Cerita Mesum

Mistery Gadis Tengah Malam

Bab 1

SEJAK tadi suara itu mengganggunya. Suara seorang perempuan yang penuh desah kemanjaan itu, seakan memanggil Norman beberapa kali. Dahi Norman berkerut, hatinya bimbang dengan pendengarannya. Menurutnya, tak
mungkin ada perempuan yang memanggilnya di tengah malam. Norman sengaja melupakan suara itu. Ia mendengar langkah kaki di depan kamarnya, tapi ia tahu itu langkah kaki Susilo, teman satu pondokan. Ia bergegas membuka pintu kamarnya dan memanggil Susilo yang hendak masuk ke kamar sebelah.
“Sus… jam berapa ini?” tanya Norman.
“Setengah satu kurang,” jawab Susilo sambil membetulkan celananya. Agaknya ia habis dari kamar mandi untuk buang air. Susilo justru berkata,
“Kau sendiri kan punya arloji, masa’ masih tanya aku?”
“Arlojiku mati! Eh, sebentar, Sus!” Norman keluar dari kamarnya, tidak sekadar melongokkan kepala. Ia mendekati Susilo yang berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri. Dengan nada herbisik Norman bertanya,
“Sus, kau tadi waktu ke kamar mandi melihat ada perempuan di sekitar sini?”
“Maksudmu?” Susilo berkerut dahi.
“Aku mendengar suara perempuan di samping kamar, la seakan memangil-manggil aku.”
“Perek. mungkin!” jawab Susilo seenaknya. Norman hanya mendesah.
“Aku serius, Sus. Dari tadi aku tidak bisa tidur karena mendengar suaranya.” Susilo berpikir sejenak, tubuhnya bersandar pada kusen pintu. Seingatnya, waktu ia ke kamar mandi, ia tidak melihat sekelebat manusia. Pondokan itu sepi. Maklum sudah lewat
tengah malam. Beberapa mahasiswa yang kost di situ kebanyakan sudah tidur. Kalau toh ada, mereka pasti di dalam kamar menekuni bukunya.
“Menurutku, kau hanya terngiang-ngiang cewekmu saja,” kata Susilo.
“Maksudmu, Arni? Ah, suara Arni tidak seperti itu.”
“Kalau begitu, kau hanya mendengar suara hatimu saja. Halusinasi! Ah, ngapain repot-repot memikirkan suara, kaukan bukan penata rekaman!”
Susilo masuk, menutup kamarnya. Norman mengeluh dalam desah napas tipis. Ia berhenti sejenak ketika mau masuk ke kamarnya. Matanya memandang sekeliling. Oh, pondokan itu amat sepi. Lengang. Denni yang biasanya masih memutar kaset sampai jauh malam, kali ini agaknya sudah tidur. Lampu di kamarnya telah padam. Lampu-lampu di kamar lain pun padam. Hanya ada dua kamar yang lampunya masih menyala, kamar Mahmud dan kamar Tigor. Mungkin mereka sedang menekuni materi ujiannya untuk besok. Tengkuk kepala meremang lagi, Norman bergidik. Badannya bergerak dalam sentakan halus. Karena, ketika ia masuk ke kainar dan hendak menutup pintu, ia mendengar suara perempuan dalam desah kemanjaan yang memanggilnya.
“Normaaan…! Normaaan….”
Lampu kamar Norman sengaja diredupkan. Ia menyalakan lampu biru 10 watt sejak tadi. Menurut kebiasaannya, tidur dengan nyala lampu biru yang remang-remang membuat kesejukan tersendiri dalam hatinya. Namun, kali ini, kesejukan itu tidak ada. Yang ada hanya kegelisahan dari kecamuk hati yang terheran-heran atas terdengarnya suara panggilan itu. Angin malam lewat. Desaunya terasa menerobos dari lubang angin yang ada di atas jendela kamar. Suara itu terdengar lagi setelah dua menit kemudian.
“Normaaan…! Datanglah…!”
Dengan berkerut-kerut dahi, Norman bangkit dari rebahannya.
“Suara itu seperti berada di luar jendela,” pikir Norman. Kemudian, ia mendekati pintu jendela. Ingin membuka jendela, tetapi ragu. Hatinya berkata, “Tidak mungkin ada perempuan di luar jendela. Dari mana ia masuk? Pintu pagar dikunci. Tidak mungkin ia memanjat pagar. Kalau memang ada perempuan yang memanjat pagar, itu nekat namanya.”
Kemudian, telinga Norman agak ditempelkan pada daunjendela. Tapi yang didengar hanya suara desau angin, gemerisik dedaunan. Kamar Norman memang kamar paling ujung dari sederetan kamar kost-kostan itu. Di samping kamar, di seberang jendela itu, adalah sebidang tanah yang biasa dipakai olah raga. Ada lapangan bulu tangkis, dan meja ping-pong yang jika malam begitu dalam posisi miring, menempel dinding kamar Norman. Tanah yang merupakan fasilitas olah raga itu dikelilingi oleh pagar tembok. Pada bagian atas pagar diberi kawat berduri sebagai penolak tamu tak diundang. Di seberang pagar tembok itu ada pohon rambutan milik tetangga belakang pondokan. Sebagian daun dan dahan pohon itu menjorok ke halaman pondokan, dan meneduhkan bagi mereka yang bermain pingpong jika siang hari.
Norman sudah tiga menit lebih berdiri di depan jendela, tetapi suara perempuan yang menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Maka, ia kembali ke pembaringan dan merebahkan badan.. Ia kelihatan resah. Batinnya bertanyatanya,
“Mengapa aku mendengar suara itu? Dan, sepertinya memang aku pernah mendengar suara itu. Suara siapa, ya?”
Ada gonggongan anjing dari rumah belakang pondokan. Gonggongan anjing itu mulanya hanya sesekali. Ditilik dari nada gonggongannya, anjing itu seakan sedang menggoda orang lewat.
Tetapi, gonggongan anjing itu lama-lama jadi memanjang. Mangalun mendayu-dayu mirip irama orang merintih kesakitan. Suara anjing itu menyatu dengan suara perempuan yang kian jelas di pendengaran Norman.
“Normaaan…! Norrr…! Lupakah kauuu…? Lupakah kau padaku, Norman…!”
Norman segera melompat dari pembaringannya, dan membuka jendela. Jantungnya berdetak-detak ketika wajahnya diterpa angin yang berhembus membawa udara dingin. Sekujur tubuhnya merinding. Matanya melebar, karena ia tidak menemukan siapa-siapa di luar jendela kamarnya.Padahal suara tadi jelas terdengar di depan jendela, seakan mulut perempuan itu ditempelkan pada celah jendela supaya suaranya didengar Norman. Tetapi, nyatanya keadaan di luar kamar sepi-sepi saja.
“Brengsek!” geram Norman. Ia menunggu beberapa saat,
sengaja membuka jendelanya, sengaja membiarkan angin dingin menerpa masuk ke kamar. Suara perempuan yang penuh desah menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Norman mengeluh kesal sambil duduk di kursi belajarnya. Ia menyalakan lampu belajar yang ada di meja kamar. Kamar menjadi terang. Cermin di depan meja belajar menampakkan wajahnya yang sayu. Pintu kamarnya tiba-tiba ada yang mengetuknya dengan lembut. Pelan sekali, seakan pe-ngetuknya sengaja hati-hati supaya suara ketukan tidak didengar penghuni pondokan yang lainnya. Norman melirik ke arah pintu. Membiarkan ketukan itu terulang beberapa kali. Lalu, ia mendengar suaraperempuan di seberang pintunya.
“Nor…? Normaaan…!”
“Siapa…?!”
tanya Norman dengan nada kesal, karena iatahu, bahwa suara perempuan yang mengetuk pintu kamarnya itu sama persis dengan suara yang mengganggunya sejak tadi. Tapi, karena tidak ada jawaban dari pengetuk pintu, Norman berseru lagi,
“Siapa sih?! Jawab dong!”
“Aku…!”
“Aku siapa?! Sebutkan!”
Norman sudah berdiri walau belum mendekat ke pintu.
“Kismi….”
Mata Norman jadi membelalak. Kaget.
“Kismi…?!”
desahnya dengan nada heran sekali. Ia mengenal pemilik nama itu, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau Kismi akan datang, apalagi lewat tengah malam begini. Norman pun akhirnya bergegas membukakan pintu setelah ia sadar, bahwa suara yang sejak tadi memanggilnya itu memang suara Kismi.
“Sebentar, Kis…!”
kata Norman, yang kemudian segera membukakan pintu.
“Hah…?!” Ia terperanjat dengan jantung berdetak-detak.
Di luar kamarnya, tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hanya hembusan angin yang dirasakannya begitu dingin dan membuat tubuhnya merinding lagi. Dalam keadaan bingung dan berdebar-debar itu, Norman masih menyempatkan diri berpaling ke kanan-kiri, mencari Kismi yang menurutnya bersembunyi. Tapi, tak terlihat bayangan atau sosok seseorang yang bersembunyi. Di kamar mandi? Tak mungkin. Kamar mandi terlalu jauh dari kamar Norman jika akan digunakan seseorang untuk berlari dan bersembunyi. Sebelum orang itu sempat bersembunyi, pasti Norman sudah melihatnya lebih dahulu.
“Kismi…?!”
Norman mencoba memanggil perempuan yang dikenalnya kemarin malam itu, tetapi tidak ada jawaban. Makin merinding tubuh Norman. dan semakin resah hatinya di sela debaran-debaran mencekam. Karena ditunggu beberapa menit Kismi tidak muncul lagi, bayangannya pun tak terlihat, maka Norman pun segera menutup pintu kamarnya dengan hati bertanya-tanya:
“Kemana dia?”
Mendadak gerakan penutup pintu itu terhenti. Mata Norman sempat menemukan sesuatu yang mencurigakan di lantai depan pintu. Aneh, namun membuatnya penasaran.
“Kapas…?!”
Hati semakin resah, kecurigaan kian mengacaukan benaknya. Segumpal kapas jatuh di lantai depan pintu. Sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin. Ada rasa ingin tahu yang menggoda hati Norman. Maka. dipungutnya kapas itu. Ketika tubuh Norman membungkuk untuk mengambil kapas, tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. Kapas itu bergerak, terbang. Masuk ke kamar. Gerakan kapas sempat membuat Norman yang tegang terperanjat sekejap. Pintu ditutup, dan kapas itu dipungutnya. Ia segera melangkah ke meja belajarnya, mencari tempat yang terang. Ia memperhatikan kapas itu di bawah penerangan lampu belajarnya.
“Apakah kapas ini milik Kismi?”
pikirnya sambil mengamatamati segumpal kapas yang kurang dari satu genggaman. Ada aroma bau harum yang keluar dari kapas itu. Bau harum itu mengingatkan Norman pada jenis parfum yang baru sekali itu ia temukan. Parfum yang dikenakan pada tubuh Kismi.
“Aneh?! Mengapa Kismi tidak muncul lagi?”
pikirnya setelah setengah jam lewat tak terdengar suara Kismi maupun ketukan pintu.
“Mengapa ia hanya meninggalkan kapas ini? Lalu, kapas untuk apa ini? Apakah Kismi sakit? Apakah ia hanya bermaksud mengingatkan kenangan semalam?”
Norman tertawa sendiri. Pelan. Ia kembali berbaring dengan jantung yang berdebar takut menjadi berdebar indah.Kapas itu  diletakkan di samping bantalnya, sehingga bau harum yang lembut masih tercium olehnya. Pikiran Norman pun mulai menerawang pada satu kenangan manis yang ia peroleh kemarin malam. Kisah itu, sempat pula ia ceritakan kepada Hamsad, teman baiknya satu kampus, dan Hamsad sempat tergiur oleh cerita tentang Kismi.

***
“Siapa yang mengajakmu ke sana?” tanya Hamsad waktu
itu.
“Pak Hasan! Mungkin dia ingin men-service aku, supaya
buku pesanannya cepat kukerjakan. Wah, tapi memang luar
biasa, Ham,” ujar Norman berseri-seri. “Perempuan itu
cantiknya mirip seorang ratu!”
“Kau yang memilih sendiri?” Hamsad tampak bersemangat.
“Bukan. Dia datang sendiri ke motel-ku. Kurasa, Pak Hasan
yang memesankan cewek itu untukku. Atau, barangkali
memang service dari motel itu sendiri, entahlah. Yang jelas,
dia datang di luar dugaanku. Tak lama kemudian, setelah kami
berbasa-basi sebentar, datang juga perempuan lain. Tapi,
kutolak. Aku lebih memilih perempuan pertama. Mulus dan
sexy sekali dia. Namanya, Kismi. Antik, kan?!”
“Terus…? Terus bagaimana?” desah Hamsad tergiur.

8
“Macan, Mack! Luar biasa romantisnya. Hebat. Baru kali ini
aku menemukan perempuan cantik yang punya daya rangsang
yang luar biasa! Tujuh malam bersama dia tanpa keluar dari
kamar, aku akan betah! Kurasa kau sendiri tidak akan sempat
mengenakan pakaianmu lagi kalau sudah bersamanya, Ham!”
Hamsad tertawa ngakak ketika itu. Ia benar-benar
terperangah cerita Norman. Khayalannya melambung tinggi
ketika Norman menceritakan detail kehebatan Kismi.
“Berapa anggaran untuknya?” tanya Hamsad dengan gaya
kelakar.
“Aku tidak tahu. Mungkin Pak Hasan-lah yang mengurus
soal itu. Antara pukul 4 atau 5 pagi, dia pamit. Dia tidak minta
bayaran padaku. Ketika kutanya tentang uang taksi, dia hanya
tersenyum, lalu pergi.”
“Kurasa dia perempuan panggilan kelas atas, Nor!”
“Menurut dugaanku juga begitu! Tapi, itu kan urusan Pak
Hasan. Aku mau tanya tentang tarif argo untuk perempuan
semacam Kismi, ah… nggak enak. Riskan.”
“Beruntung sekali kau mendapat service seperti itu!”
“Makanya konsekuensinya aku harus segera menyelesaikan
naskah pesanan Pak Hasan itu! Siapa tahu selesai itu aku
dibawanya ke motel tersebut. Kalau ke sana lagi, aku tidak
ingin mencari perempuan lain. Hanya Kismi yang kubutuhkan,
dan aku juga menghendaki Motel Seruni, tidak mau Motel
Mawar, Kenanga, atau yang lainnya. Karena, kenanganku
bersama Kismi yang pertama kali ada di Motel Seruni itu!”
***
Malam semakin mengalunkan kesunyian, dan kesunyian itu
sendiri menaburkan perasaan cemas. Sedangkan perasaan
cemas itu membawa desiran indah bagi sebaris kenangan
bersama Kismi. Bau harum dari parfum pada kapas semakin
menggoda khayalan Norman. Khayalan itulah yang
menumbuhkan rasa rindu, rasa ingin bertemu dan rasa ingin
bercumbu. Maka, Norman pun menggeliat dengan gelisah.
Darahnya dibakai’ oleh khayalannya sendiri. Nafsunya
menghentak-hentak jantung, menuntut suatu perbuatan nyata

9
dari birahi yang ada. Norman menjadi bernafsu sekali untuk
bertemu dengan Kismi.
“Kismiii…!” erangnya dari sebuah rintih dari kerinduan.
Dan, kerinduan itu akhirnya menjadi racun pada jiwa Norman.
Emosinya meluap, meletup-letup, bahkan tak bertakaran lagi.
Emosi itu bukan hanya sekadar luapan gairah bercinta saja,
melainkan kebencian, kemarahan, kesedihan, semuanya
bercampur aduk dan menyiksa jiwa Norman. Ia sempat
meremat bantalnya kuat-kuat dengan tubuh gemetar, lalu
ditariknya re-matan itu dan robeklah kain bantal. Isinya
berhamburan, diremas pula dalam suara yang menggeram.
Tubuh berkeringat, urat-urat menegang, gemetar dan ia
menggemeletukkan gigi kuat-kuat dengan mata mendelik.
Perubahan itu aneh sekali, namun tidak disadari oleh
Norman. Napasnya terengah-engah seperti orang habis lari
jauh. Matanya menjadi liar, ia menggeram beberapa kali,
bahkan mengerang seperti seekor monyet buas yang hendak
mengamuk.
Sementara itu, sisa kesadarannya sesekali tumbuh, dan
membuat Norman mampu meredam gejala anehnya itu. Ia
sempat bertanya dalam hati, “Mengapa aku jadi begini?
Mengapa aku benci pada diri sendiri?”
Masa kesadarannya hilang lagi, kembali ia dalam amukan
jiwa yang tak terkontrol. Ia mengamuk, berguling-guling di
ranjangnya. Tangannya mencakar-cakar kasur, membuat
seprei menjadi tercabik-cabik. Bahkan guling pun diremas,
digigitnya kuat-kuat bagai beruang lapar. Sampai beberapa
saat hal itu dilakukan di luar kesadarannya, kemudian ia
terkulai lemas sambil terengah-engah.
“Apa sebenarnya yang kualami ini…?! Oh, badanku sakit
sekali…!” keluhnya lirih, nyaris tanpa suara.
Plakkk…!
Norman terkejut. Tiba-tiba ia memukul kepalanya sendiri
dengan keras. Ia merasa heran, mengapa tangan kanannya
bergerak sendiri menampar wajahnya. Bahkan kini tangan

Baca Juga: Gairah Di Pesawat Terbang

10
kanan itu mengejang-ngejang, jarinya membentuk cakar yang
kokoh.
“Oh, kenapa tanganku ini?!” Norman menjadi tegang
dengan mata melotot, memandangi tangan kanannya. Hanya
tangan kanannya.
Tangan itu sukar dikendalikan. Norman ingin melemaskan
otot-ototnya, namun tidak berhasil Bahkan sekarang tangan
kanannya yang membentuk cakar itu bergerak ke atas.
Mendekati wajahnya. Norman melawannya, berusaha
mengendalikan gerakan itu, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba
gerakan tangan itu begitu cepat menghampiri wajahnya dan
mencakar wajah itu sendiri.
“Aaaow…!” Norman berteriak, namun tidak begitu keras,
karena hanya luapan rasa kagetnya saja. Ia masih
memandang tangan kanannya dengan mendelik. Tangan itu
terasa ingin bergerak lagi mencakarnya, dan Norman berusaha
melawan kekuatan yang ada pada tangan tersebut.
“Gilaaa…!”
Norman berteriak keras dan semakin ketakutan oleh
tangannya sendiri. Ia benar-benar panik dan tak mengerti,
mengapa tangannya bergerak di luar kemauannya?
***
Bab 2
Dari kamar Susilo, teriakan Norman itu terdengar tidak
terlalu keras, tapi jelas. Susilo yang belum tertidur nyenyak itu
menjadi curiga. Ia menelengkan telinganya, menyimak suara
dari kamar Norman. Dahinya berkerut menandakan perasaan
anehnya.
“Sinting dia. Hampir pukul dua pagi masih teriak-teriak
juga. Ada apa sih?” gerutu Susilo sendirian. Suara gaduh dari
kamar Norman itu benar-benar mengganggunya, sampaisampai
ia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang.
Untuk melangkah keluar dari kamar. Susilo ragu-ragu. Ia
masih menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang

11
bergelut mengalahkan sesuatu. Mulanya Susilo menyangka
Norman sedang membawa perempuan masuk ke kamarnya,
namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Norman
itu tidak mirip seseorang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi
lebih mirip seseorang yang sedang bertengkar.
Prang…!
Suara di kamar Norman semakin jelas. Berisik dan gaduh.
Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya
sempat membuat Susilo tergerak kaget.
“Aneh. Kenapa aku jadi merinding?” gumam Susilo sambil
melangkah mendekati pintu. Ia bermaksud mengingatkan
Norman agar tidak menimbulkan suara gaduh yang
mengganggu, tapi hatinya menjadi bimbang, dan ia berdesir
merinding saat hendak membuka pintu.
Brak…! Prang…!
Sekali lagi kamar Norman bagai mengalami gempa.
Agaknya sesuatu telah membuat kamar itu menjadi porakporanda.
Susilo pun akhirnya keluar dari kamar. ,
“Astaga…!” Susilo terpekik tertahan. Jantungnya berdesir
ketika ia melihat sosok manusia berdiri di depan pintu
kamarnya. Untung saja ia tidak menjerit, karena ia buru-buru
menyadari bahwa sosok manusia itu adalah Denny.
Sambil membungkus badannya dengan selimut, Denny
memandang pintu kamar Norman dan melangkah mendekati
Susilo. Ia bertanya pelan,
“Ada apa dia? Ngamuk sama siapa sih?”
“Mana aku tahu?” Susilo menjawab dengan bisikan.
Yoppi keluar juga dari kamarnya yang berjarak dua kamar
dari kamar Norman. Ia bergabung dengan Denny dan Susilo,
di depan kamar Susilo.
“Berkelahi dengan siapa si Norman?” tanya Yoppi. Ia
mengerjap-ngerjapkan mata karena terbangun dari tidurnya.
“Tadi ia menanyakan tentang perempuan,” kata Susilo. “Ia
mengaku mendengar suara perempuan memanggilnya.”

12
“Perempuan?!” Alis Yoppi yang tebal hampir menyatu
karena heran. Tangan Yoppi menggaruk-garuk pinggang
sambil masih mengerjap-ngerjap pertanda masih mengantuk.
“Wah, gawat. Jangan-jangan dia membawa masuk perek,”
kata Denny. “Kalau ketahuan ibu kost, nggak enak kita!”
“Atau, siapa tahu ia berkelahi dengan pencuri?” kata Yoppi.
Kemudian, Susilo memberanikan diri mengetuk pintu kamar
Norman. “Nor…?! Nor, ada apa sih? Sudah lewat malam ini,
Nor!”
Jawaban yang ada hanya suara Norman yang menggeramgeram
seakan sedang mengalahkan sesuatu. Ketiga teman
kost itu menjadi cemas dan makin curiga. Yang menambah
mereka cemas ialah suara Norman dalam satu teriakan rasa
sakit.
“Aaaow…! Uh, uh… uh… hiaaah…!” suara itu sangat jelas.
“Dobrak saja pintunya,” kata Denny kepada Susilo dan
Yoppi yang berusaha menggedor pintu kamar Norman.
“Sialan! Aku jadi merinding sendiri. Aku mencium bau
wangi,” kata Denny.
“Aku juga mencium bau parfum enak,” sambung Yoppi.
“Kurasa benar. Norman memasukkan perek ke dalam
kamarnya.”
Itulah yang membuat mereka ragu-ragu. Mereka tidak
tahu, bahwa di dalam kamar Norman sedang berusaha
mengalahkan gerakan tangan kanannya yang sepertinya
bernyawa sendiri itu. Tangan kanan itu sudah ditekan matimatian
menggunakan tangan kiri, namun gerakannya masih
belum bisa dikendalikan. Tangan itu seolah-olah sosok
makhluk tersendiri yang bergerak memukuli wajah Norman
sendiri. Bahkan, ketika tangan kanan itu bergerak sendiri
mengambil gunting, Norman berusaha menariknya. Tapi,
tenaga Norman yang telah digerakkan kekuatan penuh itu
tidak mampu menarik tangan kanan yang hendak memegang
gunting. Tangan tersebut seakan mempunyai kekuatan yang
lebih besar dari seluruh kekuatan tenaga Norman sebenarnya.

