh akusendiri. Di malam hari, setelah belajar, akubelajar untuk menyentuh tubuh saya, merangsang puting susu berdiri dengan rabaan ringan, cubitan lembut, atau dengan sentuhan ujung jari yang dibasahi dengan air ludah.

Kemudian mencari-cari titik-titik di sekitar paha yang membuat ‘greng’ bila disentuh, menikmati gesekan pantat & bantal, mempertemukan paha & guling, meremas pantat sendiri. & tak terlewatkan, sentuhan di daerah kewanitaan. Belaian di bibir luar, sentuhan ringan di klitoris, pelan-pelan membelai seputar liang persetubuhan, sambil berhati-hati untuk tak masuk terlalu dalam agar keperawanan tetap utuh.

Mmmmh… orgasme-orgasme pertamaku. Bagaimana otot-otot daerah paha & pinggul secara tiba-tiba terasa menegang, rasa lemas itu, rasanya takkan terlupakan.Hari-hari berikutnya saya belajar bahwa sentuhan di puting akan membuat orgasme makin kuat, bahwa orgasme dengan posisi telentang sambil meregang punggung atau mengangkat kaki terasa lebih nikmat, bahwa dengan gesekan guling orgasme bisa didapat.

Posisi tengkurap, terlen-tang, miring, duduk di kursi, bahkan berdiri sudah pernah kucoba. Telapak tangan, ujung jari, guling, bantal, kain lembut licin (semacam satin atau sutra), mug, atau es batu, pernah mengelus puting, membelai pinggang, menggelitik pantat, & menyentuh pusat kenikmatanku. Kupe-lajari juga kalau benda dingin lebih dapat membuat syaraf kenikmatanku lebih terbuka.

Pengalaman menarik ini tentu saja kubagi dengan gank-ku. Nisa & Neka cuma berani pakai guling. Nora, yang memiliki kegatelan sama denganku, menganjurkan Nisa & Neka untuk belajar menyentuh daerah kewanitaannya. & tanpa basa-basi, Nora mengajak kami berempat untuk melakukan pesta ‘self service’. Acara direncanakan Sabtu pagi, dirumah Nisa. Sabtu pagi kami berempat udah ada di rumah Nisa sekitar jam 7 pagi. Sebentar kemudian, mas bay (kakak Nisa) pergi, katanya mo maen tenis.

Setelah itu, Nisa menyiapkan kamarnya buat acara “have fun” kami berempat. Neka bilang kalau ia sedikit gemetaran. Sementara Nisa sibuk mengecek kunci pintu, menjaga agar pembantu tak masuk sembarangan. Atas usul Nisa, kami saling membuka baju satu sama lain sambil mem-bayangkan lelaki favorit kami yang melakukannya.

Nora mulai dengan melucuti baju, rok, & bra Neka, sementara akudan Nisa cekikikan menonton. Nampak sekali kalau Neka gemetar, sentuhan nakal Nora di puting membuat Neka beringsut mundur, lalu menolak untuk dilepas celana dalamnya. Lalu saya dapat giliran ditelanjangi oleh Nisa. Cuek saja, sambil memejamkan mata, saya nikmati sentuhan jari Nisa di pu-ting, pinggang, lalu pantat.

Setelah itu giliran Nisa ‘digarap’ Nora, yang dengan berani mengelus pangkal paha Nisa. Terakhir Nora yang kutelanjangi, lalu kubelai putingnya yang mulai berdiri, kucubit lembut putingnya, kuremas pantatnya. Pokoknya semua jenis sentuhan yang pernah kurasakan kupraktikkan ke tubuh Nora, yang nampaknya menyukainya.

Nora sempat memintaku untuk menyentuh kewanitaannya. Tapi karena risih, kutolak permintaannya. Berikutnya kami berempat masing-masing mencari posisi yang enak, kemudian terbang ke alam khayalan. Setelah melewati puncak, kulayangkan pandangan ke Nora, Neka, & Nisa. Ternyata saya termasuk paling cepat mencapai klimaks, sehingga saya sempat melihat gaya sahabat-sahabatku merangsang diri.

Satu persatu mereka mencapai puncak dengan gayanya sendiri-sendiri. Nora telentang, tangan kanan di pangkal paha tangan kiri mengusap dada. Neka telungkup menjepit bantal. Sementara Nisa duduk bersandar di tembok dengan kaki dilipat merangsang pangkal pahanya dengan kedua tangan.Setelah semua ‘sadar’, kembali kami saling bercerita kenikmatan kami, saling berbagi teknik belaian & informasi area ‘greng’, & tentu saja, saling becanda seperti biasanya.