13
Lalu, ketika gunting itu telah digenggam oleh tangan kanan
secara kokoh, tiba-tiba gerakan tangan kanannya itu melesat
ke arah dada. Norman menjerit kesakitan, karena ujung
gunting itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah
mulai mengucur keluar dan Norman masih terengah-engah
melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang
menggenggam gunting itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh
Norman sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi. Norman
berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang
dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Gunting itu
bergerak sendiri ke arah dada Norman. Pada waktu itu
Norman tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha
memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampaisampai
ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik
tertentu, gunting itu berhasil mengenai perutnya. Jubbb…!
“Aaaow…!” teriaknya. Rasa sakit membuat ia makin
mendelik. Tapi beruntung sekali gunting itu tidak masuk
terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung gunting.
Brakkk…! Pintu berhasil didobrak oleh Denny dan Susilo.
Ketigji orang itu terbelalak tegang melihat Norman berusaha
menikam tubuhnya dengan gunting. Mereka menyangka
Norman hendak melakukan bunuh diri, sehingga Denny pun
berteriak,
“Jangan gila kau, Norman!”
“Cegah dia! Dia mau bunuh diri!” seraya berkata begitu
Yoppi mendorong kedua temannya, dan Susilo serta Denny
segera berusaha menyergap Norman. Saat itu Norman
menyadari kehadiran ketiga temannya, tetapi ia tidak bisa
mengendalikan gerakan tangan kanannya.
“Pergi! Jangan dekati aku, nanti kalian celaka…!” teriak
Norman.
Gunting itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak
menusuk ulu hatinya. Norman mengerahkan kekuatannya,
otot lengannya tampak bertonjolan. Namun, bagi mereka yang
tidak tahu, Norman disangka sedang ragu-ragu untuk
menusukkan gunting ke dalam tubuhnya.

14
“Lepaskan gunting itu! Lepaskan!” teriak Denny. “Jangan
picik kau, Norman…!”
Denny berusaha merebut gunting di tangan kanan Norman,
tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak
di luar kontrol kesadaran Norman. Gunting itu mengibas cepat
dan mengenai lengan Denny.
“Aaaow…!” pekik Denny kesakitan.
“Menjauh! Kalian menjauh dari aku. Ohw… aku tidak bisa
mengendalikan tangan ini!” teriak Norman sambil berusaha
mengekang gerakan tangan kanannya.
“Sergap dari belakang!” teriak Yoppi dalam kepanikan.
Maka, Susilo pun berusaha menyergap Norman dari
belakang. Tetapi, sebelum Susilo berhasil mendekap tubuh
Norman, tubuh itu berputar terbawa gerakan tangan
kanannya. Gunting terarah lurus ke depan, sementara tangan
kiri Norman masih memegangi tangan kanannya untuk
menahan gerakan misterius itu.
“Aaaow…! Kau melukaiku, Nor…!” teriak Susilo yang
berhasil tergores dadanya oleh kibasan gunting tajam itu.
“Aku tidak bisa menahan gerakan tanganku! Oh…. Tolong!
Lekas tolong akuuu…!”
Norman mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan
tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha
semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang
kini kembali mengacungkan gunting ke arah dadanya.
“Pukul dia biar pingsan!” teriak Yoppi, namun ia sendiri tak
berani maju setelah melihat Susilo dan Denny berdarah karena
terkena gunting tersebut.
“Dia kemasukan setan!” pekik Denny yang berlari ke arah
pintu.
“Tolong…! Aaaoh… tolong aku… hiaaah…!” Norman
berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya.
Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan, “Aaahg…!”
“Normaaan…!” teriak Susilo di puncak kepanikan.
Norman membelalakkan mata dalam keadaan berdiri
dengan lutut menghadap ke arah ketiga temannya. Tubuhnya

15
menjadi kejang sesaat, karena waktu itu gunting telah berhasil
menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya,
tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke manamana.
Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan
darah sendiri hingga tampak mengerikan.
Denny diam tak bergerak. Shock. Susilo berteriak-teriak tak
karuan dengan mata berkaca-kaca, tak tega menyaksikan
keadaan Norman. Sementara itu, Yoppi berlari dengan panik
menggedor setiap pintu kamar sambil berteriak-teriak
mengagetkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.
“Norman bunuh diri…! Norman mati bunuh diri…!” seru
Yoppi dengan suara tak tanggung-tanggung lagi kerasnya.
Perlahan-lahan tubuh Norman limbung. Tangan kanannya
masih memegangi gunting yang menikam jantungnya sampai
ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai
melemas bersama gerakan limbung tubuh Norman. Lalu, ia
pun tergeletak di lantai yang banjir karena darah. Matanya
masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir di
depan Denny. Semakin shock Denny menyaksikan kengerian
itu, semakin pucat sekujur tubuhnya. Ketika teman-teman satu
pondokan menghambur ke kamar Norman, Denny jatuh
terkulai tak sadarkan diri.
Lalu, menyebarkan berita tentang kematian Norman.
Semua mulut mengatakan, Norman mati bunuh diri. Hamsad,
sebagai teman dekat Norman yang pernah tinggal sekamar
dengan Norman, merasa tak yakin jika Norman sampai bunuh
diri. Dalam rona kesedihan yang dalam, Hamsad menjelaskan
kepada mereka,
“Tiga bulan aku pernah tinggal sekamar dengannya, dan
aku tahu kekerasan hatinya Norman bukan pemuda cengeng.
Norman cukup tangguh dalam menghadapi kesulitan apa pun.
Tak mungkin rasanya jika ia mati bunuh diri.”
“Tapi, aku melihat sendiri saat ia menikamkan gunting itu
ke arah dadanya,” kata Yoppi meyakinkan.

16
Hamsad menghempaskan napas dukanya. Kemudian, ia
berkata dengan pelan, “Pasti ada sesuatu yang tak beres pada
dirinya.”
Tiga hari setelah jenazah Norman dimakamkan di kota
asalnya, para penghuni pondokan itu masih ramai
membicarakan tentang kematian Norman. Salah satu di
antaranya ada yang berpendapat, Norman melakukan hal itu
karena ada masalah dengan Arni.
“Mungkin ia takut menghadapi Arni. Mungkin Arni hamil
dengannya,” tutur Bahtiar kepada teman-temannya yang
meriung di depan kamar Yoppi. Saat itu, Hamsad juga ada di
situ dan menyimak beberapa kemungkinan dari mereka.
“Aku juga punya praduga begitu,” kata Denny. “Tetapi, aku
telah menghubungi Arni secara pribadi, dan menanyakan hal
itu.”
“Lalu, apa kata Arni?” tanya Yoppi.
“Dia mengaku belum pernah dijamah Norman. Dan,
memang kenyataannya mereka baru taraf saling menaksir
saja. Belum berpacaran mutlak, kan?”
Yang lainnya manggut-manggut. Mereka memang tahu,
bahwa Norman sedang naksir Arni, mahasiswi seni tari itu.
Mereka juga tahu, bahwa Arni sedang mempertimbangkan
untuk menerima kehadiran Norman. Maka, mereka pun
sepakat, bahwa praduga tentang kehamilan Arni adalah tidak
benar.
Susilo yang sejak kematian Norman menjadi orang bego.
banyak melamun, sering terbengong-bengong di depan
kamarnya, kali ini ia mulai ikut bicara.
“Beberapa menit sebelum almarhum meninggal,” kata
Susilo. “Ia sempat keluar dari kamar. Waktu itu, aku habis dari
kamar mandi. Almarhum menanyakan tentang suara
perempuan.”
Semua mata tertuju pada Susilo. Bahtiar bertanya pelan
ketika Susilo mengatur pernapasannya. “Suara perempuan
bagaimana?”

17
“Almarhum Norman mendengar suara perempuan
memanggil-manggilnya. Dan, mencari keluar kamar, lalu
berpapasan denganku.”
“Kau sendiri mendengar suara perempuan itu?” tanya Ade,
yang kamarnya dekat kamar mandi.
“Tidak,” jawab Susilo sambil menggeleng. “Aku tidak
mendengar suara apa-apa. Tetapi, sebelum kudengar suara
gaduh dari kamar Norman, aku sempat mendengar Norman
seperti bicara dengan seorang perempuan. Aku mendengar ia
menyebut namanya.”
“Kau masih ingat nama yang disebutkan Norman?” tanya
Yoppi.
Susilo mengangguk dalam tatapan mata menerawang. Lalu,
ia berkata pelan, “Kismi…!”
Hanya Hamsad yang terperanjat ketika itu. Yang lain masih
tertegun tak mengerti maksudnya. Tetapi, Hamsad yang sejak
tadi menyimak pembicaraan dan pendapat dari mereka, kali ini
bagai ada sesuatu yang menusuk punggungnya, hingga ia
menegakkan badan.
“Kismi…?!” tanyanya kepada Susilo yang tertegun
dibungkus duka.
“Ya, Kismi…! Kupikir…, Norman menyuruh perempuan
menciumnya. Tetapi, setelah kupikir-pikir, ternyata dia tidak
menyuruh perempuan menciumnya, melainkan menyebutkan
nama perempuan itu. Kismi.”
“Kau yakin begitu?” desak Denny.
Susilo mengangguk. “Ada rangkaian kata lain ketika ia
mengatakan Kismi. “Sebentar, Kis…? Itu katanya. Setelah itu,
ia membuka pintu, dan memanggil nama Kismi, sepertinya
mencari-cari perempuan itu.”
“Ah, mungkin kau memang salah anggapan,” ujar Bahtiar
menyangsikan.
Hamsad buru-buru menyahut, “Tidak! Sus benar. Norman
memang pernah bercerita padaku tentang Kismi, perempuan
yang dikenalnya di sebuah motel.”

18
“Ooo… jadi, Norman punya cewek baru yang namanya
Kismi? Begitu?” ujar Denny.
Kemudian, Hamsad menceritakan apa yang pernah
diceritakan Norman kepadanya. Ketika itu, mencuatlah
praduga baru dari mulut Bahtiar,
“Kalau begitu, dia punya problem dengan Kismi, sehingga
ia nekat bunuh diri!”
Sejenak suasana menjadi hening, karena masing-masing
menekuni analisa dalam benaknya. Beberapa saat setelah
keheningan itu mencekam, Denny berkata dengan nada
sedikit menggeram,
“Aku akan menemui Kismi! Aku merasa ditantang untuk
mengejar misteri kematian Norman, karena teman kita yang
malang itu sempat melukaiku dan menikam dirinya sendiri di
depanku, di depan kau, dan kau juga Yoppi,” seraya Denny
menuding Susilo dan Yoppi.
“Kalau ingin mencari dia, datanglah ke motel itu. Kurasa
bagian front-office pasti mengenal nama Kismi!” ujar Hamsad.
“Hostes itu menurut Norman termasuk hostes eksklusif, yang
mungkin biaya pemakaian semalam sama besarnya dengan
uang semestermu!”
Denny merasa berhutang budi kepada Norman, karena dulu
ketika ia sakit, membutuhkan sumbangan darah, Norman-lah
yang mendonorkan darahnya secara sukarela. Dan, kali ini,
Denny ingin melacak penyebab kematian Norman yang
menurutnya punya keganjilan semu. Denny yakin, pasti ada
tabir misteri di balik kematian Norman. Barangkali juga ada
hubungannya dengan perempuan malam yang bernama Kismi.
Atau setidaknya Denny bisa memperoleh informasi dari Kismi
tentang benar dan tidaknya pada malam itu Kismi datang ke
pondokan mereka.
Uang bukan masalah bagi Denny, karena ia memang
berlimpah uang. Ayahnya direktur sebuah bank ternama di
ibukota, dan Denny sendiri punya simpanan di beberapa bank.
Sebenarnya, ia bisa hidup dari uang simpanannya itu. Tak
perlu kuliah, ia sudah bisa memperoleh pekerjaan. Tetapi,

19
ayahnya punya gengsi tinggi, sehingga anaknya dipaksa harus
memperoleh gelar sarjana penuh yang kelak akan dikirim ke
Amerika untuk memperdalam study bidangnya. Kalau saja
Denny mau, tahun-tahun kemarin ia sudah kuliah di Amerika.
Tapi, Denny belum punya niat untuk ke sana, karena ia
merasa malu jika ke Amerika hanya modal ijazah SMA saja. Ia
harus punya modal khusus sebelum ia meraih gelar doktoral di
Amerika.
Denny datang ke motel itu bersama Hamsad, sebab
Hamsad punya dendam tersendiri atas ke-matian Norman,
sebagai teman dekatnya yang sudah dianggap saudara
sendiri. Mereka berdua berlagak menjadi tamu yang ingin
menyewa dua tempat di motel itu.
“Hanya tinggal satu kamar, Bung,” kata bagian front-office
kepada Denny. “Maklum, malam minggu begini, biasanya
harus bocking dulu sehari atau dua hari sebelumnya.”
Denny memandang Hamsad, seakan meminta
pertimbangan. Lalu, Hamsad berkata kepada petugas
tersebut,
“Tinggal satu, tapi yang sebelah mana, Bung?”
“Agak jauh dari pantai. Hm… ini, di kamar Melati.” Petugas
itu menunjuk pada denah dalam brosur.
“Bagaimana dengan kamar sampingnya? Motel Seruni ini?”
Sejenak tak ada jawaban dari petugas tersebut. Denny
menimpali pembicaraan itu,
“Apakah Motel Seruni juga sudah di-bocking orang?”
“Belum. Tapi…,” petugas front-office sedikit ragu. Tapi,
karena Denny memandangnya dengan kerutan dahi pertanda
merasa aneh, maka petugas itu pun melanjutkan katakatanya,
“Kamar itu jarang ada yang mau memakainya.”
“Kenapa?” desak Hamsad.
“Tempatnya kurang nyaman. AC-nya sering macet, dan
saluran airnya kadang tersumbat. Hm… belakangan ini
memang tidak kami tawarkan kepada tamu, sebab kami belum
sempat membetulkan beberapa kerusakannya. Tapi, kalau

20
Bung mau, bisa saja. Di sana juga ada kipas angin, kalaukalau
AC tidak berfungsi.”
“Oke!” jawab Hamsad tanpa meminta persetujuan Denny.
Tapi, kami perlu teman. Kalau ada… tolong panggilkan yang
bernama Kismi.”
“Kismi…?!” petugas itu bingung. “Di sini tidak ada yang
bernama Kismi. Mungkin Bung salah nama.”
***
Bab 3
Jawaban petugas dianggap hal yang wajar. Pada umumnya
mereka saling berlagak tidak mengenal perempuan panggilan,
tidak menyediakan hostes, tidak menyediakan wanita
penghibur, dan semua itu hanya kamuflase saja. Den-ny dan
Hamsad sudah tidak heran lagi. Mereka tetap menempati
kamar-kamar yang telah dipesan. Kamar-kamar itu merupakan
sebuah bangunan tersendiri, berbentuk semacam rumahrumah
penduduk yang satu dengan yang lainnya terpisah.
Bangunan-bangunan tersebut tidak memakai nomor,
melainkan memakai nama bunga. Dalam setiap rumah motel,
terisi beberapa perabot rumah tangga, terdiri dari satu ruang
tamu, satu ruang tidur berukuran besar, dapur, dan kamar
mandi.
“Kau di kamair mana? Melati atau Seruni?” tanya Hamsad
kepada Denny.
“Aku di Seruni saja. Tapi, bagaimana dengan Kismi? Kalau
mereka tidak bisa menyediakan perempuan itu, kita sia-sia
bermalam di sini!”
“Bisa kita atur lewat telepon, nanti. Biar aku yang bicara.”
“Kau sendiri mau pakai dia?” tanya Denny.
“Pakai dan tidak itu urusan nanti. Tapi, kalau Kismi sudah
datang, segera kau telepon aku melalui kamarmu. Kita akan
bicara bertiga, siapa tahu bisa menyimpulkan sesuatu yang
berguna. Aku sendiri tidak perlu perempuan lain. Aku hanya

21
ingin bertemu dengan Kismi, ingin melihat seperti apa
perempuan itu.”
Mereka masuk ke motel itu memang sudah malam. Pukul 8
mereka memesan kamar tersebut. Letaknya berseberangan.
Masing-masing mempunyai bangku taman di bawah payung
berwarna-warni.
Telepon di kamar Denny berbunyi. Hamsad yang
menghubunginya. Kata Hamsad kepada Denny,
“Aku sudah paksa petugas itu untuk mengirimkan
penghibur hangat yang bernama Kismi. Kukirimkan ke
kamarmu. Den.”
“Apa katanya, Ham?”
“Yah… mereka mau usahakan. Tapi, mulanya mereka
ngotot dan tetap tidak mengaku mempunyai ‘anak buah’ yang
bernama Kismi. Lalu. kubujuk mereka, kucoba untuk
mencarinya, dan akhirnya mereka suruh kita menunggu, ha ha
ha…,” Hamsad tertawa.
“Agaknya Kismi perempuan yang cukup eksklusif,” kata
Denny dalam tersenyum. “Mungkin tidak semua orang bisa
menemui Kismi, Ham. Kurasa tarifnya jauh di atas yang lain.”
‘Itu kan bisa diatur,” kata Hamsad dalam nada kelakar.
Suara debur ombak terdengar, karena memang motel itu
dibangun di kawasan pantai. Adakalanya hembusan angin kian
bergemuruh, seakan menyatu dengan deru ombak memecah
karang.
Di dalam kamarnya, Denny mulai gelisah. Sudah pukul 11
malam, tak ada perempuan yang datang. Hamsad sempat
mendatangi kamar Denny, karena berulangkah ia menelepon
Denny dan menanyakan perempuan pesanannya, Denny
selalu menjawab, “Belum datang.” Mungkin karena rasa
penasaran yang menggelitik, maka Hamsad pun datang ke
kamar Denny itu. Dan, ia membuktikan sendiri bahwa di
kamar itu Denny sendirian, tanpa teman wanita yang
diharapkan.
“Aku sudah menghubungi resepsionis, dan menurutnya
Kismi sedang dijemput,” kata Hamsad. “Bersabarlah.”

22
“Yang harus bersabar aku atau kamu? Kulihat kau yang
kelihatan nggak sabar lagi, Ham,” kata Denny seraya tertawa
pelan.
Hamsad kembali ke kamarnya: kamar Melati. Rupanya ada
satu keisengan yang ia lakukan di kamarnya itu. Tak jauh dari
kamarnya, terdapat kamar motel lain. Kamar Mawar. Di kamar
itu, agaknya penghuninya tidak menyadari kalau lampu terang
di dalamnya menampakkan sebentuk bayangan dari luar
kamar yang gelap. Dari jendela dapur, Hamsad
memperhatikan ruang tidur yang terang di kamar Mawar itu.
Karena di sana tampak gerakan-gerakan dua orang yang
bercumbu dalam bentuk bayangan. Dari kamar Denny,
bayangan itu tak akan terlihat. Tapi, dari kamar Hamsad
bayangan dua makhluk bercumbu di atas ranjang itu terlihat
jelas.
Denny sendiri asyik menikmati acara TV Malaysia yang
menyajikan film kesukaannya. Ia tidak begitu menghiraukan
apakah wanita pesanan itu akan hadir atau tidak. Ia juga tidak
bertanya-tanya dalam hati: mengapa sampai larut malam
perempuan itu belum muncul? Yang ada dalam pikiran Denny
saat itu adalah rangkaian cerita film detektif yang menjadi
kegemarannya.
Pukul 12 malam lewat dua menit, tiba-tiba TV menjadi
buram. Seolah-olah salurannya terputus. Layar TV
menampakkan bintik-bintik seperti semut sedang kenduri.
Saat itu, barulah Denny menyadari tujuan semula. Ia
melirik arlojinya dan mendesah. TV dimatikan, ia berbaring
sambil mulai menerawang pada masa-masa kematian Nomian.
Bayangan tubuh Norman yang bermandikan darah
terpampang kembali dalam benaknya. Bergidik badan Denny
mengingat kengerian itu. Meletup emosinya, ingin mengetahui
penyebab kematian Norman.
Debur ombak terdengar samar-samar di sela siulan angin
pantai. Kali ini, hembusan angin itu terasa cukup aneh. Denny
sesekali berkerut dahi, karena suara angin yang berhembus itu
menyerupai lolong serigala menelan malam. Hati Denny

23
menjadi gelisah, ada debaran-debaran aneh yang ia rasakan
ganjil. Tanpa ada sesuatu ia bisa mengalami debaran, dan ini
adalah hal yang aneh baginya. “Ada apa?” batinnya pun
bertanya demikian.
Gagang telepon diangkat. Denny bermaksud menghubungi
Hamsad, karena makin lama ia merasa semakin merinding dan
berperasaan resah. Namun, baru saja ia hendak menekan
nomor telepon kamar Melati, tahu-tahu terdengar suara
ketukan pintu yang lembut.
Denny berhenti spontan dari segala geraknya, ia ingin
menyimak suara ketukan pintu itu. Ternyata, untuk kedua
kalinya pintu itu terdengar lagi diketuk. Lembut. Sopan. Pasti
bukan Hamsad, pikir Denny.
Ia bergegas turun dari ranjang berkasur empuk dan
berseprei halus lembut. Ia merapikan rambutnya sesaat,
kemudian segera membukakan pintu.
“Selamat malam,” sapa seorang perempuan yang memiliki
sepasang mata indah dan bibir yang sensual.
“Malam…,” jawab Denny sambil merasakan debar-debar di
dadanya. Ia sedikit gugup, karena baru kali ini ia melihat
perempuan cantik yang memiliki nilai kecantikan luar biasa.
Sungguh mengagumkan dan menggairahkan.
“Anda yang bernama Kismi?”
“Benar. Anda yang membutuhkan saya, bukan?” kata Kismi
dengan suara serak-serak manja. Lalu, ia melontarkan tawa
yang pelan namun memanjang.
“Kupikir kau tak akan datang. Kupikir malam ini kau ada
kencan dengan boss lain,” kata Denny memancing diplomasi.
“Tidak semua orang bisa kencan denganku. O, ya… siapa
namamu?”
“Denny.”
Kismi tertawa lagi. Pelan dan pendek. Denny berkerut dahi
sedikit dan bertanya, “Kenapa tertawa?”
“Namamu seperti nama bekas cowokku yang dulu. Tapi,
wajahnya jauh lebih tampan wajahmu dan aku yakin hatinya

24
lebih lembut darimu,” kata Kismi seraya meletakkan tas kecil
yang tadi tergantung di pundaknya.
“Kau mau minum apa? Bir?” tanya Denny seraya membuka
kulkas yang telah penuh dengan-minuman dan buah-buahan.
“Aku biasa air putih, yang lainnya tidak,” kata Kismi.
Kemudian, Denny mengambilkan air putih untuk Kismi.
Malam melantarkan keheningan yang romantis. Tetapi, bagi
Denny, malam itu bagai malam yang penuh teka-teki indah.
Malam itu terasa menghadirkan sesuatu yang meresahkan dan
membuatnya merinding, tetapi penuh dengan buaian mesra
dari sang sepi. Tak henti-hentinya Denny menatap Kismi yang
memang mempunyai nilai kecantikan dan lekuk tubuh
sintalnya yang eksklusif. Ia mirip seorang ratu. Hadir dengan
mengenakan gaun longdres putih berenda-renda pada bagian
perut dan lehernya. Bau parfumnya sangat halus dan lembut.
Enak dihirup beberapa saat lamanya. Rambutnya yang
disanggul, sehingga tampak lehernya yang jenjang itu berkulit
kuning langsat, bagai menantang untuk dikecup. Bibirnya yang
sensual itu pun sesekali membuat hati Denny deg-degan
karena menahan gejolak nalurinya yang masih ingin
dikendalikan.
Longdres putih itu terbuat dari bahan semacam sutra tipis,
sehingga begitu membayang jelas lekuk tubuhnya yang sexy
di balik gaun itu. Berulangkah Denny menelan air liurnya
sendiri. Ia lebih suka bungkam sambil menikmati kecantikan
yang luar biasa itu ketimbang harus bicara panjang lebar.
“Mengapa diam saja?” tegur Kismi yang sudah duduk di
pembaringan, sementara Denny duduk di meubel dekat
ranjang, menatap Kismi tak berkedip. “Untuk apa kau kemari
kalau hanya memandangiku? Kau rugi waktu lho.”
“Jadi…. Jadi apa yang harus kuperbuat, menurutmu?”
Denny masih sedikit kikuk dan menggeragap karena ia bagai
dibuai oleh keindahan yang tiada duanya.
“Apa perlumu kemari?” tanya Kismi. Denny jadi bingung
menjawabnya. Sepertinya ada suatu kekuatan magis yang
membuat Denny lupa segala-galanya dan hanya memikirkan

25
keagungan seraut wajah cantik yang siap menyerahkan diri
padanya.
“Kau baru pertamakan kemari, bukan?” Kismi mendekat
sambil menyentil hidung Denny. Pemuda berwajah halus dan
bersih itu hanya mengangguk. Kismi menyambung lagi,
“Kau bisa penasaran dan ketagihan lho kalau bermalam di
sini bersamaku.”
“Apakah banyak yang… yang seperti itu? ‘Hem…
maksudku, apakah banyak yang ketagihan padamu?”
Kismi mengangguk, lalu berkata, “Tapi tidak semua
kulayani. Aku pilih-pilih jika harus mengulang kemesraan
dengan mereka. Memang ada yang kulayani lagi, tetapi hanya
satu-dua.”
“Termasuk aku?”
“Mana aku tahu. Kita belum saling menukar kenikmatan,
bukan?”
“Kau ingin tahu kehebatanku?” tantang Denny sok berani,
walau sesekali ini mengusap lengannya karena merinding.
“Apa kau lelaki yang hebat?” Kismi tak kalah
menantangnya.
“Kau ingin buktikan?”
“Tentu. Hanya pada lelaki yang hebat bercinta aku akan
tunduk kepadanya. Kalau kau berhasil menundukkan aku,
maka kau akan hidup berlimpah kemegahan dan
kebahagiaan.”
“Kenapa kau berkata begitu? Apakah kau sedang memburu
pasangan yang sesuai dengan idamanmu?”
“Tidak terlalu memburu, tapi kalau memang ada yang bisa
berkenan di hatiku, barangkali dialah yang kupilih untuk
selamanya…,” kata Kismi sambil merayapkan jari telunjuknya
ke dagu Denny, kemudian merayap ke bibir Denny, dan Denny
menyambutnya dengan ujung lidahnya.
“Oh…,” Kismi mendesah dengan mata mulai membeliak
sayu. Denny tergugah, dan semakin terbakar naluri
kejantanannya. Ia mulai memberanikan diri meraba pipi Kismi

26
sementara bibir dan lidahnya sibuk menghisap-hisap jarijemari
Kismi yang sengaja bermain di mulut Denny-
Tangan Kismi yang kiri berusaha melepas tali gaun yang
terikat di pundak kanan-kirinya. Simpul tali itu hanya
ditariknya satu kali, lalu gaun terlepas sebelah. Yang satu
ditariknya kembali simpul talinya, dan kini gaun lembut itu
terlepas dari tubuh Kismi. Ia ternyata tidak mengenakan bra di
balik gaun. Hanya sebentang kepolosan yang halus mulus
yang ada di balik gaun. Dan kepolosan itu sangat
menghentak-hentakkan jantung Denny karena kepadatan
dadanya yang menonjol dalam keindahan yang ideal. Padat,
besar dan menantang.
Denny merayapkan tangannya ke leher, terus ke bawah.
Kepala Kismi terdongak ke atas sambil mendesiskan erangan
serak-serak manja. Matanya membeliak sayu. Ia masih
berlutut di hadapan Denny yang duduk di kursi empuk itu.
Tangan kiri Kismi segera melepas sanggulnya dengan gerakan
tangan gemulai, maka tergerailah rambut hitam yang punya
kelembutan bagai benang-benang sutra. Rambut itu ternyata
sepanjang punggung dan berbentuk lurus tanpa I gelombang.
Gerakan kepalanya yang mendongak makin ke belakang
seakan memberi kesempatan Denny untuk mengecup
lehernya. Denny tak sabar, kemudian ia melepaskan tangan
kanan Kismi yang masih bermain di mulutnya. Kini bibir dan
mulut Denny mulai merapat ke leher Kismi, membuat suatu
kecupan kecil yang membuat Kismi semakin mengerang
panjang.
“Ouuuh…! Dennyyy…!”
Ucapan kata dalam bentuk desah serak memanja itu begitu
mempengaruhi jiwa Denny. Ia makin dibuai oleh suara yang
memancing api birahi itu. Denny pun akhirnya memburu tanpa
bisa menahan diri. Tak ada niat untuk menunda sedikit pun.
Tak ada hasrat untuk berucap kata apa pun. Denny telah
mabuk dan lupa segala-galanya.
Sementara itu, tangan Kismi pun tak mau tinggal diam. Ia
pandai menyusupkan jemarinya ke lekuk-lekuk tubuh yang

27
peka dari seorang lelaki. Ia memang jago. Hebat. Ia memang
berpengalaman, jauh di atas segala pengalaman Denny.
“Ooouh… kau terbakar, Sayang…,” bisik Kismi sambil
menggeliat, bergerak maju bagai menerkam Denny. Pada
waktu itu, tangan Kismi sudah berhasil melepas kancing baju
Denny. Bahkan bagian atas tubuh Denny itu sudah tidak
dibalut selembar benang pun. Denny tidak menyadari keadaan
dirinya yang sudah demikian. Bahkan ia tidak tahu kalau
celananya telah terlempar di lantai tak jauh dari kursi empuk
itu.
Satu hal yang disadari Denny adalah keadaan Kismi yang
polos itu. Keadaan yang terbuka tanpa penghalang seujung
rambut pun itu kini berada di sandaran kursi. Entah
bagaimana caranya, Denny tak sadar, tahu-tahu Kismi duduk
pada bagian atas dari sandaran punggung kursi. Ia duduk
bagai seorang ratu yang siap memerintah dari singgasananya.
Kismi mengerang tiada putus-putusnya sambil meremasremas
kepala Denny yang ada di bawah tempat duduknya. Ia
biarkan kedua pahanya tersentuh lengan dan ujung pundak
Denny, karena pada saat itu ia merasakan satu sentuhan
mesra yang nikmat dan sesekali membuat ia makin kuat
meremas rambut-rambut di kepala Denny.
Pekikan-pekikannya menandakan ia telah dikuasai oleh
gairah birahi yang sesekali mengejutkan dirinya. Dan, tiap
kejutan, ia memekik keras sambil mengejangkan otot. Denny
bagai dipaksa tetap mencumbu di sela kepekaannya yang
utama, dan agaknya itu sangat memabukkan dirinya. Pekikan
dan erangannya kini makin berubah seperti tangis. Bukan
tangis kesakitan, melainkan tangis kebahagiaan yang sering
membuatnya gemas dan geregetan.
Tak sabar Denny menghadapi kegemasan Kismi, karena ia
sendiri ingin memperoleh masa-masa kegemasan yang
melambung jiwanya. Maka, segera Denny mengangkat tubuh
mulus berkeringat harum itu sambil mulutnya tetap merapat di
bibir Kismi. Tubuh mulus yang mendebarkan hati itu
diletakkan di atas ranjang, sehingga terlihat perempuan itu

28
lebih leluasa bergerak menggeliat, dan Denny sendiri lebih
bebas menikmatinya.
Deburan ombak di pantai terdengar bergemuruh bercampur
deru angin. Gemuruhnya ombak itu, masih belum sebanding
dengan gemuruhnya darah Denny yang dibuai kehangatan
cinta Kismi. Perempuan itu lebih galak dari singa, dan lebih
buas dari beruang. Tak segan-segan ia menjadi juru mudi
dalam ‘pelayaran’ itu. Tak ada lelahnya ia menghantar Denny
ke puncak kebahagiaan yang diharapkan setiap lelaki. Bahkan,
Denny sempat memekik keras dalam suara tertahan ketika
Kismi sengaja memancing Denny untuk berlayar lagi. dan
berlayar terus. Puncak-puncak kebahagiaan Denny telah
dicapai beberapa kali, tetapi Kismi masih ingin memacu diri
untuk makin menggila, meremat-re-mat tubuh Denny, mencari
puncaknya sendiri.
“Aku lelah, Kismi… oh… berhentilah…!” Denny terengahengah
dengan bermandikan keringat. Tetapi, Kismi tak mau
berhenti. Masih saja ia mengerang, mengeluh, mendesah dan
mendesis di sela setiap gerakannya yang luar biasa hebatnya.
“Kismi… oh… kita istirahat dulu. Sayang! Aku capek…!”
Kismi bahkan mengerang berkepanjangan sambil terus
bergerak seirama dengan kemauan hatinya. Denny hanya
terengah-engah dan sudah mengalami kesulitan menuju
ketinggian puncak asmaranya. Akhirnya ia biarkan Kismi
berlaga seorang diri. Ia biarkan Kismi berbuat apa maunya,
dan Kismi pun merasa diberi kesempatan. Ia jadi lebih
menggebu lagi.
Denny mulai merasa pusing. Matanya berkunang-kunang.
Napasnya sesak, dan perutnya terasa mual. Namun demikian,
Kismi masih tetap mendayung sampannya menuju samudera
kebahagiaan, sehingga mau tak mau Denny pun memekik lagi
karena tiba di puncak khayalan mesranya. Dalam hati, Denny
hanya bertanya-tanya dengan lemas, kapan ‘pelayaran’ itu
akan usai? Haruskah ia menolak dengan kasar, atau
membiarkan ia jatuh pingsan ditimpa sejuta kenikmatan?
***

29
Bab 4
Hamsad menggeragap ketika menyadari dirinya tertidur di
kursi dapur. Ternyata saat itu matahari telah memancarkan
sinar paginya yang menghangat di ruang dapur.
“Astaga…?! Sudah pagi?!” Hamsad segera bergegas ke
meja di kamar tidur, ia mengambil arlojinya di sana.
“Busyet! Pukul 7 kurang 10 menit? Apa-apa-an ini?
Bagaimana dengan Denny?!’
Tanpa cuci muka. tanpa menyisir rambutnya, Hamsad
langsung keluar dari kamarnya, menyeberang jalan kecil, dan
segera mengetuk pintu kamar Denny,
Beberapa kali pintu kamar itu diketuknya, tapi tidak ada
jawaban. “Ada apa Denny? Kenapa tidak segera membukakan
pintu? Apakah ia tertidur seperti aku? Ah.seharusnya tadi
kutelepon saja dari kamar. Pasti ia terbangun, karena meja
telepon dekat sekali dengan ranjang.”
Baru saja Hamsad ingin kembali ke kamarnya untuk
menelepon Denny. Tiba-tiba pintu kamar itu terdengar dibuka
seseorang dari dalam. Denny muncul dengan mata menyipit
dan ta-ngan melintang ke atas, ia menahan sorot matahari
yang mengenai matanya.
“Brengsek lu” gerutu Denny sambil bersugut-sungut. Ia
masuk, membiarkan Hamsad terbengong. Kemudian Hamsad
juga turut masuk dan mengikuti Denny. Denny
menelentangkan tubuhnya di ranjang empuk dengan satu
hempasan yang lemas.
“Ya, Tuhan…! Mengapa kamu menjadi seperti mayat
begini. Denny?” Hamsad memandang Denny tak berkedip,
sedikit tegang. Denny meraih guling dan mendesah.
“Kamar ini menjadi bau sperma! Brengsek’ Apa yang telah
kau lakukan semalam. Denny? hei, ? apakah Kismi datang
kemari?!”
“Hem…” Denny hanya menggumam, membenarkan dugaan
Hamsad

30
“Oh, dia benar-benar datang? Dan .. dan… kau bercinta
dengannya?”
‘Semalam suntuk!” kata Denny seenaknya dengan mata
menyipit sayu bagai masih mengantuk.
“Kenapa kau tak menghubungi aku?!” protes Hamsad
merasa dongkol.
”Tak sempat!”
“Ah, kau konyol! Aku nggak suka dengan kekonyolan model
begitu. Den! Kita kemari bukan mencari kenikmatan sepihak!
Kita kemari untuk…!”
’Tidak sempat!” bentak Denny yang merasa dongkol juga
Hamsad tidak melanjutkan omelannya, takut terjadi
perselisihan tak sehat, la diam. Memandang keadilan
sekeliling. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran
melihat ranjang berserakan, sprei dan selimut tebal seperti
habis dipakai bertanding adu banteng. Kaos Denny masih
tergeletak di lantai, dekat kursi empuk itu bersama celananya.
Hanya celana dalam Denny yang kala itu dikenakan
Sementara kasur yang acak-acakan itu terlihat banyak noda
kelembapan yang mengeluarkan bau jorok. Hamsad terpaksa
menyingkir, tak tahan menghadapi suasana seperti itu.
Sebelum ia kembali ke kamarnya, ia mengingatkan Denny,
‘Kita check out pukul 12 siang ini lho! Jangan lebih’
Denny hanya menggumam sambil tetap memejamkan
mata, dan Hamsad pun segera meninggalkan kamar lembap
ini. Dalam hatinya ia menggerutu dan menyesal setengah
mati, karena ia tidak berhasil bertemu dengan perempuan
yang bernama Kismi. Untuk menghalau kedongkolannya itu.
Hamsad menetralisir diri dengan berkata dalam hati, “Ah. tapi
Denny kan sudah bertemu dengan Kismi ini. Pasti Denny
sudah bisa mengorek beberapa rahasia dari Kismi tentang
Almarhum Norman Tak apalah! Yang penting Denny bisa
menyimpulkan semua keterangan dari Kismi tentang Norman,”
Pukul 10. menjelang pagi berakhir, Denny masih tertidur.
Hamsad menyempatkan diri berjalan ke pantai. Sambil

31
melangkah menikmati pemandangan indah dan cuaca cerah.
Hamsad bertanya-tanya dalam hati.
“Tapi, mengapa wajah Denny begitu pucat. Persis dengan
wajah sesosok mayat, la kelihatan lemas dan layu sekali.
Apakah benar ia telah bercinta dengan Kismi semalaman
suntuk? Separah itukah ia?”
Pasir pantai yang putih dan lembut disusurinya. Banyak
sepasang sejoli yang melangkah sambil bergandengan tangan
banyak pasangan yang beda usia sangat menyolok. dan sudah
tentu mereka bukan suami-istri Oom-oom sedang monikmati
masa santainya bersama daun muda. Ataupun ‘daun muda’
yang berhasil menggaet oom-oom untuk diperas dompetnya?
Terkadang Hamsad merasa iri melihat mereka. Yang tua. bisa
mendapatkan pasangan muda belia dan cantik. Yang beruban
dan berwajah peot saja bisa memeluk gadis cantik
menggiurkan, mengapa ia tidak bisa seperti mereka?
Mungkinkah karena faktor ekonomi yang tidak sepadan
dengan opa-opa pecandu daun muda itu?
Dalam masa-masa merenungi kenyataan itu.
Hamsad teringat kata-kata Almarhum Norman saat ia
menceritakan tentang kehebatan Kismi.
“Ia tidak pantas dipajang sebagai wanita penghibur. Kismi
sungguh anggun. Mirip seorang ratu di zaman Romawi Kuno.
Hidungnya mancung dan matanya bening, mempunyai
ketajaman yang berwibawa, tapi enak dipandang. Kalau kau
berjalan dengan Kismi menyusuri pantai, maka orang-orang
yang saling mendekap pasangannya itu akan melepaskan
pelukan mereka, dan mata oom-oom yang ada di sana pasti
terarah kepada Kismi tanpa berkedip. Kismi mempunyai daya
magnitisme yang membuat lelaki bisa lupa daratan maupun
lautan…!”
Hamsad tertawa sendiri teringat kata-kata Norman.
Barangkali di pantai inilah yang dimaksud Norman. Di pantai
itulah seharusnyu Hamsad menggandeng Kismi. agar semua
mata lelaki akan membelalak ke arah Kismi, dan semua
pelukan lelaki akan terlepas dari pasangannya. Jika benar

32
begitu, oh… alangkah istimewanya wanita yang bernama
Kismi itu? Pantas rupanya jika petugas motel merahasiakan
tentang Kismi, dan tidak sembaningau memberikan Kismi
kepada tamunya. Rupanya Kismi adalah maskot bagi motel
itu. Kismi adalah sang Primadona yang tidak sembarang lelaki
boleh menyentuhnya. Mengenai harga keringatnya, sudah
tentu jauh di atas harga wanita-wanita penghibur yang lain.
Hamsad digelitik oleh rasa penasaran tentang Kismi. Ia
bergegas kembali ke kamarnya dan membangunkan Denny
lewat telepon, karena jam sudah menunjuk pukul 11 siang.
Tetapi, sebelumnya ia sempat berpapasan dengan seorang
lelaki separuh baya yang berkumis dan berbadan gemuk, tapi
bukan gendut.
“Pak Hasan!” sapa Hamsad. Lelaki itu berpaling ke arah
Hamsad, lalu tersenyum kaget. Pak Hasan segera melepaskan
tangannya yang sejak tadi menggandeng wanita bertubuh
langsing yang berusia sebaya dengan Hamsad.
“Hei. kau di sini juga. Ham?!” Pak Hasan segera berjabat
tangan dengan Hamsad.
“Biasa, Pak. Refresing…!” Hamsad tertawa seirama dengan
tawa Pak Hasan.
“Bersama siapa kau di sini. Ham? Maksudku, bukan teman
cewek, tapi teman lelakimu, Hem… o. ya kau tentu bersama
Norman, bukan?”
Hamsad sedikit kikuk untuk menjawab, namun akhirnya ia
berkata. “Apakah Pak Hasan belum mendengar kabar tentang
Norman?”
Lelaki separuh baya yang masih digelayuti perempuan
muda itu berkerut dahi. mulai curiga.
”Ada apa dengan Norman? Aku baru saja kemarin sore
pulang dari Bandung.”
“Astaga,..! Kalau begitu, mungkin Pak Hasan belum
mendengar kabar terakhir tentang Norman”
“Maksudmu?”
“Norman… hm… dia telah meninggal. Pak.”

33
“Hah…?!” Pak Hasan nyaris terpekik keras. matanya
mendelik. Mulutnya ternganga kaku sejenak.
“Dia… dia melakukan kebodohan. Pak.” tambah Hamsad
dengan nada sendu.
“Kebodohan?” ‘
Ya. Dia… bunuh diri!’
“Astaga…?” makin mendelik lagi Pak Hasan mendengar
kata-kata itu. Wajahnya tampak tegang dan menjadi pias.
“Apa masalahnya? Ada apa sih?! Mengapa dia sampai
melakukan hal itu?r
Secara singkat Hamsad menceritakan saat-saat Norman
menikam dirinya dengan gunting dan tepat mengenai
jantungnya. Keceriaan Pak Hasan kala itu benar-benar
terganggu dan boleh dikatakan hilang seluruhnya, la menjadi
murung, duduk di bangku plesteran dari batu berlapis traso. Ia
kelihatan sedih .sekali.
“Norman….” gumamnya. “Ah. gila! Padahal dia satusatunya
penulis andalanku yang baru saja kemarin malam
kuusulkan oleh perusahaan yang baru untuk mengontrak
Norman dalam penerbitan tahun ini. Tapi… ah. gila! N’orman
itu gila apa waras sih? Mengapa ia sampai berani berbuat
nekat begitu?”
“Teman-teman satu pondokan tak ada yang mengetahui
alasan Normali secara pasti, Pak.” kata Hamsad. “Tapi, ada
tiga orang yang melihat persis saat Norman melakukan
tindakan nekatnya itu. Dua temannya terluka ketika hendak
menghalangi tindakan picik itu.”
Wanita cantik yang duduk di samping Pak Hasan itu ikut
menampakkan wajah sendu, seakan turut berdukacita atas
kematian Norman, walau sebenarnya ia sendiri tidak tahu.
siapa Norman. Dan, setelah menghela napas beberapa kali
dalam kebungkamannya. Pak Hasan berkata kepada Hamsad.
“Ham, aku tahu kau teman dekat Nornian. Aku ingin bicara
denganmu, tapi tidak di sini! Datanglah ke rumahku, atau…
jangan. Jangan ke rumah, nanti terganggu urusan lain. Hem…
besok sore, teleponlah aku. Atau kapan saja setempatmu.

34
Telepon aku, dan kita tentukan di mana kita harus bertemu
untuk membicarakan tentang Norman.”
“Baik. Saya setuju. Pak.”
“Ah. sial! Mengapa aku harus kehilangan dia?!” gumam Pak
Hasan yang tampak menyesal sekali atas kematian Norman
itu.
Tak enak jika terlalu lama mengganggu Pak Hasan.
Hamsad pun segera memisahkan diri. Pukul 11 lebih 20 menit,
ia segera ke kamar Denny. takut Denny berlarut-larut dalam
tidurnya.
“Hei, minggat ke mana kau?!” sapa Denny yang rupanya
justru sedang menengok keadaan di kamar Hamsad.
“Aku baru saja memesan makanan,” kata Hamsad sambil
duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan.
Hamsad tidak bicara untuk beberapa saat, karena ia masih
terheran-heran melihat kepucatan wajah Denny.
“Kenapa memandangku begitu? Apa aku mirip setan?!”
“Persis sekali.” jawab Hamsad. “Kau bukan mirip, tapi
persis setan! Pucat pasi. seperti kertas HVS ukuran kuarto!’
Hamsad geleng-geleng kepala. Denny hanya nyengir berkesan
tersipu.
“Kita tidak buru-buru pulang, kan?” tanya Denny
mengalihkan perhatian.
“Tinggal satu setengah jam lagi kita punya ketempatan di
sini.”
“Ah, pulang besok saja,’ kala Denny. dan ia bergegas
masuk ke kamar Hamsad. Begitu keluar sudah membawa dua
kaleng Green Sands.
‘Kau mau pulang besok?” Hamsad sangsi.
Denny hanya tersenyum-senyum. “Aku ada janji dengan
Kismi untuk bertemu nanti malam.”
“Ah, kau gila!” ketus Hamsad sambil membuka kaleng
Green Sands.
“Untung bukan kau yang bertemu dengan Kismi. Kalau kau
bertemu dengan Kismi. maka kau yang akan menjadi gila!”

35
Denny tertawa. Wajahnya yang tampak sayu seperti
dipaksakan untuk ceria.
“Almarhum Norman pernah bilang begitu padaku.” kata
Hamsad. “Katanya, aku akan tergila-gila jika bertemu dengan
Kismi, apalagi sampai bergumul dengan wanita itu, pasti kesan
itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan seumur
hidupku.”
“Benar! Kata-kata Norman itu memang benar! Kismi wanita
istimewa yang mempunyai kehebatan luar biasa. Daya
tariknya mampu melumpuhkan lututmu, Ham! Wah, aku
hampir pingsan menikmati kebahagiaan dengannya. Dia
pandai. Pandai dalam segala hal! Dia akan membuatmu lemas
lunglai dan tak bisa bergerak lagi oleh cumbuan dan gairah
birahinya yang berkobar-kobar Gairahnya itu seakan lak bisa
dipadamkan dalam waktu sekejap. Perlu proses yang cukup
panjang untuk menurunkan temperatur nafsunya. Sungguh
melebihi kuda betina yang kokoh dan tangguh.”
Terbayang dalam khayalan Hamsad. seperti apa
sebenarnya keadaan Kismi itu. Ia meraba dalam bayangan
dan akhirnya menciptakan debar-debar penasaran yang
mengganggu ketenangannya. Denny terus bercerita tentang
kehebatan Kismi. tentang kecantikan Kismi, dan tentang kesan
indah yang ia peroleh dari Kismi. Lalu, meluncurlah
pertanyaan dari mulut Hamsad yang bersifat usil.
“Berapa banyak ia memeras uangmu untuk semalam
suntuk Itu?”
“Tidak sepeser pun!”
“Ah…!” Hamsad mendesah, pertanda tak percaya.
“Sungguh, Ham! Dia tidak minta sepeser pun uang duriku!”
“Betul? Atau. barangkali menyuruhmu membayar di kasir»”
“Kamu pikir dia dagangan di supermarket?” Denny tertawa
lepas.
Hamsad termenung heran.
“Kok aneh?! Dia tidak minta bayaran? Lalu…? lalu untuk
apa dia datang?!”