Tiba-tiba terdengar suara gerbang dibuka. Kami mengintip melalui jendela. Ternyata mobil kakak Nisa (mas bay) masuk garasi. Sejenak kami kebingungan, tapi Nisa langsung menutup gordin. Jadi kami nggak usah buru-buru berpakaian.Sekonyong-konyong Nora punya ide gila. Teringat waktu engekspos dada di kelas, Nora usul untuk bikin acara semacem itu dengan sasaran kakaknya Nisa. saya langsung setuju.

Keinginan untuk dinikmati & dikagumi muncul kembali dalam dadaku. Nisa setuju dengan catatan ia nggak mau telanjang bulat. Neka setuju dengan syarat yang sama. Kalau aku, justru pengen nunjukin vagina-ku, apalagi kepada lelaki sekeren kakaknya Nisa. Lalu kami ngebahas gimana pelaksanaannya. Kata Nisa, setiap Sabtu kakaknya akan keluar sekitar jam 7 pagi buat latihan tenis, terus pulang sekitar jam 9 pagi.

Karena kamar Nisa di tepi jendela samping dekat garasi, kami punya kesempatan pamer pas mas bay lewat jendela hhabis masukin mobil ke garasi. Rencananya, jendela dibuka, tapi gordin ditutup dengan disisakan celah di tepi jendela buat ngintip. Posisi juga udah diatur, Nora di atas ranjang. saya di karpet di bawah, bersama Nisa.

Neka duduk di kursi belajar, membela-kangi jendela. ia sempat protes, entar nggak bisa liat expresi mas bay, dong. pemecahannya gampang, taruh cermin di atas meja belajar, biar bisa liat mas bay. Di karpet juga ditaruh satu cermin, kalo-kalau saya ato Nisa tiba-tiba malu terus pengen membelakangi jendela. Sebelum pulang, Nisa usul agar kami bawa kosmetik buat dandan sedikit, biar tambah cakep.

Nora & saya sepakat untuk mencukur vagina sehari sebelumnya, agar lebih keren & bisa kelihatan lebih jelas. & hari Sabtu berikutnya, jam 7 pagi kami udah standby di rumah Nisa. Kali ini agak lain. Semua terlihat nervous. Neka terlihat pucat, Nisa juga. Tanganku gemetaran. Maklum, ini pertama kalinya aerah paling pribadi kami berempat akan dilihat seorang pria.

Cuma Nora yang santai. ia juga yang ngajakin kami berempat untuk andi bareng biar fresh & keliatan seger. Jadilah kami mandi bareng. Ternyata bukan cuma saya & Nora yang mencukur bulu vagina, Neka & Nisa juga, padahal mereka rencana semula mereka nggak mau telanjang. Malu-malu, Neka bilang kalau aja berubah pikiran pengen pamer, ‘kan keren. Nisa idem. Habis mandi kami langsung dandan seperlunya, biar tambah cakep. Jam 8 lewat udah siap.

Kami berempat cuma pake baju atas plus celana dalam, rok & bra ditinggal. Nisa & Neka pake G string, biar bisa pamer pantat tanpa melepas celana. saya & Nora manas-manasin biar mereka mau copot celana juga. Entar nyesel lho. Jawabannya nyantai: entar deh gimana. Terus nungguin. Nisa membuka jendela, terus menutup gordyn, tak lupa menyalakan semua lampu yang ada.

Atas usul Nisa, sambil nunggu, kami mulai merangsang diri untuk pemanasan. Sesekali kami bergantian melongok ke jendela, mengecek apa “calon penonton” sudah datang.Jam 9 kurang sedikit terdengar suara pintu gerbang dibuka. saya & Nora melongok ke jendela, mastiin mas bay yang datang. Ternyata bener.

Aku buka gordyn sekitar 20 senti-an, terus lepas celana dalam & melepas semua kancing baju, lalu baring-baring di karpet. Nora udah telanjang bulat di atas ranjang sambil mengusap-usap putingnya. Nisa & Neka juga udah mulai. saya baring-baring santai sambil pelan-pelan membelai putingku.Seketika kemudian, mas bay lewat dan, pas sekali, menoleh ke arah kamar Nisa.

Aku pura-pura memejamkan mata, terus asyik dengan putingku. Pelan-pelan tanganku turun ke daerah paha. Mataku yang terpejam kubuka kecil, mau liat reaksi mas bay. Ternyata ia lagi liat ke arah Nora. Ah, sial bener. Ketika ujung jariku menyentuh clitorisku, secara refleks saya mengerang, ternyata menarik perhatian mas bay.

Dan… ia melihatku, tepat ketika saya membuka lebar kedua kakiku. saya tambah semangat. Dadaku berdegup kuat sekali. Pelan-pelan kutekuk kedua kakiku, lalu kuangkat pinggulku, agar vagina ku dapat dilihat lebih jelas. saya bersyukur dapat posisi di bawah, dekat jendela karena mas bay dapat langsung melihat ke arahku. saya naik turunkan pinggulku, sambil sesekali memi-cingkan mata mengintip mas bay yang nampak sekali menyukai show ku.

Dan acara itu ditutup dengan orgasme yang nggak akan kulupakan seumur hidupku: orgasme pertamaku didepan seorang pria!! Ketika kubuka mataku, tanpa sengaja tepat ketika mas bay melihat ke arahku. Mas bay tersenyum & mengacungkan jempolnya ke arahku. Wow… ia suka. Meski dalam hati saya merasa lega & bangga, tapi saya pura-pura tak melihat.

Aku pelan-pelan mengancingkan bajuku. Kedua kakiku masih kubiarkan teren-tang lebar, sambil berharap semoga mas bay melihat ke arah bagian tubuh-ku yang paling pribadi. Kulayangkan pandangan ke seputaran kamar. Ternyata, lagi-lagi saya yang pertama mencapai puncak. Tak lama menyusul Nisa dengan posisi terlen-tang & kedua kaki diangkat ke dinding.

Nora berikutnya, telentang di atas ranjang, kedua kaki diangkat. & terakhir Neka, si pemalu, yang dengan berani melorotkan celananya sampai sebatas paha & membungkuk ke arah meja. Vagina nya mengintip di antara sepasang pantatnya yang putih. Keliatan juga ia terus memandang ke arah cermin di atas meja, memperhatikan mas bay.

Setelah semua mencapai puncak, kulirik jendela, mas bay udah nggak keliatan lagi. saya tersenyum ke arah Nisa, lalu ke Neka, mengacungkan jempol tanda sukses. Nora tersenyum mantap, berbisik “sukses!”.Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari halaman. Kami berempat melongok ke jendela. Ternyata mas bay jatuh tersandung pot bunga.

Kami berempat tertawa cekikikan, yang membuat mas bay menoleh ke arah kami. Secara reflek kami berempat menutup dada dengan tangan. Tapi mas bay tersenyum ke arah kami, terus bilang percuma kami nutupin dada, soalnya ia tadi udah sempat lihat. Habis gitu ia minta maaf, katanya nggak sengaja liat acara kami.

Bagaimanapun juga, mas bay bilang kalau tubuh kami keliatan seger & menggemaskan. Terus ia permisi masuk rumah. Kami sekali lagi kami berempat saling pandang & tersenyum lega. Sukses. Apa lagi? orgasme udah dapat, pujian dari kakaknya Nisa juga dipero-leh.Nggak seberapa lama mas bay ngetuk pintu kamarnya Nisa.

Kami saling pandang. Mau apa? Buru-buru kami pake baju seadanya. Setelah dibukain pintu, mas bay nawarin vcd porno punya dia. Katanya biar kami tahu tubuh lelaki. Kami ketawa, terus bilang kalau Nisa udah pernah ambil vcd itu dari kamarnya mas bay. saya tambahin, kalau udah pernah, yang belum itu aslinya. Enggak taunya mas bay nanggapin serius, ia mau bantu kalau kami pengen liat lelaki telanjang. Kami cuma ketawa cekikikan, nggak berani mutusin.

Mas bay bilang kami boleh mutusin kapan aja, lalu ia pergi ke kamarnya. Terus kami tutup pintu kamar, ngebahas tawaran mas bay. Nisa nggak setuju kakaknya jadi obyek sexual. saya bilang nggak apa-apa, kami sama-sama saling lihat, jadi impas. Lagipula kakaknya kan keren, siapa tau aku, Nora, atau Neka entar bisa jadi pacarnya.

Nora & Neka setuju pendapatku. Jadilah. Nora jadi juru bicara. Kami rame-rame ke kamarnya, lalu minta mas bay buat njalanin tawarannya tadi. ia tertawa lalu bilang okey, sambil minta waktu buat mandi dulu, soalnya keringatan habis maen tenis. Mas bay mempersilakan kami masuk ke kamar-nya, biar lebih enak, katanya.Kami berempat duduk santai, nungguin mas bay mandi. Kami ngobrolin show kami yang sukses tadi. Neka banyak digojlok karena hari ini pertama kali ia mau menunjukkan vagina nya, bahkan dua kali, waktu mandi & show.