36
“Yah… mungkin dia seorang perempuan yang butuh
hiburan juga,’ kata Denny. “Yang jelas, ketika pukul 4 pagi
lewat sedikit, ia segera berbenah diri. kemudian mencium
keningku dan berbisik agar aku kembali lagi pada malam
berikutnya. Ia akan datang dan tak perlu memikirkan tarif apa
pun. Dia tersinggung kalau aku bertanya tentang tarif
cintanya. Dia merasa tidak menjual cinta kepada siapa pun. Ia
hanya akan datang jika aku pun datang di tempat yang
sama.”
Terlintas kejanggalan yang menggelisahkan hati Hamsad
saat itu. Rasa penasarannya semakin menggebu, dan hasrat
untuk membuktikan Semua kata-kata Denny itu ditekan kuat.
disambunyikan rapat-rapat.
“Jadi kau ingin bermalam lagi?” tanya Hamsad dalam
kebimbangan.
“Ya. Kau… kau bisa datang ke kamarku. Kali ini. akan
kusempatkan untuk meneleponmu jika dia datang. Tapi.
ingat… aku tidak mau kau mengganggu kemesraan kami’
Awas lu kalau konyol!”
‘Tidak. Aku tidak akan bermalam lagi di sini.”
“Alaaah… begitu saja sewot!” ledek Denny.
“Bukan sewot. Kau ingat, nanti malam adalah hari
perkawinan dosen Biologi kita. Bu Anis.”
“Astaga! Benar! Aku hampir lupa!”
‘Aku harus datang dalam pesta perkawinan itu. Semua
teman kurasa juga datang, karena Bu Anis adalah satusatunya
dosen yang paling akrab di hati para mahasiswanya.”
Denny mauggul-manggut. lalu kelihatan bingung, la
berkata, “Ya.ya…, Bu Anis nanti malam melangsungkan
pernikahan. Dan, wah… repot kalau begini, Ham. Kalau aku
tidak datang, itu sangat keterlaluan. Sebab, Bu Anis itu anak
dari kakaknya ibuku- Kepada Bu Anis dulu ibuku menitipkan
aku agar kuliah di kota ini. Dan. kurasa keluargaku pasti
datang semua. Malulah aku kalau tidak nongol dalam
perkawinan Bu Anis.”
‘Jadi, bagaimana dengan janjimu dengan Kismi?”

37
Denny diam sampai beberapa saat lamanya, la dalam
kebimbangan yang benar-benar menjengkelkan. Setelah
beberapa saat kemudian akhirnya ia memutuskan agar segera
pulang saja. Urusan Kismi akan ditunda sampai malam
berikutnya. Denny menitipkan pesan tulisan kepada bagian
resepsionis. Pesan itu untuk Kismi yang berisi penundaan
waktu berkencannya. Maka. siang itu juga mereka check-out
dari motel tersebut. Denny langsung ke rumah Bu Anis untuk
membantu persiapan malam perkawinan nanti, sedangkan
Hamsad kembali ke rumahnya dengan sejumlah pertanyaan
batin yang menggelisahkan hatinya.
“Ada sesuatu yang ganjil dari cerita Norman dengan cerita
Denny. Tapi, di mana letak keganjilan itu. aku belum
menemukan.” pikir Hamsad ketika sore itu bergegas ke
pondokan Denny dalam keadaan siap berangkat ke pesta
perkawinan Bu Anis.
Di pondokan. Hamsad yakin, banyak mahasiswa yang akan
datang ke perkawinan Bu Anis, karena di situ banyak teman
satu kampus dengannya, di antaranya Bahtiar, Ade. dan
Yoppi. Mulanya Hamsad ingin menghampiri Sonita, cewek
kampus yang pernah pergi ke pesta ulang tahun salah seorang
teman bersama Hamsad. Tetapi, Hamsad ragu. sebab Sonita
belakangan ini kelihatan mengakrabkan diri dengan Bob, dan
kehadiran Hamsad bisa jadi menimbulkan perkara di antara
mereka. Karena itu Hamsad lebih setuju untuk pergi bersamasama
anak-anak pondokan saja. Mungkin lebih seru ketimbang
harus membawa cewek yang penuh resiko itu.
“Denny baru saja pergi lagi, Ham.’ kata Ade.
“Ke mana dia?!”
“Menjemput Kismi.”
“Hah…?!” Hamsad terbalalak kaget memandang Yoppi yang
menjawab pertanyaan tadi. “Dengan siapa ia menjemput
Kismi?”
“Tigor. Dia paling bernafsu mendengar cerita Denny
tentang Kismi. Luar biasa menurutku juga”

38
Ada rona ketegangan yang tahu-tahu muncul di wajah
Hamsad. la memandang Yoppi. Ade dan Bahtiar. Satu persatu
wajah itu dipandanginya. Kemudian, ia bertanya dengan suara
pelan, sepertinya tidak ditujukan pada mereka.
“Jadi… kalian sudah tahu cerita tentang Kismi?”
Ade tertawa sinis dalam gaya kelakar, *Kau pikir cuma kau
saja yang boleh mendengar cerita menggairahkan itu? Kami
juga berhak mendengarnya dong!”
Bahtiar menimpali, “Kami juga berhak inengkhayalkannya
dong. Betul, nggak?!” Dan, Ade serta Yoppi menjawab
serempak. “Betuuul…!”
Setelah diam sesaat. Hamsad berkala, “Tiba-tiba aku
mencemaskan Denny?” Hamsad tampak resah.
“Cemas? Kenapa harus cemas?”
‘Entahlah. Perasaan cemas itu juga timbul sebelum malam
Kematian Norman. Ah, mau ada apa, ya?” gumam Hamsad.
***
Bab 5
Dengan mengendarai mobil Jeep milik Tigor, Denny
bernafsu sekali utiluk membawa Kismi pada pesta perkawinan
Bu Anis. Ia ingin memamerkan Kismi.kepada keluarganya yang
malam itu berkumpul di gedung, tempat pesta perkawinan itu
berlangsung. Sedangkan Tigor, adalah salah satu pemuda
korban khayalan cerita Denny. Tigor penasaran sekali dan
ingin melihat sendiri seperti apa Kismi itu. Benarkah cerita
Denny bukan sekadar bualan belaka?
Pukul 7 malam kurang beberapa menit, mereka tiba di
bagian resepsionis. Seorang pemuda berdasi kupu-kupu duduk
di balik meja resepsionis dan menyambut kedatangan Denny
serta Tigor dengan senyum ramah.
“Ada yang bisa saya bantu. Bung?” kata resepsionis itu.
seperti sebuah hafalan.
“Saya tadi siang titip pesan dengan petugas yang badannya
sedikit gemuk.”

39
“O, maksudnya…. Mas Gagan?’
‘Entah siapa dia punya nama, tapi dia bagian resepsionis
tadi siang. Mungkin sekarang tugasnya telah Anda gantikan,
ya?’
”Benar. Saya tugas malam. Ada pesan apa maksudnya?”
Denny sedikit bingung menjelaskannya. Lalu, dengan hatihati
ia ceritakan pertemuannya kemarin malam dengan Kismi.
Tetapi, petugas itu tampak kebingungan juga.
“Maaf, kami memang mempunyai wanita-wanita yang…
yah, sering dipesan oleh para tamu. Tetapi, tidak ada yang
bernama Kismi. Mmm… mungkin Anda memesannya dari
motel lain?”
“Tidak. Saya memesannya dari sini. Dan, perempuan itu
datang juga ke kamar saya. Maka, saya titip pesan untuknya,
karena seharusnya hari ini saya masih di sini menunggu dia.
Tapi, karena ada resepsi perkawinan keluarga, jadi saya
tinggalkan. Nah, malam ini saya ingin ajak dia untuk
menghadiri resepsi tersebut,” tutur Denny menjelaskan.
Sejenak kemudian petugas itu mencari sesuatu dan
menemukan surat Denny untuk Kismi
‘Mungkin ini surat Anda.”
“Ya. benar! Rupanya belum disampaikan, ya?’
“Mungkin tak seorang pun dari kami yang mengetahui
perempuan bernama Kismi, Bung. Dan. kalau begitu, biasanya
kami tunggu saja di sini Apabila perempuan itu datang, baru
kami serahkan surat ini.”
“Dari tadi dia belum datang?” Tigor yang tak sabar mulai
angkat bicara.
“Belum. Dalam buku tamu ini juga tidak ada yang
mencantumkan namanya sebagai Kismi,” jawab petugas
resepsionis dengan ramah. Sesaat kemudian, ketika Denny
dan Tigor berbicara bisik-bisik, petugas itu bertanya lagi,
“Maaf. di mana Anda semalam menginap? Maksud saya. di
kamar Kenanga atau Flamboyan?”
“Di kamar Seruni,” jawab Denny.

40
Petugas resepsionis itu kelihatan terperanjat sesaat, dan
buru-buru menyembunyikan perasaan kagetnya itu. Tigor
sempat mengetahui hal itu, kemudian sedikit berkerut dahi
karena merasa curiga.
“Apakah kamar itu sampai sekarang masih kosong?”
“Saya rasa begitu. Bung?'” resepsionis itu telah berhasil
menguasai rasa kagetnya, sehingga memberi jawaban ramah
kepada Denny. Tetapi. Tigor diam-diam memperhatikan wajah
pemuda tersebut yang tampaknya mulai dihinggapi keresahan.
“Dia janji jam berapa akan datang?” tanya Tigor kepada
Denny.
“Dia tidan menentukan jamnya tapi yang jelas dia pasti
datang untuk menemuiku kembali.”
‘Mmm… barangkali….” petugas itu sedikit, gugup.
“Barangkali Anda bisa menunggunya jika membooking kamar
itu lagi. Bung.”
“Ah, kurang efisien itu!” Denny mendesah. “Atau barangkali
Bung mau menunggunya?” petugas itu tetap ramah.
Denny meminta pendapat Tigor. lalu Tigor berkata, “Repot
pulalah aku! Kau yang punya urusan, kenapa aku yang ikut
susah. Kau sendirilah yang tunggu dia kalau kau mau!’
“Kita bicara sebentar di lobby itu yuk…”ajak Denny.
Kemudian, mereka berdua duduk di sofa yang ada pada lobby
tersebut.
Agaknya Denny merengek kepada Tigor agar Tigor mau
menemani dia menunggu Kismi. Tigor sendiri makin tertarik
setelah Denny menceritakan kehebatan Kismi di ranjang. Tigor
makin terbuai oleh cerita Denny tentang kecantikan Kismi
yang mirip seorang Ratu Mesir Kuno. Maka. Tigor pun
akhirnya berkata.
“Kalau kau bohong, aku tak mau berteman lagi dengan
kaulah! Tapi kalau kau benar, kau boleh anggap aku
abangmu.”
“Bah! Abang macam apa kau kalau diam-diam punya minta
juga dengan kekasih adiknya.” kata Denny menirukan gaya
Tapanuli.

41
”Eh. siapa bilang aku mau sama cewekmu?”
”Eh. siapa bilang begitu, Denny?! Aku cuma ingin tahu,
seperti apa cewek yang kau agung-agungkan itu. Denny!
Jangan punya pikiran yang macam-macamlah!” Tigor
bersungut-sungut, berlagak sewot. Denny tertawa terkekeh
melihat gaya Tiyor berlagak tersinggung. Buktinya, Tigor
sendiri segera berkata,
“Kalau masalah kau mau kasih kesempatan sama aku, itu
lain persoalan, kan?”
“Kesempatan apa?”
“Yang, kesempatan merasakan khayalanmu itulah.,.!” Tigor
sendiri akhirnya tertawa bersama Denny.
Sampai pukul 9 malam, Kismi belum datang juga. Tigor
mulai menggerutu dan merasa ditipu. Denny tidak bisa
tenang. Gelisah sakali, karena seharusnya saat itu ia sudah
berada di pesta perkawinan Bu Anis. Ia penasaran kalau tidak
membawa Kismi ke pesta itu. Ia malu. Dan, ia yakin, bahwa
Kismi pasti datang sesuai janjinya.
“Bagaimana ini, Denny? Sudah pukul 10 malam kurang
sedikit. Apa kita harus tunggu dia sampai pagi, atau
tinggalkan saja dongengmu itu! Kita ke resepsi sekaranglah!
Biar aku tak kena marah keluargamu!”
Kesal sekali hati Denny. la dicekam oleh kebimbangan yang
menyebalkan. Menunggu Kismi seperti menanti kematian yang
memuakkan.
Dan akhirnya Denny pun setuju dengan usul Tigor untuk
meninggalkan motel itu. Mereka segera melejit ke arah
gedung pertemuan yang dipakai mengadakan pesta
perkawinan Bu Anis. Denny yang mengemudikan mobil itu.
karena Denny yang tahu persis mencari jalan pintas menuju
gedung pertemuan untuk mempersingkat waktu.
Tapi. tiha-tiba mobil itu mogok di perjalanan. Berulangkali
Denny menstarternya, tapi mesin tak mau hidup lagi. Tigor
mengambil alih kemudi, dan ternyata sama saja.
“Bah ! Mobil macam apa ini?! Bensin masih ada, oli masih
ada, air masih ada, kenapa macet!. Ah. macam-macam pula

42
mobil ini! Ala. Maaak…! Apa yang rusak ini?!” Tigor
menggerutu dan ngomel-ngomel sendiri, sedangkan Denny
diliputi rasa gelisah yang membuatnya menggeram-geram dan
mendesah-desah tak karuan.
Tigor mendorong mobil, sementara Denny memegang
kemudi, tapi hasilnya nol. Dua orang tukang becak dimintai
bantuan untuk mendorong mobil , tetap saja tak menghasilkan
apa-apa., Akhirnya tukang becak itu bahkan menyatakan diri
tidak sanggup dan terlalu jauh meninggalkan becaknya- Tigor
memberi mereka uang seribu, lalu tinggallah Denny bersama
Tigor di jalanan yang sepi itu.
Malam melengangkan udara dingin. Sepertinya mau hujan,
karena langit mendung, tak berbintang satu pun. Jalanan itu
adalah jalanan yang jarang dilalui kendaraan karena di
samping banyak lubang juga karena tak ada penerangan.
“Denyyy…!’
Tiba-tiba Denny mendengar seseorang memanggilnya. Ia
tersentak kaget dan matanya membelalak mencari-cari suara
tersebut. Tigor sedang mencoba mengutak-atik mesin mobil,
sehingga ia tidak melihat Denny kelabakan mencari sesuatu.
Beberapa saat selelah mencoba mengutak-atik mesin, Tigor
mencoba menstarternya, tapi masih belum bisa hidup mesin
mobil itu.
“Kurang ajar!” umpatnya sendiri. “Sudah jam berapa ini,
Denny? Aku rasa kita sudah terlambat. Mereka sudah pulang
dari pesta perkawinan Bu Anis.”
“Bakar saja mobil ini. Gor!” seraya Denny melirik arlojinya
yang menunjuk pukul 12 tengah malam lewat lima menit.
“Ah. jangan begitu kau! Kalau mobil itu bagus, kau tidak
pernah suruh aku bakar, kan? Ini kan namanya insiden kecil!”
“Mobil rungsokan kau bawa ke mana-mana!” gerutu Denny.
“Dennyyy…!” suara itu terdengar lugi.
Tigor ingin mengatakan sesuatu, tapi Denny melarang
Tigor bicara. “Ssst…! Jangan bicara,” bisik Denny. “Aku
mendengar suara perempuan memanggilku. Sudah dua kali
ini, Gor.”

43
“Ah, kau macam-macam pula!”
“Ssst… benar! Diamlah dulu. Dengarkan suara itu, siapa
tahu ia memanggilku lagi.”
Tigor hanya menghela napas dan menghempaskannya
dengan kesal. Ia kesal terhadap mobilnya sendiri, juga kesal
terhadap tingkah Denny yang menurutnya mengada-ada.
Tetapi, ketika ia hendak berdiam diri beberapa saat. ia merasa
tengkuk kepalanya merinding. Bulu-bulunya meremang
sendiri, dan ia pun bergidik sambil mendesis pelan.
“Aku jagi merinding, Denny!”
“Aku juga,” bisik Denny.
“Celaka! Matilah aku kalau tempat ini ternyata angker…!”
kata Tigor dengan sedikit tegang, suaranya tak berani keras.
Deru angin malam pembawa hujan mulai teram
menyibakkan rambut-rambut mereka. Tigor semakin cemas,
takut kalau-kalau hujan turun, sementara mereka berhenti di
jalanan sepi. Kanan-kiri adalah rawa-rawa yang ditanami
semacam tanaman kangkung atau sejenisnya. Tak jelas
karenn malam. Yang jelas, mereka jauh dari rumah atau
bangunan berpenghuni.
‘Eh, Denny… kita dorong saja mobil ini. Cari tempat yang
tidak seram beginilah!”
Denny setuju. .Mereka mendorong mobil mencari tempat
yang tidak menyeramkan. Tigor mendorong bagian samping
sambil mengendalikan stiran mobil. Napas mereka ngosngosan,
keringat pun mulai beranjuran. Tetapi, keringat
mereka itu bercampur dengan keringat dingin akibat rasa
takut yang mencekam.
Beberapa saat setelah mereka mendorong mobil, Denny
yang mendorong dari bagian belakang mobil, tiba-tiba
berhenti melangkah. Ia mendengar suara perempuan
memanggilnya.
“Tigor. aku mendengar suara Kismi memanggilku!”
“Ah, tak ada suara apa-apa.’ Kau jangan macammacamlah!
Bikin orang sport jantung saja.'” gerutu Tigor

44
sambil tetap mendorong mobil. ‘Eh, dorong lagi mobil ini!
Jangan diam sajalah!”
Denny mencoba melupakan suara itu. ia mendorong mobil
lagi. Sampai akhirnya, mereka menemukan sebuah warung di
pangkalan ojek Ada dua tukang ojek yang ada di situ. dan hati
Tigor serta Denny sedikit lega. Setidaknya mereka berada di
antara beberapa orang. Syukur ada yang bisa memperbaiki
mobil, atau memberi saran yang terbaik bagi Tigor dan Denny.
Warung itu. terletak pada satu tikungan jalan raya yang
mempunyai cahaya lampu mercury di salah satu sisi. Sinar
lampu itu jatuh ke warung dalam keadaan remang-remang,
tetapi nyala lampu petromaks di warung itu cukup membuat
penerangan tersendiri di sekitar situ.
Ternyata dari dua tukang ejek itu, tak ada yang bisa
diharapkan untuk membetulkan mesin mebil Tigor. Bahkan
mereka bersikap acuh lak acuh. tak mau memberi saran apa
pun. Sementara itu, pemilik warung jalanan itu juga tidak tahu
soal mesin mobil dan tidak punya pandangan yang lebih baik.
Pemilik warung itu seorang lelaki lanjut usia dengan anak
lelakinya yang masih belasan tahun. Tigor dan Denny akhirnya
ngopi di warung itu sambil mencari ide untuk kembali ke
pondokan mereka.
‘Apakah mobil harus dititipkan pada pemilik warung ini?
Kita pulang naik taksi saja?” usul Tigor. Denny menjawab
dengan ketus karena dongkol pada nasibnya.
“Kalau mobilmu mau hilang, silakan saja kau titipkan ke
warung ini. Esok pagi warung ini sudah tidak ada. Mereka
jualan pada waktu malam saja.’
Denny ingin bicara lagi. tetapi kali ini ia mendengar suara
seseorang berseni di kejauhan memanggilnya.
“Denny…! Denny. tolong akuuu…!”
Arah suara itu dari tempat Denny dan Tigor tadi mendoiong
mobilnya. Denny terperanjat karena ia yakin bahwa Kismi
sejak tadi sebenarnya menyusul mereka. Kismi tertinggal di
belakang mereka, dan sekarang agaknya wanita itu mendapat
kesulitan. Maka. Denny segera melompat keluar dari warung.

45
“Hei, mau ke mana kau. Denny?!“ seru Tigor.
“Kismi menyusul kita. Gor! la tertinggal di belakang kila
sejak tadi!”
“Ah, mana mungkin dia berani lewat jalan sepi itu
sendirian!’ bantah Tigor.
“Tapi. aku mendengar suaranya memanggilku, la minta
tolong!”
Denny segera pergi, kembali ke arah semula. Tigor sangsi
untuk mengikutinya. Ketika ia memandung jalanan yang gelap
itu. ia melihat sosok bayangan Denny yang melangkah cepat
bagai mengejar suara yang memanggilnya. Tetapi. Tigor
sendiri sejak tadi tidak mendengar suara perempuan.
Sekalipun tidak pernah. Maka. ia jadi merinding sendiri, dan
masuk ke warung lagi.
“Apakah Bapak mendengar suara perempuan berseru dari
sana. Pak?” tanya Tigor pada pemilik warung.
“Tidak. Tidak ada suara orang memanggil kok.” jawab
pemilik warung. “Kamu mendengar. naK?” Ia bertanya kepada
anak lelakinya.
“Nggak dengar apa-apa kok. Pak! Nggak ada orang
perempuan berteriak'” jawab anak lelaki pemilik warung.
“Nah, temanku itu jangan-jangan sudah gila dia! Nekat
memburu suara hatinya sendiri! Sinting, dia” Tigor
menggerutu seenaknya sambil mencomot makanan dan
melahapnya, la tidak begitu menghiraukan keadaan Denny. Ia
sendiri merasa merinding dan diganggu oleh perasaan gelisah
sejak Denny pertama kali mengaku mendengar suara
perempuan memanggilnya.
Denny sendiri tidak peduli dengan Tigor. Menurutnya, Tigor
berlagak tidak mendengar suara Kismi karena ia takut jika
harus kembali melalui jalan gelap dan sepi itu. Tetapi, Denny
hanya punya satu konsentrasi, yaitu Kismi. Ia yakin Kismi
memanggilnya dan ia harus datang dengan segera.
Tetapi, setelah beberapa langkah ia meninggalkan warung
itu, langkah kakinya menjadi terhenti Ia mendengar suara
Kismi memanggilnya di tengah rawa yang penuh tanaman

46
sejenis kangkung. Sedangkan, di tengah rawa itu tak terlihat
bayangan seseorang bergerak mendekat atau menjauh.
“Dennyyy..! Deimv. lupakah kau padakuuu..?!”
“Kismii…!” teriak Denny keras ke arah rawa gelap itu.
Beberapa saat ia menunggu, ternyata tak ada jawaban.
Jantungnya semakin berdebar-debar, tubuhnya merindng dan
hatinya gelisah tak menentu.
“Kismiii…! Di mana kaauu…!” teriak Denny lagi. tapi tetap
tak ada jawaban.
Angin bertiup mulai kentang. Denny masih berdiri di tepi
rawa untuk menunggu kemungkinan terlihatnya Kismi. Ia ingin
masuk ke tengah rawa-rawa ii u, tetapi ada keraguan sebab ia
tak melihat bayangan manusia di sana. Tubuhnya dibiarkan
semakin merinding, ia menganggap itu hal yang wajar karena
angin bertiup cukup kencang dan membawa udara dingin.
Tetapi, rasa takutnya itu masih menjadi bahan pemikiran
Denny. Mengapa jantungnya jadi berdebar-debar dan
sepertinya dicekam perasaan takut? Apa yang akan terjadi
sebenarnya?
Ada sesuatu yang terbang karena terbawa angin. Sesuatu
itu menempel di telinga Denny. Dengan tersentak kaget Denny
menangkap benda yang menempel di telinganya. Ia mulai
terhenyak kaget setelah diketahui benda itu adalah kapas
putih
“Kapas dari mana ini?” pikirnya heran. Sekali Lagi tengkuk
kepalanya merinding. Gumpalan kapas kecil itu sepertinya
bekas penyumbat hidung atau mulut mayat Karena ia
mempunyai dugaan begitu, maka jantungnya semakin
berdebar keras.
Hanya saja. sewaktu ia mencium bau harum dari kapas
tersebut, rasa takutnya sedikit berkurang. Bau harum itu
serupa betul dengan bau parfum di tubuh Kismi. Makin yakin
Denny jadinya, bahwa Kismi memang ada di sekitarnya. Tapi
di mana? Ia melangkah semakin menuju tempat asalnya ia
datang bersama Tigor tadi.

47
“Kismiii…?! Kismi, di mana kau?!’ seru Denny sambil
matanya mencari-cari. Lalu, mulailah ia terbayang masa-masa
bercumbu bersama Kismi. karena tempat itu sepi dan ia mulai
berkhayal, seandainya Kismi ada di situ, maka ia tak segansegan
untuk menggeluti di rerumputan.
Ingatan bercumbu habis-habisan dengan Kismi membuat.
Denny mengerang menahan gejolak birahinya. Napasnya
semakin terengah-engah, dan hasratnya untuk memburu
kemesraan bersama Kismi menyesakkan pernapasannya.
“Kismiii..!” Kali ini, Denny mendesah tanpa suara, dan
meremas-remas sesuatu yang mendatangkan nikmat baginya.
Di kejauhan, masih terdengar suara Kismi memanggilnya
dengan suara serak-serak manja, seakan suatu ajakan untuk
bercumbu di alam bebas itu. Denny semakin terangsang,
menegang semua otot tubuhnya, mendesis-desis lak
berkesudahan, Kapas itu sesekali diciumnya sebagai ingatan
keringat Kismi yang berbau wangi lembut itu. Setiap ia
mencium wangi kapas itu. birahinya pun semakin bergolak
menghentak-hentak. Mulutnya mengucap kata “Kismi”
beberapa kali.
Namun, pada detik tertentu, Denny mengalami satu
kejutan yang membuatnya tegang. Tangan kanannya tak
dapat digerakkan. Kaku. la ingin memegang kepalanya, tapi
tak bisa. Gerakan kaku tangan kanannya itu membuat Denny
menarik ke atas untuk menggunakan tangan kiri. Tangan
kanan itu tiba-tiba terlepas dari pegangan tangan kiri dan
menampar matanya sendiri. Bahkan kali ini tangan tersebut di
luar kemauan Denny telah meremat wajahnya sendiri,
mencakar-cakar hingga wajah Denny pun mulai berdarah.
‘Oh ..! Aaaow…! Kenapa tanganku ini? Oh…!” Dan, ia pun
segera berlari ke arah warung dalam cekaman rasa takut
sambil menjerit -jerit dicakar tangannya sendiri.
***
Bab 6

48
Malam yang hening dan angin yang bertiup ke arah Utara,
membuat. Tigor berkerut dahi saat meneguk kopi panas.
Suara Denny terdengar sayup-sayup, sejenak meragukan hati
Tigor.
“Ah, tak mungkin itu suara Denny,” pikirnya sendiri, dan ia
melanjutkan menghirup kopi panasnya.
Tetapi, beberapa saat kemudian anak pemilik warung itu
berkata kepada Tigor, “Bang, sepertinya itu suara teman
Abang.”
Sekali lagi Tigor berkerut dahi sambil menelengkan kepala,
menyimak suara yang ada di kejauhan. Pemilik warung yang
sudah lanjut usia itu juga berkata kepada anaknya,
“Iya, ya?! Sepertinya itu suara orang yang tadi ke sana, ya,
Man? Jangan-jangan dia dalam bahaya,” kalimat terakhir
ditujukan kepada Tigor.
“Alaaah, Mak! Dia itu suka bercanda. Pak! Ja ngan mau
percaya dengan lagaknya! Pasti dia main-main saja itu!” Tigor
tetap tenang, sedangkan pemilik warung dan anaknya
kelihatan menyimpan kecemasan.
Denny berusaha mempercepat larinya sambil tangan kirinya
memegangi tangan kanan supaya tak bergerak. Tapi,
bagaimanapun juga kekuatan tangan kiri itu tidak sebanding
dengan tangan kanannya. Sekali lagi tangan kanannya
bergerak cepat menampar wajah sendiri, kemudian
mencakarnya dengan ganas dan kuat sehingga sebagian kulit
wajah Denny mengelupas perih.
“Aaauw…!” teriak Denny begitu kuat menahan penderitaan
itu. “Tigooor…! Tigooor…! Aaaow…!”
Anak pemilik warung segera memandang ke arah jalanan
yang sepi dan gelap itu. Ia melihat sesosok bayangan manusia
yang berlari terhuyung-huyung dengan teriakan-teriakan kian
jelas. Angin yang berhembus kali ini berubah arah,
bertentangan dengan pelarian Denny, sehingga suara
teriakannya nyaris terbawa angin seluruhnya. Hanya anak
pemilik warung itu yang mendengar lebih jelas, sebab ia

49
melangkah beberapa meter dari depan warungnya. Ia segera
meng-huhungi Tigor dan herkata dengan tegang,
“Bang! Bang, itu teman Abang dalam bahaya! Ia berlari-lari
menuju kemari!”
Tigor tertawa dalam gumam. “Dia pasti ketakutan,
disangkanya ada setan yang mengejarnya! Mampuslah kau!
Sok berani dia!” Tigor tetap meremehkan temannya itu,
sehingga anak pemilik warung menjadi jengkel sendiri. Ia
tinggalkan saja Tigor yang menyepelekan pemberitahuannya.
Ia kembali melangkah di tempatnya semula dan memandang
dengan mata menyipit langkah-langkah Denny yang mulai tak
mampu secepat semula.
Denny tersungkur jatuh dengan menggeram-geram,
mengerahkan tenaganya untuk melawan gerakan tangan
kanannya itu. Tetapi, kekuatannya itu tak mampu menguasai
tangan kanannya yang hergerak sendiri di luar keinginannya.
Bahkan kali ini tangan kanan itu menjambak rambutnya
sendiri, kemudian mengangkat kepala dan membenturkan
kepalanya sendiri ke tanah. Berkali-kali tangan kanan itu
membentur-benturkan kepalanya ke tanah hingga kotor dan
berlumur darah. Sesekali Denny mencoba menahan hentakan
kepalanya, namun selalu gagal dan akhirnya batu runcing pun
mengenai keningnya beberapa kali, hingga makin deras darah
yang mengalir dari wajahnya.
“Aaaow! Aaaow! Aaaow…!” Denny berteriak kesakitan.
Kemudian ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa herdiri. Dan,
ia berhasil. Tangan kanannya bergerak kaku melepaskan
rambutnya. Gerakan kaku itu akibat kekuatan Denny memaksa
agar tangan tersebut tidak bergerak. Tangan kirinya segera
menarik turun tangan kanannya dengan kekuatan yang
terpaksa menguras tenaga.
Dalam keadaan melawan kekuatan gaib yang lelah merasuk
dalam tangan kanannya itu, Denny tetap melangkah cepat,
berlari ke arah warung. Erang dan tangisnya meraung di sela
kesunyian malam, dan hanya anak pemilik warung yang
mendengarnya.

50
“Man, ngapain kamu di situ?” tegur pemilik warung kepada
anaknya.
“Orang itu kesakitan, Pak!” jawab Man dengan perasaan
ngeri.
“Astaga…! Kenapa orang itu, Man?!” pemilik warung
terbengong memandangi Denny dengan mata menyipit. Makin
lama Denny semakin terlihat jelas dalam hembusan angin,
seakan ia menyongsong derasnya angin yang menderu.
“Aaaow…! Tigor…! Tolooong…!”
Kali ini, Tigor keluar dari warung bertenda plastik itu.
Denny berlari terhuyung-huyung dan tak tentu arah. Tigor
masih saja menganggap itu suatu sandiwara atau permainan
Denny. Ia bahkan berseru di sela tawanya,
“Hei, mabuk di mana kau?! Macam mana bisa mabuk kalau
cuma minum kopi, he he he…!”
“Bang, dia hersungguh-sungguh!” kata anak pemilik
warung.
Tigor tiba-tiba menghentikan tawanya. Wajahnya menjadi
tegang setelah Denny berjarak 7 meter darinya.
“Denny…?! Kenapa kau, hah?!” Buru-huru Tigor
menyambut Denny, namun tiba-tiba sewaktu ia hendak
meraih tuhuh Denny yang berwajah merah karena darah itu,
tangan kanan Denny menghantam dagu Tigor dengan keras.
Tigor memekik kesakitan dan terjengkang ke belakang hingga
jatuh terduduk di tanah. Sedangkan Denny masih mengerang,
ngotot hingga uratnya keluar semua. Ia menahan gerakan
tangan kanannya yang ingin menghantam kepalanya sendiri.
Dan, sekali lagi Denny menjerit kesakitan karena tangan
kanannya berhasil menghantam kepalanya dengan keras.
Dua tukang ojek itu segera mendekati Denny, karena
mereka curiga darah membasah di wajah Denny.
“Ada apa, Wak…?!” tanya salah seorang tukang ojek
kepada pemilik warung.
“Nggak tahu, tuh! Dia tahu-tahu menghajar temannya dan
memukuli dirinya sendiri!”
“Gila barangkali, dia!” kata tukang ojek yanj; lain.

51
Denny masuk ke warung dengan gerakan kaku dan
meraung-raung. Tangan kanannya yang masih mengejang
kaku, seakan-akan bergerak sendiri.
“Kasihan dia…!” tukang ojek yang jangkung hendak
menolong Denny dengan cara memegang kedua pundaknya.
Sayang sekali, sebelum tangan tukang ojek itu menyentuh
tubuh Denny, tangan kanan itu sudah lebih dahulu mengibas
dan menampar lelaki jangkung itu dengan keras. Tentu saja
lelaki jangkung itu terpekik kesakitan dan terhuyung-huyung
ke belakang.
“Oh… hooow… hhh! Aaaowh…!” Denny bersuara tak
karuan, membuat semua orang tak berani mendekati Denny.
Apalagi dalam keadaan wajah berlumur darah itu Denny
mendelik-delik dengan liar, oh… menyeramkan sekali. Pemilik
warung dan anaknya gemetaran, memandang dari luar
warungnya.
“Denny…?! Denny, apa yang terjadi, Denny?!” teriak Tigor
sambil mendekati Denny.
Mata Denny yang membelalak liar itu memandang sebuah
sendok garpu di atas piring kotor yang ada di sudut meja.
Agaknya piring itu bekas orang makan yang belum dicuci.
Seketika itu, samhil menggeram Denny menahan tangan
kanannya yang ingin bergerak mengambil garpu makan itu.
“Denny, apa-apaan kau sebenarnya, Bangsat!” bentak
Tigor. Ia dalam keadaan panik melihat Denny berlumur darah
wajahnya Lebih panik lagi setelah Denny terlihat
menggenggam sebuah garpu makan dengan tangan
kanannya. Garpu makan diacungkan ke arah diri sendiri.
Suara Denny menggeram, sementara tangan kirinya
menahan kuat-kuat gerakan tangan kanannya yang ingin
menikam diri sendiri.
“Oh, Tig…, Tigor… tolong aku…! Tangan kananku! Oh,
tangan ini sukar kukendalikan, dan…. Aaaow…!” Denny
menjerit lagi karena tangan kanannya berhasil
menghunjamkan garpu makan itu ke arah pundak kirinya,
dekat dengan leher.

52
Tigor hendak menyergap Denny, namun ia terpaksa
berpaling dan menghindar seketika, karena dengan cepat
tangan kanan itu bergerak mengibas dan mengenai pipi Tigor
hingga berdarah.
Jubb…!
“Hughhh…! Krrr… krrr…!”
“Edan kau! Edaaan…!” teriak Tigor dengan mata makin
membelalak ketika ia melihat Denny menusukkan garpu
bermata tiga itu ke arah tenggorokannya. Ia mendelik,
matanya terbeliak-beliak. Batang garpu masuk terbenam ke
bagian tengah leher, dan membuat Denny tak mampu bicara
lagi. Ia seperti kambing yang disembelih seketika.
Tigor mau menyergap bersama kedua tukang ojek, namun
masing-masing merasa ciut nyalinya dan takut terkena
sabetan garpu itu lagi. Tigor hanya bisa berseru.
“Jangan nekat, Denny! Jangan berpikiran picik! Kismi masih
bisa kau temani kalau kau hidup, tapi… tapi….”
“Aaahg…!”
Tepat pada saat itu Denny mendelik, membungkuk dan
akhirnya jatuh dengan darah tersembur dari jantungnya yang
terkena tusukan garpu yang kedua kalinya.
Anak pemilik warung memeluk ayahnya, tak tega melihat
peristiwa mengerikan itu. Dan, anak tersebut tak sempat
melihat, bagaimana susah payahnya Denny mencabut garpu
yang telah terbenam di jantungnya, kemudian berusaha
menikam dirinya lagi, dan berhasil mengenai ulu hati. Darah
semakin menyembur ke makanan atau toples tempat peyek
kacang. Darah menjadi berceceran di mana-mana.
Pada saat itu, Denny menjadi melemas. Sepertinya sudah
tak ada setan yang masuk dalam raganya. Lalu, jatuhlah ia.
Terkapar dekat bangku warung dengan berlumuran darah tak
bisa diharapkan lagi. Tigor bermaksud mencari mobil
ambulans atau mobil darurat untuk membawa Denny ke
rumah sakit. Tetapi, usaha itu rupanya tak pernah berhasil,
sebab beberapa saat kemudian, tubuh Denny itu tak mampu
bergerak lagi. Ia menghembuskan napasnya yang terakhir

53
dengan masih sempat menyebut kata: “Kismi” dalam desah
napas penghabisannya. Maka. meninggallah Denny dengan
keadaan dan suasana yang amat mengerikan.
Tigor tidak bisa berbicara sepatah kata pun melihat
kenyataan itu. Mulutnya seperti dibekukan, kerongkongannya
kering dan sukar untuk mengeluarkan suara. Lidahnya pun
seperti terbuat dari besi, kaku sekali untuk digerakkan.
Seorang tukang ojek mengambil inisiatif, menghubungi pos
polisi terdekat. Mereka mempunyai kesimpulan yang sama,
bahwa kematian Denny adalah satu tindakan bunuh diri, tanpa
campur tangan pihak lain.
Berita itu sempat membuat Hamsad nyaris jatuh pingsan di
rumahnya. Ade menghubungi Hamsad pada pagi hari, empat
jam setelah jenazah Almarhum Denny tiba di pondokan
mahasiswa. Hamsad merasa dibantai jiwanya dengan berita
kematian Denny. Bahkan, ketika ia bergabung dengan anakanak
pondokan, Hamsad sempat berlinang air mata melihat
wajah-wajah mereka dicekam duka, seakan menunggu giliran
untuk melakukan bunuh diri yang keji.
Hamsad terdengar berkata parau kepada Ade, “Setelah
Norman, Denny. Setelah Denny, siapa lagi?”
Seperti jenazah Norman dulu. Almarhum Denny pun
dimakamkan di kota asalnya: Madiun. Hampir semua teman
kost-nya turut memakamkan Denny ke Madiun. Hanya Tigor
dan Lukman yang tinggal di pondokan. Tigor merasa tidak
mampu menghadapi kenyataan tersebut. Tigor lebih merasa
dibantai jiwanya, karena ia sempat menyepelekan teriakan
Denny yang meminta tolong pada waktu itu. Rasa sesalnya
begitu besar, dan membuat Tigor lebih sering mengunci
mulutnya ketimhang harus bercerita kepada siapa pun yang
bertanya kepadanya. Sedangkan Lukman, waktu itu dalam
keadaan sakit. Ia tak bisa ikut menghadiri upacara
pemakaman jenazah Denny di Madiun. Tetapi, dialah orang
pertama yang menangis tersengguk-sengguk ketika melihat
keadaan Denny sudah menjadi mayat. Beruntung waktu itu
keluarga Denny berkumpul di rumah Bu Anis, sehingga

54
Lukman masih bisa mengantarkan jenazah Denny ke rumah
Bu Anis, namun tidak mampu lagi ikut ke Madiun.
Tentu saja setiap orang bertanya-tanya: Mengapa kematian
Denny mempunyai kesamaan dengan kematian Norman?
Masing-masing mati oleh tangannya sendiri. Bunuh diri. Tapi,
faktor apa yang membuat mereka bunuh diri, masih belum
mendapat suatu kesimpulan yang pasti. Ada yang
mengatakan, pondokan mereka angker dan meminta korban
entah berapa jumlahnya. Ada lagi yang beranggapan, Denny
dihampiri roh Norman dan diajaknya pergi dengan cara seperti
yang dilakukan Norman semasa hidupnya. Sementara yang
lain mengatakan, itu hanya satu hal yang kebetulan saja.
Kebetulan Denny punya masalah yang mengerdilkan jiwanya,
sehingga ia berani melakukan bunuh diri.
Hanya satu orang yang mempunyai dugaan aneh di dalam
pertemuan tak resmi yang mereka adakan di kamar Bahtiar,
dua hari setelah jenazah Denny dimakamkan. Orang yang
mempunyai dugaan aneh itu adalah Hamsad. Karena dialah
yang mempunyai firasat buruk pada saat-saat menjelang
kematian Norman dan Denny.
“Keduanya sama-sama jatuh cinta pada Kismi,” kata
Hamsad. Kemudian, mereka memberikan reaksi serupa.
Bungkam. Benak mereka sama-sama menerawang pada cerita
Denny tentang Kismi.
Bahtiar bertanya pada diri sendiri, dengan ucapan yang
sempat didengar oleh teman-temannya, “Mungkinkah
keduanya menjadi picik hanya karena jatuh cinta?”
“Tiap-tiap orang mempunyai ketahanan jiwa yang
berbeda,” ujar Ade. “Pada saat mencapai klimaks persoalan,
jiwa manusia mudah menjadi rapuh. Yang terlintas dalam
logiknya hanya jalan pintas menyelesaikan persoalan tersebut.
Dan, mungkin bagi kedua korban itu sama-sama sependapat,
bahwa jalan pintas yang terbaik adalah bunuh diri.”
Tigor mulai tertarik dengan pembicaraan tersebut. Ia
berkata dengan suara pelan, masih bernada duka,
“Wanita itu sebenarnya tidak ada!”

55
Kini, semua mata memandang ke arah Tigor. Hanya
Hamsad yang masih memandang ujung kakinya yang
melonjor, namun telinganya menyimak kata-kata Tigor. Ia
mendengar Tigor berkata lagi,
“Petugas motel itu, aku rasa tidak ada yang kenal dengan
Kismi. Jadi, kubilang Kismi itu hanya ada dalam khayalan
mereka.”
“Dan mereka mati karena khayalannya sendiri, begitu
maksudmu?” tanya Yoppi.
“Begitulah! Buktinya petugas motel berkeras untuk
mengatakan, bahwa di situ tidak ada perempuan yang
bernama Kismi! Dari pukul 7 malam sampai pukul 10 malam
aku dan Denny menunggu perempuan itu, nyatanya tidak
ada!”
“Denny mengatakan, perempuan itu adalah perempuan
eksklusif, yang keberadaannya sendiri dirahasiakan oleh
petugas motel. Barangkali hal itu dimaksud agar reputasi Kismi
yang sebenarnya tidak jatuh di mata mereka. Mungkin Kismi
seseorang yang punya reputasi tinggi, punya jabatan
fungsional, punya karir yang gemilang, sehingga kalau setiap
orang mengenal dia sebagai perempuan kehausan, alangkah
memalukan sekali? Karena itu, Denny juga berkata, bukan?
Bahwa, Kismi bukan perempuan sembarangan yang mudah
disentuh oleh lelaki. Dia tidak seperti wanita-wanita penghibur
lainnya, yang sekali panggil pasti akan datang!” celoteh Susilo
sambil memainkan korek api.
Siapa sebenarnya Kismi? Di mana tempat tinggalnya?
Menurut Hamsad, hanya Pak Hasan yang mengetahui hal itu.
Karena, Norman mengenal Kismi lewat pesanan dari Pak
Hasan. Hamsad masih ingat cerita Almarhum Norman, bahwa
ia datang ke motel itu dibawa oleh Pak Hasan sebagai service
pemancing spirit untuk tulisan yang akan disusun oleh
Norman. Pak Hasan-lah yang memesankan seorang
perempuan untuk Norman, karena waktu itu, tahu-tahu
Norman dihampiri seorang perempuan sedangkan Pak Hasan
mungkin mengambil perempuan lain untuk dirinya sendiri.

56
Jadi, Pak Hasan-lah sebenarnya yang memegang rahasia
tentang siapa Kismi dan di mana Kismi.
Tanpa memberitahukan kepada yang lain masalah Pak
Hasan itu, Hamsad segera menghubungi Pak Hasan melalui
telepon. Kebetulan, ketika Hamsad jalan-jalan di pantai, ia
sempat bertemu dengan Pak Hasan dan disuruh
menghubunginya sewaktu-waktu. Maka, kali ini ia ingin
membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran fast food.
Pak Hasan sebenarnya punya bahan pembicaraan sendiri.
Ia ingin berbicara tentang kematian Norman dan tawaran buat
Hamsad mengenai penulisan tentang buku-buku. Tetapi,
Hamsad lebih dahulu bertanya,
“Siapa Kismi itu sebenarnya, Pak?”
Pak Hasan kelihatan bingung, tak mengerti maksud
Hamsad. Ia menggumam, “Kismi…?! Maksudmu, Kismi apa
ini? Kismi makanan atau…?”
“Norman bunuh diri sejak ia dibawa oleh Bapak ke Motel
Seruni, dan di sana ia bercinta dengan Kismi.”
“Ya. Memang aku yang mengajaknya ke motel, tapi dia
menolak perempuan yang kukirimkan untuknya. Malahan
perempuan itu bilang, bahwa Norman telah mempunyai
pasangan sendiri. Mungkin, perempuan itu yang bernama
Kismi. Tapi, aku tak tahu, Norman dapat dari mana
perempuan itu.” tutur Pak Hasan kelihatan serius sekali.
Hamsad masih curiga. “Jadi, Pak Hasan benar-benar tidak
mengenal perempuan yang bernama Kismi?”
“Tidak. Mendengar nama itu pun aku baru sekarang.” Pak
Hasan tertawa pendek. “Kusangka tadinya Kismi itu nama
makanan. Jadi, tadi aku sedikit bingung.”
Hamsad tersenyum tawar, kemudian menghempaskan
napas. Rona duka terlihat samar-samar di wajah itu, membuat
Pak Hasan berbalik curiga kepada Hamsad.
“Ada apa sehenarnya, Ham? Apa benar kematian Norman
karena mengenal perempuan bernama Kismi?”
‘Ya. Benar. Tempo hari, ketika saya bertemu Pak Hasan di
pantai, saya dengan teman saya mencari perempuan yang

57
bernama Kismi. Teman saya, Denny, berhasil bertemu dengan
Kismi, tapi ia tidak sempat berbicara panjang lebar mengenai
Norman. Ia terbuai dan bergumul dengan Kismi sampai pagi.
Badannya lemas, wajahnya jadi pucat seperti mayat hidup.
Beberapa hari yang lalu, Denny pun mati karena bunuh diri.”
“Hah…?!” Pak Hasan mendelik.
“Denny menikam leher, jantung dan ulu hatinya dengan
garpu makan di sebuah warung. Menurut saksi mata, ia
menghempaskan napas terakhir sambil menyebutkan nama
Kismi.” Hamsad menelan ludahnya sendiri, seperti memendam
suatu kepedihan. Pak Hasan melihat kesungguhan di wajah
Hamsad, dan hal itu membuatnya berdebar-debar.
Setelah Hamsad menceritakan secara detail tentang
kematian Norman, juga proses kematian Denny, Pak Hasan
pun akhirnya berkata, “Misterius sekali. Aku jadi tertarik untuk
menemui perempuan itu.”
“Apakah Bapak bisa membujuk petugas motel?”
“Kenapa tidak!? Pemilik motel itu temanku satu kampung.”
***
Bab 7
Memang benar. Pemilik motel itu adalah teman sekampung
dengan Pak Hasan. Tetapi, sayangnya Pak Hasan merasa
keberatan jika Ham-sad ikut menghadap pemilik motel itu.
Hamsad hanya diizinkan menunggu di lobby, sementara Pak
Hasan terlibat pembicaraan dengan pemilik motel di dalam
kantornya. Sore itu, Hamsad merasa seperti kambing congek,
terbengong sendirian di lobby. Hatinya dongkol, karena tak
diizinkan ikut dalam pembicaraan tersebut. Alasan Pak Hasan,
karena temannya yang menjadi pemilik motel itu dalam
keadaan cacat, dan ia tak mau orang lain melihat kecacatan
fisiknya. Mau tak mau Hamsad menerima alasan tersebut.
Matahari hampir terbenam seluruhnya. Hamsad masih
berharap, mudah-mudahan ia bisa bertemu dengan
perempuan yang bernama Kismi di lobby itu. Paling tidak