Nora sesekali mengintip ke kamar mandi & berkomentar wow keren… Habis mandi, mas bay keluar dengan lilitan handuk di pinggang-nya, rambutnya basah. Habis gitu ia duduk di karpet, ngajakin kami duduk di sekitarnya. Lalu ia cerita segala macam tentang lelaki.

Mulai dari apa yang disukai tentang cewek, apa yang diliat, kami jadi tau kalau lelaki itu suka yang bikin penasaran, kemampuan ejakulasi maksimal seorang lelaki, bagaimana membelai daerah paha & bokong lelaki untuk membuat ejakulasi makin kuat, supaya tak tersedak kami harus menaruh lidah di ujung penis ketika ia mau ejakulasi, dll.

Habis gitu ia nawarin kami untuk menyentuh tubuhnya. Mas bay terus nyuruh kami bergantian meraba dada & punggungya. Setelah kami semua dapat giliran, suasana agak cair. Kami mulai bisa cekikikan lagi. Terus Neka tanya, boleh lihat ‘itunya’ mas? Mas bay melepaskan handuknya, lalu membelakangi kami. Pelan-pelan ia menurunkan celana dalamnya, lalu berbalik ke arah kami. Dan… wow… pengalaman pertama melihat lelaki telanjang secara langsung.

Dadaku berdegup kencang. Tenggorokan langsung terasa kering. Keindahan otot tubuhnya, pantat yang kencang, warna pink bagian ‘kepala’ penis. Tak akan bisa terlupakan. Neka pura-pura tak melihat tapi sesekali mencuri pandang, Nisa cuek aja melihat kakaknya.Habis gitu mas bay ngajarin caranya bikin lelaki tegang anunya.

Mas bay meminta kami untuk membelai itunya. Langsung aja itunya mas bay berdiri. Kami pun cekikikan kembali. Berikutnya kami diajarin ciuman, french kiss, necking, lidah, dll. Kami bergantian ditraining mas bay, kecuali Nisa, cuman bisa liat aja. Habis ciuman kami ditunjukin gimana rasanya diraba-raba oleh lelaki. Prakteknya, kami diminta mas bay menghadap tembok seperti penjahat diperiksa polisi di film-film.

Aku dengan senang hati minta giliran pertama. Mas bay menyarankan untuk melepas baju seminim mungkin. Nora, Neka, & Nisa memberi semangat. Pelan-pelan kulepas penutup tubuhku satu persatu, tanpa ada yang tersisa. Lalu saya berbalik menghadap tembok & menyandarkan kedua telapak tanganku ke tembok.

Tangan mas bay mulai menggerayangi rambut, pundak, punggung, puting, pinggang, pan-tat, paha, kaki, termasuk daerah kewanitaanku. Kemudian saya disuruh duduk di kursi, lalu… oh my God… mas bay menggelitik daerah kewani-taanku dengan lidahnya! Tak tahan, saya orgasme dengan suksesnya. Kakiku sampai gemetaran merasakan nikmatnya.

Mas bay lalu bertanya apa ini pengalaman pertama diraba lelaki? Malu-malu saya mengakuinya. “Kirain udah biasa, hhabis shownya tadi hot bener”. kami cuma ceki-kikan. Satu persatu semuanya dapat giliran, termasuk Nisa. Satu persa-tu, kami diantar mas bay ke puncak birahi. Seolah tahu kalau kami suka dipuji, Mas bay mengomentari keindahan tubuh kami. Katanya bokongku paling bagus, montok, kenyal, dengan kulit halus & lembut.

Dia juga bilang kalau saya beruntung karena gampang terangsang & cepat orgasme. Toket Nisa paling sexy, putingnya yang tegak amat menggoda. Kaki Nora panjang, mulus, & indah, serta proporsi tubuh paling seimbang. & yang paling senang yaitu Neka, yang selain dibilang mas bay paling manis di antara kami berempat, juga dipuji vagina-nya paling rapat, montok, & menggemaskan.

Nora, aku, & Nisa sedikit iri dengan keberuntungan sahabat kami yang pemalu ini. Sementara Neka sedikit tersipu tapi kelihatan kalau ia menyukai pujian mas bay. Habis itu, Nora minta mas bay buat nunjukin air maninya. Ia ketawa, terus bilang kalian aja yang ngeluarin, sambil ngajarin kami metode untuk memaksa air mani keluar, dengan tangan atau mulut.