58
melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan
Norman dan Denny, dan Hamsad akan berusaha mengenal
perempuan itu. Sayangnya, tamu-tamu yang memasuki lobby
tidak satu pun ada yang punya paras cantik dan punya pesona
mirip ratu Mesir Kuno. Rata-rata perempuan yang masuk ke
lobby mempunyai paras standar, biasa-biasa saja. Tak ada
yang istimewa. Kalau tidak istimewa, berarti dia bukan Kismi.
Sambil merenungkan misteri kematian Norman dan Denny,
Hamsad berhasil menemukan satu kejanggalan. Kejanggalan
itu, tempo hari dikatakan rusak AC-nya, dan sering tersumbat
saluran airnya. Tetapi, nyatanya ketika Hamsad masuk
menemui Denny, kamar itu ber-AC. Lancar. Timbul rasa curiga
dalam hati Hamsad, mengapa bagian resepsionis waktu itu
setengah tidak mengizinkan mereka membocking kamar,
Seruni? Kamar masih ada dua yang kosong, tapi dikatakan:
“Tinggal satu kamar yang belum di-bocking.” Ini aneh dan
janggal bagi Hamsad.
Kecurigaan kedua, mengapa Norman dan Denny bisa
bertemu dengan Kismi di kamar itu? Bagaimana dengan kamar
lain? Apakah Kismi mau datang ke kamar lain juga? Mengapa
pula Kismi tidak meminta uang lelah kepada Norman dan
Denny? Bukankah Kismi bekerja sebagai wanita penghibur?
Bukankah yang dibutuhkan dalam hal itu adalah uang?
Iseng-iseng, Hamsad mendekati bagian resepsionis. Kali ini
yang bertugas bukan orang yang dulu, tetapi orang yang
sebenarnya pernah ditemui Denny dan Tigor. Hanya saja,
Hamsad tidak tahu tentang pemuda tersebut.
“Masih ada kamar kosong, Mas?” sapa Hamsad dengan
ramah.
“Masih,” jawab bagian resepsionis dengan ramah pula.
“Mau bocking kamar?” tawarnya. Hamsad hanya tersenyum
dalam ketenangan sikapnya.
“Saya tunggu keputusan dari teman saya yang sedang
menemui pemilik motel ini. Kalau dia mengajak bermalam di
sini, yah… mau tak mau kami bocking dua kamar.” Padahal

59
rencana itu tidak ada dalam pembicaraan Hamsad dengan Pak
Hasan.
“Hari ini, agak sepi,” kata petugas resepsionis. “Lain halnya
jika malam Minggu. Kalau malam-malam seperti ini, apalagi ini
malam Jumat, biasanya kamar kami banyak yang kosong.
Kalau Bung jadi bermalam di sini, Bung bisa bebas memilih
kamar sesuai selera.”
“O, begitu, ya?! Jadi, bisa saja saya memilih kamar Seruni,
ya?”
Pemuda petugas resepsionis itu sedikit menggeragap.
“Hm… kalau kamar itu, wah… kebetulan tadi siang sudah ada
yang bocking. Kamar itu sudah diisi, Bung.”
“Ooo…?!” Hamsad manggut-manggut. “Kalau boleh saya
tahu, lelaki atau perempuan yang memakai kamar Seruni itu?”
“Lelaki. Mungkin dia orang seberang.”
“Sendirian?”
“Ya. Sendirian. Barangkali sebentar lagi partnernya
datang.”
“Apa dia langganan di sini? Maksud saya, sering datang dan
bermalam di sini dengan seorang perempuan?” makin lama
pertanyaan Hamsad makin bersifat pribadi. Petugas itu agak
sulit menjawab. Ia hanya tersenyum-senyum yang a-khirnya
berkata,
“Sebenarnya, kami tidak boleh bicara soal itu, Bung. Tapi,
karena kebetulan tadi saya juga yang menerima tamu itu, jadi
kalau boleh saya katakan, bahwa saya baru sekali ini bertemu
dengan orang tersebut. Saya rasa, dia juga baru kali ini
datang kemari, Bung.”
Hamsad manggut-manggut sambil menggumam. Petugas
itu berkata lagi,
“Kalau Bung mau, bisa memilih kamar yang lain. Kamar
Seroja juga bagus. Bung. Strategis dan romantis letaknya. Dia
ada di tepi pantai. Bung bisa melihat ombak dari terasnya.”
“Kalau saya mau, saya akan memilih kamar Seruni,” kata
Hamsad pelan, sepertinya sekadar basa-basi saja.

60
“Kamar itu jarang dipakai, Bung,” bisik petugas resepsionis,
nada bicaranya mencurigakan.
“Kenapa? AC-nya rusak? Saluran airnya tersumbat?”
Petugas itu tertawa pendek. “Itu hanya alasan kami.
Sebenarnya, kami menghindari kamar itu dari para tamu.
Kalau tidak memaksa sama sekali, kami tidak izinkan para
tamu menggunakan kamar tersebut.”
“Alasannya?” desak Hamsad semakin penasaran.
“Kamar itu angker, Bung.” Kali ini suaranya yang berbisik
namun ditekankan kalimatnya itu, membuat Hamsad menjadi
merinding seketika. Ia memandang ke arah luar, ternyata
malam mulai datang. Suasana tak secerah waktu ia tiba di
motel ini. Dan, suasana malam itu makin membuat Hamsad
berdebar-debar setelah mendengar jawaban petugas tersebut.
Sebenarnya Hamsad ingin bertanya lebih lanjut mengenai
kamar Seruni, sayangnya petugas itu harus menemui tamu
yang hendak mem-bocking kamar. Hamsad ditinggalkan, dan
kini ia kembali ke meubel lobby, duduk di sana merenung diri.
Hatinya menjadi galau. Resah. Batinnya bertanya-tanya,
“Benarkah kamar itu angker? Jika benar begitu, mengapa
begitu mudah petugas resepsionis itu mengatakannya
kepadaku? Seharusnya dirahasiakan. Ini menyangkut prestise
motel ini sendiri, kan? Ah, kurasa ia mengada-ada. Dengan
cara begitu, diharapkan aku tidak kecewa dan mau memilih
kamar lain. Brengsek!
Itu hanya teknik propagandanya saja!”
Hamsad mendesah kesal. Pak Hasan terlalu lama ngobrol di
dalam dengan pemilik motel yang juga sebagai manager.
Untuk menghilangkan kejenuhannya, Hamsad melangkah
keluar dari lobby, menikmati udara malam di luar lobby. Dalam
pikirannya sempat terlintas satu harapan. “Mudah-mudahan
cewek yang akan datang ke kamar Seruni ituadalah Kismi.
Kalau benar yang akan melayani tamu di kamar Seruni itu
Kismi, maka ada baiknya kalau aku menghadangnya di sini.
Kismi pasti akan berjalan lewat arah sini untuk menuju kamar
Serani. Mungkin aku bisa menyapanya, setidaknya melihat

61
dengan mata kepala sendiri kecantikan yang konon istimewa
itu.”
Harapan itu adalah harapan yang sia-sia. Karena, sebelum
Kismi muncul, Pak Hasan telah keluar dari lobby dan
melambaikan tangan kepada Hamsad, memanggil. Mereka
kembali duduk di lobby. Pak Hasan berkata kepada Hamsad,
“Aku sudah mendesaknya beberapa kali, tapi dia tetap
mengatakan, tidak ada ‘anak buahnya’ yang bernama Kismi.
Bahkan ia mengingatkan padaku, agar jangan sekali-kali
menggunakan kamar Seruni.”
“Kenapa, katanya?”
“Kamar itu angker!” bisik Pak Hasan dalam ketegangan.
Hamsad sedikit terperanjat dan merasa heran, karena
pernyataan itu sama dengan pernyataan petugas resepsionis
tadi.
“Saya tidak yakin, Pak!” kata Hamsad. “Saya rasa itu satu
cara untuk mempromosikan kamar-kamar lainnya.”
“Kalau tidak percaya, malam ini juga aku disuruh
membuktikannya, Ham!”
“Percuma. Pak. Kamar itu sudah dibocking orang.”
“Hah…?!” Pak Hasan terperanjat.
“Jadi, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Hamsad dengan
perasaan masih kesal akibat kegagalan menyelidik tentang
Kismi.
“Ham, kita disuruh cek ke beberapa tempat yang
menampung wanita-wanita penghibur. Terutama di Panti Pijat
Mahaiani. Karena, wanita-wanita di sana sering diambil kemari
untuk melayani tamu yang membutuhkannya. Bagaimana
kalau kita ke sana untuk mencari Kismi?”
Setelah dipertimbangkan sejenak, Hamsad menjawab, “Kita
coba saja!”
Sebenarnya Hamsad tidak begitu bersemangat.’ Dalam
hatinya ia berkata, “Pasti tidak ada yang bernama Kismi. Kalau
toh ada, pasti Kismi sedang keluar, sebab kamar Seruni itu
ada yang menempati. Tapi, coba sajalah. Barangkali ada halhal
baru yang bisa dijadikan pertimbangan.”

62
Dugaan Hamsad menjadi kenyataan. Ia tidak memperoleh
apa-apa di Panti Pijat Maharani itu. Tidak ada yang bernama
Kismi, tidak ada yang mengenal Kismi, kendati mereka
mengaku sering diambil ke Motel Angel Flowers. Kemudian,
Pak Hasan dan Hamsad menuju ke Panti Pijat Ibu Endang,
konon terkenal banyak pengunjungnya. Tetapi, di sana juga
tidak ada yang bernama Kismi.
Gagal sudah. Malam itu, Hamsad pulang tanpa membawa
hasil. Hanya sedikit data tentang kamar Seruni yang katanya
angker itu. Tapi, Hamsad tidak menghiraukan kata-kata
petugas resepsionis tadi. Kemudian, dalam ketermenungannya
itu ia mendapatkan gagasan baru. Ia berkata dalam hati. “Aku
harus bermalam di sana! Barangkali dengan bermalam di
sana, aku bisa menemukan apa yang kucari. Kismi. Dan, dari
Kismi aku bisa memperoleh kesimpulan, mengapa kedua
temanku itu mati bunuh diri? Kapan aku harus ke sana?
Besok? Ah, jangan! Besok aku ada acara dengan Lista. Cewek
itu menggemaskan juga sih. Siapa tahu dia mau nyantol
padaku. Lumayan, kan?”
Acara yang dimaksud Hamsad adalah menghadiri reuni SMP
tempat Lista dulu. Acara itu cukup sederhana, namun sudah
tentu mengesankan bagi mereka yang pernah satu bangku
dan satu sekolah semasa SMP. Sedangkan Hamsad sendiri,
tidak mempunyai kesan apa-apa, kecuali mendampingi Lista.
“Kenapa kau membawaku kemari? Aku kan tidak punya
kenalan di sini? Mereka tidak mengenalku,” kata Hamsad.
“Justru aku ingin mengenalkan kamu kepada mereka
sebagai pacarku,” kata Lista yang berpenampilan tomboy.
“Apa? Sebagai pacarmu? Pacar cap apa aku ini? Bercinta
belum sudah mengaku pacaran!”
“Ah, cuek sajalah! Supaya aku kelihatan laku!”
“Kenapa kau tidak mencari pacar yang sebenarnya saja?!”
“Malas! Bikin repot karirku saja!” jawab Lista . seenaknya.
Yang lebih menyebalkan lagi. dalam pesta reuni itu Lista
justru asyik ngobrol dengan cowok-cowok bekas teman SMPnya
yang sekarang, menurut Lista, sudah kelihatan gantengTiraikasih

63
ganteng semua. Hamsad merasa dikesampingkan oleh Lista,
sehingga hampir-hampir ia pulang sendiri tanpa setahu Lista.
Malam itu, Hamsad hanya memperoleh kedongkolan pergi
dengan Lista. Ia merasa jera. Tak mau lagi pergi ke mana saja
dengan Lista. Gadis itu egois. Ia hanya mementingkan diri
sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Untung saja
malam itu Hamsad bisa lekas tertidur, sehingga kedongkolan
hatinya pun cepat reda.
Hanya saja, esok harinya, Hamsad bangun sedikit siang. Ia
memang bermaksud tidak kuliah. Malas. Karenanya, ketika
adiknya membangunkan, Hamsad hanya menggeliat dan tidur
lagi.
Tetapi, kali ini ia dibangunkan oleh mamanya karena ada
seorang teman yang ingin bertemu dengannya. Hamsad
malas, tapi mamanya memaksa. Bahkan mamanya berkata,
“Kalau kau ingin jadi pemalas, cari pondokan lain, seperti dulu
lagi! Jadi, kau bisa bebas mau bertingkah apa saja!”
Tak tahan mendengar omelan mamanya, Hamsad pun
turun dari pembaringan. “Siapa yang mencariku?”
“Temanmu! Bahtiar!”
Benar. Bahtiar yang datang pagi itu, sekitar pukul 9 kurang.
Hamsad mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa
mengantuk. Ia berdiri dengan lesu, bersandar pada kusen
pintu. Suaranya parau dan malas, “Ada apa, Tiar…?! Bikin
kagok orang tidur saja kau, ah!”
Bahtiar tidak langsung menjawab. Ia memandang Hamsad
yang menguap sambil mengencangkan otot-ototnya.
Kemudian, Hamsad menghampiri Bahtiar di kursi tamu, duduk
di depan Bahtiar dengan loyo.
Mendadak ia jadi curiga melihat Bahtiar berwajah sendu.
Kecurigaannya itu membuat Hamsad menjadi serius, dan
bertanya lagi, “Ada apa sih?!”
“Ham…,” kata Bahtiar sedikit gagap. “Ada… ada korban lagi
dari teman kita.”
“Hah…?!” Hamsad terperanjat baru mendengar kata-kata
itu. “Korban?! Maksudmu?”

64
“Tigor, bunuh diri!”
“Gila!” teriak Hamsad sambil menggebrak meja, untung
meja kaca itu tak sampai pecah, hanya asbaknya yang
terpental.
“Tigor bunuh diri?! Tigor…?!” Hamsad seperti orang tak
percaya terhadap pendengarannya sendiri. Bahtiar
mengangguk dalam kesedihan.
“Peristiwanya terjadi tadi malam, sekitar pukul dua hampir
pagi,” tutur Bahtiar.
“Meng… mengapa? Mmmeng… mengapa ia bunuh diri?
Apa alasannya, Tiar?!” Hamsad gemetar dan napasnya
terengah-engah. Deburan di dalam dadanya membuat ia
sedikit gemetar.
“Kemarin malam, ia penasaran. Ia datang ke motel, tempat
Norman dan Denny menginap….”
“Kemarin malam? Bukan tadi malam, kan?” tegas Hamsad.
“Kalau kemarin malam…? Berarti…? Berarti waktu itu aku ada
di sana bersama Pak Hasan! Gila betul dia? Jadi… oh, ya…
aku memang menanyakan kamar Seruni, dan petugas motel
itu menjawab, bahwa kamar itu ada yang menyewanya. Aku
tidak tahu kalau orang itu adalah Tigor?! Aaah…! Gila semua!”
Hamsad bagai orang kesetanan. Matanya yang masih merah
karena habis bangun dari tidur itu membelalak lebar, penuh
kemarahan. Tapi, ia tak tahu, kepada siapa ia harus marah?
Di perjalanan menuju pondokan Tigor dan teman-teman
yang lainnya, Bahtiar menjelaskan tentang kematian Tigor.
“Siangnya dia kembali, dan bercerita kepada kami, bahwa
ia berhasil bertemu dengan wanita yang mengaku bernama
Kismi. Menurutnya, Kismi memang cantik. Luar biasa
kecantikannya. Kismi hebat di ranjang. Luar biasa
kehebatannya. Dan, menurutnya, Kismi muncul setelah lewat
tengah malam. Pintu kamarnya diketuk, dan ternyata Kismilah
yang datang.”
“Tigor memesan Kismi dari siapa?”
“Ia tidak memesan Kismi. Ia yakin, bahwa Kismi itu setan.
Ia sengaja ingin bertemu setan di situ, dan usahanya itu

65
berhasil, la bahkan bangga, karena bisa menjinakkan setan,
Kismi bukan hantu yang menakutkan menurut Tigor, justru
sebaliknya, Kismi hantu yang membuat lelaki betah tinggal
bersamanya.”
“Lalu, kenapa Tigor bunuh diri?”
“Karena ia ingin bertemu dengan Kismi lagi, barangkali! Itu
dugaan kami. Tigor ingin bertemu Kismi, tapi tidak punya
uang sewa Seruni yang cukup mahal itu. Kemudian, ia
mengambil pisau badiknya, dan menusuk-nusuk dirinya sendiri
sampai beberapa kali. Lukman berhasil memukul tengkuk
kepala Tigor, dan pingsan. Waktu itu, tubuh Tigor sudah
berlumur darah. Tetapi, anehnya… tangan kanannya yang
memegang badik sukar dicabut. Tangan kanannya itu justru
bergerak sendiri, hampir menikam perut Ade.”
“Kemudian, bagaimana cara kalian mengatasi?”
“Tidak ada yang bisa mengatasi! Kami melihat sendiri
tangan kanan itu menikam ulu hatinya sendiri, padahal Tigor
dalam keadaan pingsan oleh pukulan Lukman. Dan… dan
setelah tangan kanan itu merasa puas menikam-nikam
tubuhnya sendiri, lalu ia berhenti. Lemas. Pisau badiknya
tergeletak. Waktu itu, Tigor masih sempat terlihat napasnya,
dan kami melarikan dia ke rumah sakit. Tetapi, di perjalanan
Tigor menghembuskan napas terakhirnya.” Bahtiar menghela
napas, sedikit tersendat-sendat, mungkin karena menahan
duka atas kematian temannya yang tragis itu.
“Tangan kanan…?!” gumam Hamsad sambil mengemudikan
mobilnya “Lagi-lagi tangan kanannya! Norman, Denny, dan
kini Tigor, masing-masing bunuh diri dengan tangan
kanannya. Masing-masing mempunyai persamaan yang
sekarang baru kusadari, bahwa tangan mereka bergerak
dengan sendirinya. Jadi, ada satu kekuatan yang
menggerakkan tangan kanan mereka, lalu menikam diri
mereka masing-masing. Oh… mengerikan sekali!”
Madi,-menurutmu ada satu kekuatan yang merasuk pada
tangan kanan mereka?” tanya Bahtiar.

66
“Kurasa memang begitu. Roh seseorang masuk dalam
tangan kanan mereka, dan membunuh mereka sendiri.
Dengan begitu, tak ada orang yang dicurigai oleh pihak yang
berwajib.”
Bahtiar bergidik. Lalu, ia menggumam lirih, “Sudah pastikah
bencana itu datang dari perempuan yang bernama Kismi?” Ia
melirik Hamsad, seakan meminta pendapat. Hamsad diam
saja. Lama sekali ia terbungkam sambil mengemudikan
mobilnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata,
“Akan kucoba menaklukkan dia!”
Bahtiar buru-buru berpaling memandang penuh perasaan
cemas. “Kau., kau hendak mencobanya seperti Tigor?”
“Yah…!” Hamsad mengangguk sambil mendesah.
“Kupikirkan dulu cara menaklukkannya, baru akan kutantang
hantu keparat itu!”
“Berbahaya, Ham! Jangan coba-coba berjudi dengan
maut!” bisik Bahtiar merasa ngeri mendengar tekad Hamsad.
“Kau mau membantuku?” Hamsad melirik Bahtiar.
“Aku masih ingin hidup beberapa saat,” jawab Bahtiar.
“Kalau begitu aku akan lakukan hal itu sendiri…!” Hamsad
berkata dengan tenang, datar, seakan di dalam dadanya telah
mendidih darah kemarahan yang sukar didinginkan kembali.
Bahtiar makin ngeri melihat rona wajah Hamsad yang
memancarkan dendam. Ia bagai seseorang yang sudah siap
untuk mati.
***
Bab 8
Tekad Hamsad sudah hulat, ia harus menemui Kismi. Ia
ingin membuktikan segalanya, dan mencari jawaban yang
pasti tentang Kismi, juga tentang kematian Norman, Denny,
dan Tigor. Di dalam hatinya ia menyimpan dendam, dan
dendam itu yang menuntut pembalasan.
Karena itu, pukul 4 sore itu, Hamsad sudah membocking
kamar Seruni. Ia belum tahu, bagaimana caranya menghadapi

67
Kismi kalau benar wanita itu adalah hantu. Ia hanya punya
keyakinan, bahwa ia akan bisa mengatasi Kismi dengan
beberapa doa yang pernah diajarkan oleh kakeknya ketika ia
masih di SMP. Ada beberapa doa yang konon bisa untuk
mengusir hantu. Dulu, Hamsad pernah mendapat pelajaran
mengusir hantu dari kakeknya, tapi satu kali pun belum
pernah ia gunakan. Kali ini, ia ingin mencoba kekuatan magis
dari doa tersebut untuk mengalahkan Kismi.
Hati Hamsad belum terlalu berdebar-debar, karena ia ingat
cerita para korban, bahwa Kismi akan muncul pada saat
tengah malam. Karena sekarang masih pukul 4 lebih, rnaka
tak ada yang perlu dicemaskan, tak ada yang perlu ditakutkan.
Yang harus ia lakukan adalah mempersiapkan segala
sesuatunya, di antaranya menghafal doa pengusir setan itu.
Debur ombak dan angin senja membaur. Suasana di motel
itu terasa lengang, sepi, namun terlihat beberapa kesibukan
manusia yang seakan bergerak dan bekerja tanpa suara
sedikit pun.
“Aneh…! Mengapa mereka melangkah bagai tanpa suara?
Mengapa mobil di jalan raya itu bergerak hanya
memperdengarkan suaranya yang samar-samar? Alam ini
menjadi lengang, seperti lorong menuju alam kematian. Oh,
mungkinkah aku akan menemukan ajalku di sini juga?” pikir
Hamsad sambil duduk di teras kamar Seruni. Tak lama
kemudian, terdengar suara adzan magrib sayup-sayup sekali.
Langit menjadi merah lembayung. Mentari mulai
menyembunyikan diri.
Iseng sekali Hamsad duduk sendirian di teras. Kebetulan
seorang petugas motel yang biasa disebut sebagai room-boy
sedang melintas di depan teras kamar Hamsad. Orang itu
sudah tua, tapi gerakannya masih lincah, penuh semangat
kerja.
“Pak…!” panggil Hamsad, kemudian melambaikan tangan.
Pelayan tua itu mendekat dengan senyum ramah.
“Pak, bisa mencarikan saya makanan kecil?”
“Maksud, Tuan?”

68
“Yah… semacam kacang mete, atau emping.”
“O, bisa. Di restoran kami tersedia makanan itu. Mau
kacang mete atau emping?” pelayan tua itu ganti bertanya.
“Emping saja deh! Atau… emping sama kacang mete juga
boleh.”
Pelayan itu mengambilkan pesanan yang telah di pesan
Hamsad. Waktu itu, Hamsad segera masuk dan memeriksa isi
kulkas. Oh, lumayan ada dua kaleng bir sebagai selingan. Ia
mengeluarkan salah satu, dan membukanya sambil matanya
memandang ke arah TV yang dinyalakan dari tadi.
Tak berapa lama, pelayan datang membawakan emping
pesanan Hamsad.
“Masuk saja, Pak!” teriak Hamsad, malas membukakan
pintu karena ada acara menarik di TV.
“Sendirian saja, Tuan?” tanya pelayan itu sambil cengarcengir.
“Ya. Sendirian. Kenapa, Pak?” pancing Hamsad.
“Tidak membutuhkan teman buat ngobrol-ngobrol?”
“Teman perempuan maksudnya?”
Pelayan berambut uban itu terkekeh sesaat,
“Kalau teman lelaki sih buat apa, Tuan?”
Hamsad ikut tertawa sekadarnya. Ia membuka plastik
emping sambil bertanya, “Apa… apa kamu bisa sediakan
perempuan cantik, Pak?”
“O, bisa! Bisa saja, Tuan! Mau cari yang modelnya seperti
apa?”
‘Yang paling cantik. Kalau bisa yang seperti Ratu Mesir
Kuno!”
Bapak itu terkekeh lagi. la berdiri dengan sikap
menghormat, sopan, sekalipun merasa geli dengan kata-kata
Hamsad, tapi ia tetap sopan.
“Bisa, Pak?” desah Hamsad. Ia berjalan ke ruang tamu, dan
duduk di meubel yang ada di situ.
“Saya belum pernah melihat Ratu Mesir Kuno, Tuan,”
katanya. “Lagi pula, bagi saya, semua perempuan itu ratu.”

69
Hamsad sempat tertawa keras mendengar banyolan
pelayan tua itu. Ia tertarik untuk mengajaknya bicara,
sehingga ia perlu mempersilakan bapak itu duduk di kursi.
“Bapak namanya siapa. Pak?”
“Saya…, Kosmin. Kalau perlu apa-apa bisa panggil saya
saja lewat telepon, Tuan.”
“Ah, paling-paling yang kuperlukan ya soal perempuan itu
tadi. Pak.”
“Bisa juga! Tempo hari ada yang memesan perempuan dua
sekaligus! Tamu itu seorang lelaki yang usianya lebih tua dari
Tuan, dan ia memakai dua perempuan dalam satu kamar.
Saya juga yang mencarikan. Dia minta perempuan yang
separuh baya, tapi masih kelihatan cantik dan montok, saya
terpaksa mencarikannya ke beberapa tempat yang saya
kenal….”
“Berhasil?”
“Berhasil juga, Tuan.”
“Kalau begitu, carikan saya yang paling cantik.”
“Boleh. Kapan saya suruh kemari?” tanya Pak Kosmin
dengan penuh semangat. Hamsad tersenyum kalem sambil
mengunyah emping.
“Cantik sekali, nggak? Kalau nggak cantik sekali, saya
nggak mau, Pak!”
“O, ditanggung memuaskan, Tuan! Saya punya kenalan
yang jarang saya suguhkan pada tamu-tamu di sini. Biasanya
yang suka pakai dia… beberapa boss dari luar negeri.
Perempuan itu memang biasanya dibawa ke luar negeri oleh
boss-boss minyak. Baru seminggu yang lalu ia pulang dari
Itali.”
Hamsad makin tertarik, ia memperhatikan Pak Kosmin yang
bermata cekung itu, lalu bertanya dengan penuh harap,
“Namanya siapa, Pak?”
“Gea. Nama lengkapnya saya tidak tahu, tapi ia selalu
memperkenalkan diri dengan nama: Gea!”

70
Hamsad kelihatan mengeluh kecil. Ia kurang menggebugebu.
Namun, ia membiarkan pelayan itu meneruskan
promosinya tentang Gea. Setelah itu, baru Hamsad bertanya,
“Pak Kosmin bisa mencarikan perempuan yang bernama
Kismi?!”
Pak Kosmin tampak terperanjat sekalipun berusaha
disembunyikan. Hamsad mengetahui hal itu, dan ia segera
mengusap tengkuk kepalanya yang sejak tadi bergidik bulu
romanya. Sejak tadi! Hanya saja, Hamsad tadi bisa menahan
diri untuk bersikap biasa-biasa saja.
“Bagaimana, Pak? Kok malah melamun?” tegur Hamsad
setelah mengetahui lelaki itu melamun. Wajahnya yang tua
dan sedikit berkeriput itu kelihatan pias. Ia jadi tidak
bersemangat lagi, seperti tadi. Ada senyum yang dipaksakan
untuk tetap ramah. Dan, Hamsad membiarkan perubahan
tersebut, seakan tidak mengetahuinya.
“Kalau Pak Kosmin bisa mencarikan atau memanggilkan
perempuan yang bernama Kismi, saya berani kasih tip banyak
kepada Pak Kosmin,” tantang Hamsad sambil berlagak
berseloroh. Pak Kosmin tersenyum hambar.
“Mengapa harus Kismi?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu
mempunyai arti lain bagi Hamsad, maka ia pun buru-buru
bertanya,
“Jadi, Pak Kosmin sudah mengenal Kismi, kan? Sudah
pernah melihat Kismi, bukan? Nah, type wanita seperti itulah
yang saya sukai, Pak. Kalau tidak Kismi, saya tidak mau
ditemani oleh siapa pun!”
Lelaki berseragam biru-biru, sebagai seragam pelayan
motel ini, tampak termenung beberapa saat. Lalu, tiba-tiba ia
mengajukan pertanyaan yang membuat Hamsad sedikit
terpojok,
“Apakah Tuan sudah pernah bertemu dengan Kismi?”
“Hem… anu… bertemu sih belum pernah, tapi ketiga
temanku pernah bermalam dengan Kismi. Aku mengetahui
kecantikannya dari ketiga temanku itu, Pak.”

71
“Ooo..,” Pak Kosmin manggut-manggut. “Dan, bagaimana
dengan ketiga teman Tuan itu?”
“Mereka merasa bahagia sekali tidur bersama Kismi,” jawab
Hamsad memaksakan untuk bersikap kalem.
“Maksud saya, bagaimana nasibnya setelah ia tidur
bersama Kismi?”
Nah, pertanyaan ini kembali membuat Hamsad merinding.
Ia melirik ke arah luar lewat gorden jendela, ternyata alam
telah menjadi gelap. Terbersit perasaan ngeri dalam hatinya,
namun ia mampu menutupi dengan caranya sendiri.
“Mengapa Pak Kosmin menanyakan begitu? Apa
maksudnya?”
“Setahu saya,” kata lelaki tua itu. “Siapa pun yang tidur
bersama Kismi, maka ia akan mati!”
Ada suatu rasa yang menghentak di hati Hamsad, namun
Hamsad berusaha menetralkan perasaannya.
“Mengapa harus mati?” tanya Hamsad masih tetap kalem,
seakan tidak mau percaya dengan keterangan Pak Kosmin.
“Kismi itu roh!”
“Ah…!” Hamsad sengaja mendesah dengan nada tidak
percaya.
“Sungguh, Tuan. Dulu, memang ada seorang wanita yang
bernama Kismi. Dia seorang peragawati, tapi dia juga punya
jabatan penting dalam suatu perusahaan besar di luar negeri.
Konon, kesibukannya sebagai peragawati hanyalah sebagai
penangkal kejenuhannya saja…!”
Karena Pak Kosmin diam. Hamsad mendesaknya,
“Ceritakan selengkapnya, Pak. Siapa tahu aku mempercayai
kata-katamu.”
“Kismi dibunuh di kamar ini oleh pacarnya. Ternyata
pacarnya itu orang yang punya penyakit syaraf. Ia dicekik, dan
tangan kanannya dipotong…!”
Bergidik Hamsad mendengar cerita itu. Sejak tadi ia sudah
berdebar-debar, keringat dinginnya sudah tersembul, hanya
saja ia pandai menampilkan sikap tenang sehingga tidak
kentara apa yang ia rasa.

72
“Kismi memang mempunyai hubungan dengan kepercayaan
Mesir Kuno,” tambah Pak Kosmin, dan tambahan itulah yang
membuat Hamsad terbelalak kaget.
“Mmm… mak… maksud… maksudnya, bagaimana, Pak?
Bagaimana?” Hamsad sampai meng-geragap.
“Mayat Kismi sampai sekarang masih utuh, karena
dimakamkan dalam kotak kaca hampa udara. Ia mempunyai
cincin berbatu putih kekuning-kuningan. Cincin itu, konon
pemberian seorang profesor, ahli sejarah, yang menjadi
gurunya di perguruan tinggi. Cincin itu, berasal dari zaman
Mesir Kuno. Bukan cincinnya yang saya maksud, melainkan
batu pada cincin tersebut.”
“O, begitu?! Lalu… lalu… lalu, khasiat cincin itu sendiri
apa?”
“Apabila ia mati, nyawanya masuk ke dalam batu cincin
tersebut. Kalau ia mengenakan cincin itu lagi, maka ia akan
hidup. Tetapi, kalau sampai tiga kali ia mati, maka ia akan
mati selama-lamanya!”
“Gila…!” gumam Hamsad sepertinya antara mengagumi
dan tidak percaya.
Pak Kosmin melanjutkan lagi, “Jadi, karena ia dicekik dan
tangan kanannya dipenggal, maka ia tak dapat hidup lagi.
Karena, di jari manis tangan kanannya itulah cincin mistik itu
dikenakan. Ia terpisah dengan cincin tersebut, maka sama
saja ia terpisah dari nyawanya. Kemudian, pelayannya yang
selalu mendampingi Kismi memakamkan mayat Kismi di dalam
tabung kaca hampa udara, supaya kuman tidak merusak
jasadnya. Apabila potongan tangan kanan itu disambungkan
lagi ke lengan Kismi, maka ia akan hidup lagi sebagai manusia
biasa. Itulah keistimewaan dari Cincin Zippus.”
Beberapa saat lamanya Hamsad terbengong. Terbayang
sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Dan, ia terkejut ketika
Pak Kosmin berdiri, mohon pamit.
“Tunggu, Pak…! Bapak sendiri siapa? Kenapa bisa
mengetahui riwayat Kismi?”
“Saya pelayan Kismi…!”

73
Dan, tiba-tiba lelaki tua beruban putih itu melangkah keluar
kamar tanpa membuka pintu lebih dulu. Badannya bagai
gumpalan asap yang mampu menembus daun pintu yang
tebal. Hal itu membuat Hamsad tercengang dengan mata
mendelik dan tubuh gemetar. Ia buru-buru membuka pintu
untuk mengejar Pak Kosmin, tetapi ternyata lelaki tua itu tidak
terlihat sama sekali. Di luar hanya ada gelap malam yang sepi.
Sekujur tubuh Hamsad menjadi merinding dan keringat
dinginnya pun membasahi semua pakaiannya. Lalu, sesuatu
yang aneh kembali dialaminya, tak lama berselang dari
peristiwa itu. Hamsad masih terengah-engah, ia melihat
arlojinya, dan begitu terkejutnya ia setelah mengetahui,
bahwa saat itu malam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 55
menit.
“Gila! Arloji murahan bikin kaget saja!” gerutunya sambil
gemetar. Ia tak percaya, tapi juga penasaran. Ia menelepon
bagian resepsionis dan menanyakan jam. Ternyata
jawabannya sama, “Pukul 11 lewat 55 menit, Tuan!”
“Astaga…! Kalau begitu aku sudah bicara dengan… dengan
roh pelayan Kismi itu memakan waktu cukup lama?! Dari
magrib sampai hampir tengah malam?! Oh, konyol! Terasa
hanya sebentar! Nyatanya lebih dari lima jam?! Gila! Ini benarbenar
gila!”
Malam yang mengalunkan deburan ombak samar-samar itu
ibarat irama penghantar ke liang kubur. Suasana ganjil yang
menimbulkan rasa takut mencekam kuat di dalam kamar
tersebut. Jantung Hamsad berdetak-detak keras, sampai dia
mengalami sesak napas. Ia berusaha merubah suasana
tegang di dalam kamar dengan suara TV yang mengalunkan
lagu-lagu tempo dulu: acara ‘Dari Masa ke Masa’. Dengan
suara keras dari musik-musik itu, Hamsad sedikit berhasil
mengatasi cekaman rasa takut yang bagai membekukan
darahnya itu. Ia membuka kaosnya yang basah oleh keringat
dingin. Bahkan juga melepas celana panjangnya yang lembab
karena keringat pula.

74
Sekarang, ia merasa panas. Gerah. Padahal AC berjalan
dengan lancar. Karena tak tahan, Hamsad pun mengguyur
badannya di kamar mandi. Pada saat itu, ia masih terngiangngiang
cerita Pak Kosmin, dan terbayang kenyataan
mengerikan dari Pak Kosmin yang mampu menembus pintu
tanpa dibuka lebih dahulu. Hamsad tidak percaya kalau
ternyata sejak tadi berbicara dengan roh. Roh pelayan Kismi.
Dan, agaknya roh pelayan Kismi itu pun mencari tahu di mana
tangan kanan Kismi yang dipotong oleh pembunuhnya. Maka,
timbul kecamuk di hati Hamsad,
“Kalau aku bisa menemukan tangan atau cincin itu, dan
bisa menyambungkannya ke lengan jenazah Kismi, mungkin
perempuan itu akan hidup kembali. Lalu, apa yang kuperoleh
dari pekerjaan itu? Oh… gila! Cerita itu kenapa mendominir
otakku? Kenapa aku sangat percaya? Bukankah itu suatu hal
yang mustahil?” Hamsad berdebat sendiri di dalam hatinya.
Kemudian, batinnya berkata juga,
“Jadi, pantas kalau selama ini Norman, Denny, dan Tigor
mati bunuh diri setelah tidur bersama Kismi. Rupanya roh
Kismi menaruh dendam kepada lelaki. Roh itu yang ada di
tangan kanannya, pada batu cincin tersebut. Dan, roh itu yang
masuk ke dalam tangan kanan Norman, kemudian memaksa
Norman bunuh diri. Padahal itu adalah tindakan pembunuhan
dari roh Kismi yang ada di tangan kanannya. Oh, mengerikan
sekali! Apa jadinya jika roh itu masuk ke tangan kananku…?!”
sambil berkecamuk demikian di batinnya, Hamsad
mengangkat tangan kanannya sendiri. Memperhatikan tangan
kanannya itu dengan hati berdebar-debar. Semakin lama ia
memperhatikan tangan kanannya, semakin gemetar tangan
kanan itu. Jantungnya bertambah cepat terpacu. Jari-jemari
tangan kanannya mengejang. Mulanya bergerak-gerak, lalu
mengejang semuanya, membentuk cakar.
“Oh…?! Tangan kananku kaku..?!” katanya terpekik
ketakutan sendiri. Ia mendelik memperhatikan tangan
kanannya. Jari-jemari itu gemetar pada saat membentuk cakar
yang keras dan kaku. Tangan kiri Hamsad buru-buru

75
melunakkan tekukan jari-jemari tangan kanannya. Dan,
Hamsad pun menghempaskan napas. Ternyata tangan
kanannya mengalami kram sebentar. Kini kembali lemas,
seperti sediakala.
Sambil mengenakan handuk, Hamsad terengah-engah
karena rasa takutnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan
hanya berbalut handuk, karena pada saat itu ia mendengar
suara TV berkerosak tak karuan. Ternyata layar TV sudah
tidak menampilkan gambar apa-apa lagi, kecuali bintik-bintik
semacam semut berpesta pora. Salurannya bagai ada yang
memutus, dan suara berisik itu mengganggu pendengaran
Hamsad. Maka, pesawat TV pun terpaksa dimatikan. Dan, kali
ini kamar menjadi hening tanpa suara apa pun.
Hamsad duduk di pembaringan dengan melamun,
membayangkan sesuatu yang bersimpang siur dalam
pikirannya. Kacau!
***
Bab 9
Suara ketukan pintu yang lembut mengejutkan lamunan
Hamsad. Napasnya terhempas karena rasa kagetnya. Ia
sempat mencaci sendiri, lalu menyadari bahwa ia lupa
membayar uang emping dan kacang mete. Setelah mengambil
uang puluhan ribu dari dompetnya, Hamsad menuju ke ruang
tamu dengan hanya berbalut handuk tebal.
Klik…! Pintu dibuka, dan sapaan lembut terdengar,
“Selamat malam…!”
Hamsad terbelalak seketika. Darahnya bagai mengalir cepat
ke bagian kepala. Pucat. Napasnya pun tersentak, seakan
berhenti seketika. Di depannya, berdiri seorang perempuan
yang berbadan atletis, tinggi sekitar 168 cm, berbadan padat,
menonjol namun ideal bagi tubuhnya yang sexy itu. Mulut
Hamsad bergerak-gerak, namun tak berhasil melontarkan
sepatah kata pun. Matanya tak bisa berkedip menatap seraut

76
wajah klasik, dengan kecantikan yang mirip seorang ratu Mesir
Kuno. Hidung mancung, bibir ranum tak terlalu lebar, mata
bulat dengan kebeningan yang tajam meneduhkan, dan
rambut hitam indah disanggul ke atas, sehingga
menampakkan lehernya yang tergolong jenjang itu berkulit
kuning langsat.
Yang terucap di hati Hamsad hanya kata-kata, “Sudah
lewat tengah malam…!”
Perempuan itu tersenyum ramah, indah sekali. Enak
dipandangi berjam-jam lamanya. Suaranya yang serak-serak
manja terdengar membuai hati Hamsad yang gemetar.
“Boleh aku masuk?”
“Bo… bob… eh, sil… silakan…!” Hamsad menggeragap.
Jantungnya yang berdetak cepat membuat ia serba gemetar.
Berulangkah ia menelan napasnya untuk menguasai
kegugupan yang mengerikan, dan sedikit-sedikit ia mulai
berhasil menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
Ada bau harum dari parfum yang dikenakan perempuan itu.
Bau harum itu begitu lembut, klasik, namun membawa kesan
yang anggun. Perempuan itu mengenakan gaun transparan
putih tanpa lengan. Tas kulit warna hitam yang bertali rantai
kuning keemasan tergantung di pundak kirinya. Sepatunya
berwarna hitam, menapak di lantai. Jelas sekali. Ketika
melangkah terdengar ketukan sepatunya yang lembut.
Waktu itu, angin berhembus lebih kencang dari
sebelumnya. Suara angin itu mengalun bercampur deburan
ombak. Malam berubah menjadi lebih sunyi lagi, seakan kutukutu
malam pun tak berani bersuara. Hal itu semakin
membuat Hamsad dicekam rasa takut, tubuhnya pun menjadi
merinding semua.
“Sendirian di sini?” suara serak-serak manja yang
menggemaskan hati lelaki itu mengacaukan pikiran Hamsad.
Ia masih diam di pintu, tanpa menutup daun pintu, sehingga
angin yang berhembus membawa kemisterian itu menerobos
masuk ke kamar. Ia tak sempat menjawab dengan kata,
kecuali mengangguk dan menampakkan rasa takutnya. Ada

77
niat untuk lari keluar kamar dan berteriak meminta tolong,
tetapi sikap perempuan itu begitu mengesankan, baik dan
ramah. Sehingga, hati Hamsad berdiri di batas kebimbangan.
“Apakah ruangan ini kurang dingin? Kurasa sudah cukup
sejuk, tak perlu kau tambah dengan cara membiarkan pintu
terbuka,” katanya sambil menampakkan senyumnya yang
mengagumkan sekali. Hamsad pun segera menutup pintu,
namun tak berani menguncinya. Ia jadi seperti orang bego
berdiri bersandar pada pintu dengan kedua lutut gemetar.
Detak-detak jantungnya kembali memburu ketika perempuan
itu melangkah mendekati Hamsad, memandang dengan penuh
sorot mata yang mempesonakan.
Luar biasa kecantikan itu. Hamsad baru percaya dengan
apa yang pernah dikatakan Almarhum Norman, Denny, dan
Tigor. “Perempuan itu mempunyai kecantikan yang luar biasa.
Kehebatan di ranjang yang luar biasa pula….” Pantas rasanya
jika para korban memuji Kismi habis-habisan, karena
perempuan itu memang patut dipuji dan disanjung. Hanya
saja, kali ini lidah Hamsad masih kelu, darahnya berdesir
seakan beredar di seluruh tubuh dengan kacau. Apalagi kali ini
perempuan itu tepat berada di depannya, oh…. Hamsad
seperti kehilangan kesempatan untuk menghela napas.
“Kau sakit?” tanya perempuan itu. “Wajahmu pucat sekali.”
Kemudian, karena lama sekali Hamsad tidak bisa
menjawab, perempuan itu menyentuh jari-jemarinya ke pipi
Hamsad. Lembut sekali. Pelan. Hamsad merasa diusap oleh
selembar kain sutra yang berbau harum menggairahkan.
Lutut semakin gemetar, nyaris tak bisa dipakai untuk
berdiri, karena saat itu, Hamsad merasakan suatu ciuman
yang hadir dengan sangat pelan. Menempel di pipinya terasa
menghangat dipermukaan wajah Hamsad. Suara serak-serak
manja menggemaskan itu terdengar berbisik di telinga
Hamsad,
“Kosmin memberitahu kehadiranmu. Aku tahu, kau
membutuhkan aku, bukan? Kau mencari aku, bukan?” Ia
segera menarik wajahnya, kini beradu pandang dengan

78
Hamsad. Mulut Hamsad masih kaku, sukar digerakkan. Dan,
perempuan itu berkata lagi,
“Jangan takut. Aku Kismi, orang yang kau cari. Kau hanya
memilih aku dari sekian perempuan yang ditawarkan Kosmin.
Dan, sekarang pilihanmu telah berada di sini, di depanmu.
Mengapa kau diam saja? Mengapa kau takut? Barangkali
karena kau mendengar cerita dari Kosmin, lantas kau pikir aku
akan membunuhmu? Hem…?!”
Oh, begitu mesranya ia bicara. Sesekali tangannya
mengusap rambut di kening Hamsad, menyibakkan ke
belakang dengan tatapan mata penuh curahan rasa kasih.
“Barangkali kita bisa buat perjanjian,” katanya dengan
lembut.
“Ak… aaak… akuuu…,” Hamsad berkata dengan gagap.
“Akuuu… hm… akkk….”
“Ssst…!” Kismi menempelkan jari telunjuknya ke bibir
Hamsad. Ia membisik, “Kecuplah bibirku…! Kecuplah, agar
rasa takutmu hilang…!”
Hamsad gundah. Debaran hatinya membuat ia tersengalsengal
dalam bernapas.
Kismi memejamkan mata, menyodorkan bibirnya yang
terperangah menantang. Ia berbisik lagi, “Kecuplah aku…
kecuplah, supaya rasa takutmu hilang…!”
Dengan gemetar, Hamsad mendekatkan bibirnya ke bibir
Kismi. Ia ragu sejenak, tetapi Kis-mi bergerak lebih maju,
sehingga bibirnya menyentuh bibir Hamsad. Kemudian,
Hamsad mengecup bibir itu dengan gemetar. Mulanya hanya
ingin sekejap, tetapi Kismi membalas dengan hangat.
Mengulumnya, melumatnya penuh gairah. Bahkan ia
mendesah ketika bibir itu terlepas sekejap. Sebelum Hamsad
menarik diri, Kismi telah mengulang adegan itu. Semuanya ia
lakukan dengan lembut, tidak kasar dan rakus. Justru
kelembutan itulah yang membuat hati Hamsad terasa tersiram
serpihan salju. Dingin, tenang, dan debarannya pun
berkurang.