Kata mas bay, kami cuma dapat mencoba sebentar-sebentar, soalnya kalau udah terlanjur ejakulasi pasti lemes. Lalu mas bay duduk di kursi. Nora langsung minta giliran pertama. Ia berlutut di depan mas bay, langsung mengulum itunya mas bay. Lewat 10 menit, mas bay minta berhenti, hampir keluar katanya. Nora cuek & meneruskan, tapi kami bertiga protes, takut nggak keba-gian. Terus istirahat sejenak. Setelah itu giliran Nisa, cuma pakai tangan.

Terus Neka, juga cuma pake tangan. saya dapat giliran terakhir. Berlutut di antara kedua pahanya, saya mulai dengan membelai & meme-lintir pelan-pelan. Mas bay memejamkan matanya, keenakan. Kurasakan otot itunya mas bay menggelitik telapak tanganku. Mas bay bilang, diemut dong. Karena ragu-ragu, saya cuma berani mengecup kepalanya saja.

Rasanya asin. Beberapa ketika, mas bay bilang mau keluar lagi. saya cuek aja. Kugenggam itunya erat-erat & kunaik-turunkan tanganku. Dan… kura-sakan ada sesuatu yang bergerak cepat di saluran bagian bawah penis, dan… crut… cairan putih kental melejit beberapa kali dari ujung penisnya. Yang pertama menembak dadaku. Pinggul mas bay terangkat. Yang kedua, saking kerasnya, mengarah ke bibirku Mmm… terasa asin.

Mas bay terpejam, terlihat keenakan. Setelah selesai puncaknya, ia tersenyum & bilang terima kasih dengan lembut. Lalu mengambil tisu untuk mengelap dadaku & bibirku yang belepotan benihnya. Lalu mas bay nawarin untuk ngajarin kami bersetubuh, kalau kami berminat. Kami cuma celingukan. Neka terus tanya apa mahkota kami masih utuh jika udah pernah digituin.

Katanya mas bay, bisa ya bisa enggak. Nora yang biasanya nekat kali ini juga nggak berani mutusin. Kata mas bay, kalau kami udah siap, ia bisa bantu kapan aja. Habis gitu mas bay bilang mo istirahat soalnya capek. Di kamar Nisa, kami ngebahas pengalaman pertama kami tadi. Rame banget. Kataku, enak Nisa dong, serumah sama mas bay.

Nisa bilang, “Husy! ia kan kakak, paling cuma raba-raba ajah.” Langsung aja aku, Nora, & Neka bilang,

“Huuu. itu ‘kan enak juga!” Neka, dengan malu-malu, tanya apa mas bay udah punya pacar. Kalau belum, mau jadi pacarnya.

Aku nyautin, ijin dulu sama aku, saya udah pernah ngeluarin benihnya & bikin ia orgasme, jadi mestinya dapat prioritas.

Nora langsung protes, soalnya ia yang tadi minta mas bay nunjukin benihnya. Sementara Neka dengan optimis bilang mas bay pasti suka sama ia karena ia paling manis & vagina nya paling menggemaskan di antara kami berempat. Rame lah pokoknya. Akhirnya kami janjian kalau kami nggak bakalan memancing-mancing mas bay untuk dijadiin pacar, kecuali ia yang meminta sendiri.

Sahabat-sahabatku juga pada bertanya, gimana sih rasa cairan benih mas bay? Gimana rasanya membikin lelaki orgasme? saya tersenyum, terus bilang minggu depan atau besok ‘kan bisa coba sendiri, tinggal janjian sama mas bay. Dalam hatiku saya berkata yang ini biarlah untukku, akan kusimpan sendiri gurihnya rasa benihnya, rasa bangga mengantar lelaki ke puncak kenikmatan, & tatapan lembut mas bay ketika mengucap terima kasih.”Kegilaan” kami berempat ternyata tak membuat kami terhanyut. Buk-tinya kami masih bisa mempertahankan mahkota kami sampai lulus SMA. Setelah itu Neka & Nisa melanjutkan kuliah di kota yang sama.

Aku & Nora melanjutkan kuliah di kota M, & kadang melanjutkan penya-luran bakat genit kami berdua. (Kapan-kapan disambung lagi. Masih banyak yang pengen kuceritakan, terutama acaraku & Nora di kota M).

Related Post