79
Perlahan-lahan sekali Kismi melepaskan kecupan itu,
seakan merasa enggan memisahkan bibirnya dari bibir
Hamsad. Ketika kecupan itu berhenti, senyum Kismi mekar
mengagumkan. Hamsad mulai menyunggingkan senyum
bernada malu. Anehnya, saat itu ia tidak lagi merasa
berdebar-debar. Ia tidak merasa takut dan gemetar. Ia dalam
keadaan normal, memandang Kismi seperti memandang
perempuan biasa. Hamsad sadar, ia berhadapan dengan
hantu, tapi ia tidak merasa ngeri sedikit pun. Justru ia merasa
bangga bisa berhadapan muka dengan wanita berwajah mirip
ratu Mesir Kuno itu. Ia berdecak menyatakan rasa kagumnya
kepada Kismi.
“Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Kismi sambil
melingkarkan kedua tangannya ke leher Hamsad. Matanya
berkedip-kedip memandang Hamsad dengan penuh pesona
mengagumkan.
“Panggil aku, Hamsad!” jawab Hamsad dengan lancar, tak
ada kebimbangan, hanya sedikit sisa getaran masih terasa.
“Aku kagum padamu, Hamsad. Kau manusia yang nekat.
Kau punya semangat, tapi tidak punya keberanian. Mungkin
begitulah dalam hidupmu sehari-hari.”
Hamsad tersipu. Ia tak berkedip menatap Kismi, kemudian
ia berkata bagai di luar kesabaran, “Cantik sekali…!”
“Siapa?” tukas Kismi.
“Kau…,” desah Hamsad, romantis sekali. Kismi mencibir
manis. Kemudian keduanya sama-sama tertawa. Keduanya
sama-sama berpelukan, masih di depan pintu.
“Aneh sekali…,” bisik Hamsad.
“Apanya yang aneh?”
“Hatiku jadi berbunga-bunga. Aku bahagia sekali.”
“Kenapa?” bisik Kismi makin mendesah.
“Aku bisa bertemu denganmu, dan aku bisa memelukmu,”
jawab Hamsad. “Padahal aku tahu….”
“Tahu apa?” tukas Kismi lagi, seakan menggoda.
“Aku tahu, bahwa kau bukan manusia…!”

80
Kismi buru-buru melepaskan pelukannya. Ia kelihatan
tersinggung. Hamsad menggeragap bingung ketika Kismi
meninggalkannya. Perempuan itu berjalan ke kamar tidur, dan
menghempaskan dirinya di tepian ranjang. Wajahnya murung.
Hamsad serba salah jadinya. Ia mencoba mendekati Kismi dan
berkata penuh sesal,
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
“Aku tidak tersinggung,” jawab Kismi. Masih murung. “Aku
sedih jika ada yang mengatakannya begitu. Aku ingin kau
pura-pura tidak mengetahui siapa aku.”
“Mengapa begitu?”
Kismi mendongak, memandang Hamsad yang berdiri di
sampingnya. Wajah Kismi tepat berada di pinggang Hamsad.
Perempuan itu berkata dengan nada sedih,
“Aku datang memenuhi keinginanmu. Aku ingin mengagumi
lelaki yang punya tekad seperti kamu. Jadi, aku tak ingin
mendengar kata-kata seperti itu lagi.”
“Aku berjanji tidak akan mengatakan hal itu lagi, Kismi,”
kata Hamsad sambil mengusap-usap kepala Kismi. Kepala itu
pun kemudian rebah di pinggang Hamsad.
“Aku ingin mencari kebahagiaan. Aku ingin menghibur
diriku seriang mungkin. Aku…,” Kismi berhenti sejenak,
mendongak lagi, menatap Hamsad, lalu berkata,”… aku ingin
hanyut dalam kemesraan.”
Hamsad mengangguk, “Apakah menurutmu aku bisa
memberi kemesraan padamu?”
Tangan Kismi mulai merayap, mengusap-usap paha
Hamsad yang hanya dibalut handuk itu. Ia bicara bagai
sedang melamun,
“Aku tak tahu, apakah kau yang terpilih bagiku. Tetapi, aku
sangat menyukai lelaki yang punya tekad, daripada yang
hidup penuh kebimbangan. Biasanya, lelaki yang hidup
mengandalkan tekad, ia mempunyai naluri bercumbu sangat
romantis.”
Hamsad tertawa pelan. “Aku tidak merasakan diriku begitu.
Kismi,”

81
“Tapi aku merasakannya…,” seraya tangan Kismi terus
merayap pada bagian terpeka bagi seorang lelaki. Hamsad
membiarkan tangan itu memainkan sesuatu, Ia sibuk
menekuni hatinya yang berdebar-debar dalam keindahan.
Lalu, ia sedikit menunduk, mencium kening Kismi. Wajah
itu buru-buru tengadah ke atas, merenggangkan bibirnya
dalam desah yang tipis sekali. Hamsad mencium kening dan
merayap ke hidung Kismi, kemudian merayap lagi perlahanlahan,
sampai akhirnya mulut Hamsad menyentuh bibir Kismi.
Lidah Hamsad mempermainkan bibir Kismi yang segar dan
menggairahkan itu. Kismi mengerang pelan, bagai merengek
minta sesuatu. Kemudian, Hamsad pun mengecup bibir itu
pelan-pelan. Lembut sekali. Sementara itu, tangan Kismi yang
nakal semakin bengal.
Handuk pembalut pun terlepas dan jatuh di lantai. Hamsad
membiarkan. Ia masih sibuk menciptakan sejuta desiran indah
melalui kecupan bibir Kismi. Tapi, kali ini tangan Hamsad pun
menarik tali gaun yang ada di pundak Kismi. Kedua tali pun
terlepas, dan gaun transparan itu terkulai jatuh di pangkuan
Kismi. Tangan Hamsad mulai merayap dengan usapan lembut,
sentuhan jemarinya bagai mengambang dan justru
menciptakan debaran halus di hati Kismi.
“Oh… kau pandai membawaku melayang, Hamsad…,” bisik
Kismi dalam desahnya. Ia buru-buru memeluk pinggang
Hamsad. Mengecup pinggang itu, dan menjalar ke manamana.
Hamsad melepas sanggul rambut Kismi sambil berdesis-
desis. Rambut itu tergerai sebatas punggung. Lemas
sekali. Halus, dan berbau harum. Tangannya mengusap-usap
punggung Kismi dengan gerakan lamban, sedangkan Kismi
semakin berani menjalarkan lidah dan bibirnya ke ujung
percintaan Hamsad.
Di relung keheningan malam, suara desah mereka saling
memburu. Kismi sering memekik dalam keadaan tubuhnya
mengejang kaku, sedangkan Hamsad hanya mendesah-desah
dan tetap menjadi nahkoda ‘pelayaran’ itu. Ia sengaja tidak
mendorong tubuh selembut sutra itu ke permukaan ranjang.

82
Ia biarkan cintanya melayang-layang dengan mengandalkan
kekuatan kakinya. Kismi sendiri agaknya masih mampu
menegakkan betisnya, sekalipun ia merasa limbung beberapa
kali.
Namun, kehebatan Kismi akhirnya membutuhkan alas bagi
punggungnya, dan ia menarik Hamsad perlahan-lahan, maka
jatuhlah mereka di ranjang yang berkasur empuk itu.
Kecupan-kecupan Hamsad masih membanjir di sekujur tubuh
Kismi. Napasnya masih mampu berlari sejauh 10 km lagi,
bahkan lebih. Kismi merasa dirinya diterbangkan oleh amukan
kasmaran Hamsad, sampai-sampai ia menggelinjang dengan
brutal karena mengalami masa kejayaan cintanya beberapa
kali.
Pada detik-detik yang mendebarkan cinta Hamsad, ia
semakin ‘berlari’ cepat, mengejar bayangan kasihnya di
puncak bukit cinta. Ketika ia tiba di sana, ia pun mengerang
panjang dan mengejang. Kismi ganti mengambil alih ‘kemudi’.
Kini menjadi nahkoda ‘pelayaran’ malam itu. Dan sebagai
seorang nahkoda, ia ternyata mempunyai kelincahan
mempermainkan kemudi. Layar dikembangkan, dayung
direngkuh, dan bahtera pun melaju makin dipermainkan
ombak. Hamsad tak sempat berpikir untuk menentukan, Kismi
bahtera atau ombak? Ia hanya merasakan amukan gelombang
yang melemparkan ia ke awang-awang. Kismi bagai gulungan
badai yang mampu menerbangkan Hamsad ke atas
percintaannya beberapa kali, hingga pekikan dan erangan
bahagia pun terlontar silih berganti.
Ketika menyongsong fajar, kasur sudah berubah menjadi
tanah lembab. Seprei dan selimut tebal tak ubahnya rumput
yang terbabat, berserakan ke mana-mana. Banjir keringat
mengguyur tubuh mereka. Napas-napas terpenggal saling
berhamburan. Tubuh Kismi lunglai di peraduan. Hamsad
mengusapnya dengan sarung bantal. Tubuh mulus tanpa
cacat sedikit pun itu dibersihkan dari keringat. Diusap
perlahan-lahan. Kemudian, dikecupnya beberapa bagian.
Masih saja tercium bau wangi yang lembut dan

83
menggairahkan. Napas Kismi terengah-engah, dadanya yang
menonjol dalam bentuk indah itu bergerak naik-turun. Ia
membiarkan Hamsad mengucapnya beberapa kali, terkadang
mencekam pada titik terpeka, dan Kismi hanya bisa
mengerang di sela desah napas dan kelunglaian
persendiannya.
“Luar biasa…,” gumamnya bercampur dengus napas yang
terengah-engah. Hamsad diam saja. Masih mengusap-usap,
masih mencium beberapa tempat, masih pula menatapinya
penuh rasa kagum dan bangga diri.
Tangan Kismi meraba keringat Hamsad yang meleleh dari
leher ke dada. Ia tersenyum, lalu berkata lirih,
“Kau sungguh luar biasa, Hamsad. Kau… ah, kenapa baru
sekarang kau kutemukan?”
Hamsad tersenyum di sela engahan napasnya. “Kau
memiliki kata dan tanya yang sama dalam benakku. Tapi…
mengapa kau tampak pucat sekali? Lelah?”
Kismi mengangguk, tak malu-malu. “Kau juga pucat,
seperti selembar kertas. Capek?” tanyanya bergantian. Lalu,
keduanya mengadu wajah sambil tertawa bahagia.
‘Hamsad, aku harus pulang sebelum matahari terbit,” bisik
Kismi.
“Tak bisakah kau tinggal sampai siang hari?”
Kismi menggeleng. “Kita harus berpisah,” ucapnya penuh
sendu. “Tapi, bila lewat tengah malam, kita bisa berjumpa
lagi, Hamsad.”
“Oh… tidak! Aku ingin memilikimu sepanjang masa, Kismi!
Aku ingin mendekapmu, ingin menciummu, tanpa peduli siang
atau malam.”
“Hamsad, kau tahu siapa aku, bukan? Kita punya
perbedaan masa. Kita punya perbedaan alam. Dan, itu tak
bisa dibantah, Hamsad.”
“Harus bisa! Aku tidak ingin kehilangan kau, Kismi. Aku…
ah, terlalu mudah jika aku berkata cinta padamu, bukan? Jadi,
sebaiknya tak kukatakan, bahwa aku mencintaimu….”
“Kau sudah mengatakannya. Hamsad.”

84
Kemudian, Kismi pun tertawa mengikik geli sambil memijit
hidung Hamsad. Tangan Hamsad mengibas, dan ia ganti
memijit hidung Kismi sambil berkata, “Nakal…!”
Pagi mulai meremang. Kismi bergegas pulang dengan
wajahnya yang pucat. Hamsad sempat berbisik sedih, “Kapan
kau datang padaku lagi, Kismi?”
“Menunggu saatmu pulang kemari,” jawab Kismi. “Hati-hati,
Hamsad. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu.”
“Siapa…?!” Hamsad merasa heran. Kismi diam saja.
***
Bab 10
Tubuh yang lunglai itu tergeletak sampai siang hari.
Hamsad bagai habis mengadakan perjalanan jauh. Tulangtulangnya
terasa ngilu semua. Ia meninggalkan motel itu
antara pukul 12 siang. Ia tidak langsung ke rumah, melainkan
ke kampus, karena hari itu ia punya acara: mengadakan
audensi dengan salah seorang tokoh bersama dua temannya.
Namun, ternyata benaknya sudah telanjur dipenuhi oleh
kesan indah dan manis dari Kismi. Berulangkah’ ia
mengalihkan pikirannya, tanpa sadar toh kembali juga ke
masalah Kismi. Ia memang pernah punya perasaan cinta. Ia
pernah menyukai seorang gadis. Tetapi, tidak seperti kali ini
perasaan suka kepada gadis yang ia rasakan. Kali ini ia benarbenar
terpaku oleh perasaan cintanya kepada Kismi. Ia seperti
belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Bahkan, dalam hati
ia berkata, “Aku seperti anak ingusan yang baru pertama kali
ini disentuh wanita. Padahal aku sering mencium Reni sewaktu
di SMA. Aku juga sering berciuman dengan Laila. Bahkan aku
pernah tidur dengan Pungki. Tetapi, mengapa mereka tidak
meninggalkan kesan yang mematri di hatiku? Mengapa
mereka jauh berbeda dengan Kismi? Kesannya begitu kuat,
membuat aku tak mampu mengalihkan konsentrasiku walau
sekejap. Oh… luar biasa daya tariknya. Luar biasa kecantikan

85
itu. Pantas kalau Norman dan yang lainnya tega melakukan
bunuh diri demi cintanya yang tak tercapai itu.”
Dalam perjalanan ke kampus, mendadak Hamsad menjadi
tegang. Hatinya berdebar-debar setelah ia ingat kematian
Norman, Denny, dan Tigor. La menggumam sendiri di dalam
mobilnya, “Mereka mati dengan cara bunuh diri. Mereka
bunuh diri karena rindu pada Kismi. Mereka rindu, karena
mereka jatuh cinta pada Kismi. Lalu, bagaimana dengan aku?
Apakah aku tidak akan berbuat seperti Norman, Denny, dan
Tigor? Oh, jangan! Jangan sampai aku sepicik mereka. Aku
harus tegar, tak mau jatuh karena perempuan. Tapi…?”
Hamsad berkerut dahi. Ia melanjutkan kata-katanya dalam
bentuk kecamuk di dalam liati.
“Tapi, Kismi meninggalkan pesan yang misterius. Saat ia
sebelum pergi, sebelum ia mengecup bibirku yang terakhir
kali, aku mendengar ia menyuruhku berhati-hati. Ada sebaris
kata yang aneh. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu’.
Ia…?! Siapa yang dimaksud ‘ia’ oleh Kismi itu? Benarkah diriku
terancam? Oleh siapa sebenarnya? Kekasih Kismi? Kekasihnya
yang telah tega membunuhnya itu? Ih, brengsek amat kalimat
itu. Menghantui pikiranku terus. Siapa sih sebenarnya yang di
maksud itu…?!”
“Pucat sekali kau!” tegur Ade di pintu gerbang kampus.
Waktu itu, Hamsad sedang; menuju ke gedung rektorat
setelah memarkirkan mobilnya. “Kau habis begadang, ya?
Atau… sakit?”
“Apakah aku kelihatan pucat?!”
“Ya, pucat sekali,” jawab Ade tegas. Hamsad jadi gelisah.
“Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, De. Tapi,
tunggu sebentar, aku punya urusan penting.”
“Oke. Aku nongkrong di kantin! Kutunggu kau di sana,
Ham.”
Ragu-ragu Hamsad jadinya. Wajahnya pucat pasi. Semua
temannya yang berpapasan dengannya mengatakan begitu.
Malahan seorang dosen yang berpapasan dengannya juga
menyarankan, “Pulanglah! Jangan paksakan diri kalau kau

86
dalam keadaan sakit. Ilmu bisa dicari sampai tua, tapi nyawa
seseorang tidak bisa dicari lagi. Sekali hilang, akan selamanya
hilang.”
Setelah bertemu dengan temannya yang punya urusan
sama, Hamsad juga dianjurkan untuk pulang. Justru temannya
kelihatan cemas dan berkata, “Kau benar-benar seperti mayat,
Ham. Aku kuatir kau akan mengalami naas di sini! Pulanglah.
Biar aku yang mengurus masalah kita ini.”
Hamsad tidak langsung pulang, melainkan langsung ke
kantin menemui Ade. Di pintu kantin ia berpapasan dengan
Yoppi. Yoppi pun terkejut melihat Hamsad berwajah pucat
sekali, ia menegur,
“Gila kau, Ham! Kau kemanakan darahmu? Kau seperti
manusia tanpa darah setetes pun, tahu?!”
“Aku sedang tak enak badan,” ujarnya seraya langsung
menemui Ade. Yoppi menguntit dari belakang. Begitu Hamsad
duduk, Yoppi ikut duduk di sampingnya, tapi langsung
berkata,
“Demi Tuhan, aku jadi merinding melihat kau berjalan,
Hamsad! Kau…. Wah, celaka! Kurasa saat ini bukan waktumu
untuk ngobrol di sini!” Yoppi kelihatan cemas sekali.
Sedangkan Ade hanya memandang Hamsad dengan
kecemasan yang disembunyikan.
“Aku…. Oke-lah, aku akan pulang dan beristirahat. Tetapi,
sebelumnya ada yang ingin kuta-kakan kepada kalian,” kata
Hamsad. “Tapi, kumohon kalian bisa merahasiakan. Kumohon
sekali!”
Yoppi dan Ade menggumam. Yoppi kelihatan lebih tegang
dari Ade. Ia juga yang bertanya.
“Tentang apa itu, Ham?!”
Hamsad berkata pelan, “Aku telah bertemu dengan Kismi.”
“Hah…?!” Kini, bukan Yoppi saja yang terpekik kaget,
melainkan Ade pun jadi tersentak. Duduknya yang semula
bersandar santai, kali ini bergerak maju dan mata memandang
Hamsad penuh kecemasan.

87
“Kau…?! Kau bertemu dengan Kismi?!” Ade setengah tidak
percaya.
“Aku tidur dengan perempuan itu,” tambah Hamsad,
semakin membuat Yoppi dan Ade menampakkan rasa
takutnya. “Aku bergumul dengannya. Semalaman kami tak
tidur. Ia memang hebat, istimewa dan luar biasa segalanya.
Kecantikannya luar biasa, kekuatannya di ranjang juga luar
biasa…!”
“Tunggu, Ham…!” sergah Yoppi. Lalu, Yoppi berkata dalam
bisikan yang dipertajam, “Dulu, Almarhum Tigor juga
menceritakan hal itu kepada kami. Dan, malamnya ia bunuh
diri. Denny pun demikian. Lalu, mengapa sekarang kau
berkata begitu, Hamsad?! Apakah kau tak menyadari risiko
berbahaya yang akan menimpamu?!”
Sebelum Hamsad menjawab, Ade telah berkata, “Aku jadi
merinding. Sungguh. Aku takut membayangkan kengerian
yang akan kau alami nantinya. Oh… saat ini aku seperti
melihat Tigor merenggangkan nyawanya karena tikaman badik
ke tubuhnya…! Uh, mengerikan sekali, Ham! Sangat
mengerikan!”
Getir juga hati Hamsad mendengar kata-kata mereka, Ia
makin beri debar-debar. Sudah lama ia berhenti merokok,
namun kali ini ia menyahut rokok Yoppi dan menghisapnya.
Barangkali ia mencari ketenangan jiwa dengan cara
menghisap rokok. Namun, natanya ia masih saja kelihatan
pucat dan tegang.
“Aku tahu, apa yang dialami mereka yang habis bercinta
dengan Kismi, tapi aku menjaga kesadaranku untu’k tidak
berbuat seperti mereka,” kata Hamsad dongan gerak mata
yang nanar karena hati berdebar-debar.
“Apakah kau bisa?”
“Harus bisa! Aku tidak boleh cengeng. Aku harus tegar
dan…”
“Norman bukan pemuda cengeng,” sahut Yoppi. “Dia
pemuda yang tegar dan tidak mengenal kecengengan. Tetapi,
nyatanya ia rapuh…!”

88
“Ia menikam dirinya sendiri dengan gunting,” sahut Ade.
Kemudian, Yoppi melanjutkan,
“Ia tidak bisa mengendalikan tangan kanannya yang
beirgerak sendiri menikam dirinya…! Ham, aku curiga, di balik
kematian mereka ada kekuatan gaib yang berperan tanpa
mereka sadari. Kekuatan gaib itu… menurutku, berasal dari
Kismi.”
“Benar,” jawab Hamsad tegas.
“Kalau kau tahu, mengapa kau lakukan?” sela Ade.
Hamsad menghempaskan napasi “Sudah telanjur, De.
Semuanya sudah telanjur. Aku tahu, Kismi sebenarnya sudah
mati…!”
“Ya, Tuhan…!” keluh Ade.
“Kismi memang hantu, tetapi Kismi tidak seperti hantu.
Aku… aku mencintainya, De.”
“Gila kau!” geram Yoppi. “Kalau terjadi sesuatu padaku,
kumohon, jangan ada yang mencobanya lagi. Lupakan
tentang Kismi, dan jangan ada yang tergiur dengan cerita ini,
juga jangan ada yang terpengaruh dengan cerita Almarhum
Norman, Denny, maupun Tigor. Berbahaya! Aku akan
mencoba mengalahkannya dengan caraku sendiri. Kalau aku
gagal, berarti kalian akan gagal juga jika mencoba
mengalahkannya…’:”
Yoppi dan Ade sama-sama diam. Napas mereka terasa
sesak. Mereka seakan berada di depan calon mayat. Mereka
merasakan sesuatu kelengangan. Sepertinya, itulah saat -saat
yang terakhir mereka bertemu dengan Hamsad. Yoppi sendiri
terlihat begitu sedih dan cemas. Mungkin saat itu ia tak tahan
menghadapi kenyataan, maka ia segera berdiri. Ia menepuknepuk
punggung Hamsad. Ingin mengucapkan sesuatu,
mungkin kata “Selamat jalan”, tetapi mulutnya tak mampu
mengucap kata apa pun. Yoppi pergi begitu saja dengan
desah napas yang terdengar oleh Hamsad dan Ade.
Di rumah, Hamsad sendiri jadi gelisah. Ia dibayang-bayangi
kenangan manis bersama Kismi di kamar motel itu. Kenangan
manis itu menghantuinya, membuat ia tak dapat beristirahat

89
siang. Beberapa kali ia menelan telur ayam kampung yang
masih mentah, meminum susu dan madu sebanyakbanyaknya.
Ia ingin menutupi kepucatan wajahnya, agar tidak
mencurigakan keluarga. Lalu, ia pun lebih sering mengurung
diri di kamar. Benaknya berkecamuk terus, membuat ia
menjadi pusing dan mual.
Ketika sore hari, Dian, adik perempuannya, minta diantar
ke rumah teman untuk suatu urusan. Hamsad sebenarnya
malas keluar rumah. Tetapi, setelah dipikir-pikir, untuk
menghilangkan kegelisahan yang menteror jiwanya, ia perlu
mencari penyegar. Suasana di dalam kamar bisa mengurung
jiwanya pada kenangan manis bersama Kismi. Maka, ia pun
tidak keberatan mengantar Dian ke rumah temannya.
Sepanjang perjalanan Hamsad tak banyak bicara. Biasanya
ia banyak bercerita kepada Dian, baik mengenai teman
kampusnya, atau mengenai cewek yang ditaksirnya. Dian
menjadi heran melihat kakaknya murung dan
menyembunyikan perasaan. “Ada apa, Ham?”
Hamsad hanya melirik dan berkerut dahi, berlagak bingung.
Dian melanjutkan kata-katanya, “Ada apa kau murung? Kau
pucat sekali! Pasti kau punya persoalan! Aku tak yakin kalau
kau terkena penyakit! Kau pasti punya masalah yang
membuatmu stres begitu. Ada apa sih?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Hamsad.
“Ham, aku memang adikmu. Aku memang lebih muda
darimu. Tetapi, otakku masih bisa mengungguli otakmu,” kata
Dian yang kuliah di kedokteran, dua tingkat di bawah Hamsad.
“Jadi, jangan sepelekan aku! Aku bisa membantu
memecahkan problemmu. Banyak teman yang suka minta
pendapat padaku, dan aku bisa mencarikan jalan keluarnya.”
“Oke. Aku mengakui, kau memang cerdas. Tapi, untuk
mengutarakan masalahku, aku perlu mempertimbangkan
masak-masak.”
“Kenapa begitu? Kau sangsi?”
“Bukan soal sangsi, tapi ini menyangkut soal pribadi!”

90
“Aaah…! Kau mulai tertutup denganku, Ham! Itu tidak
menguntungkan kamu…!”
Berulangkali Dian membujuk kakaknya agar membeberkan
masalah yang ada, tetapi Hamsad masih ragu-ragu. Banyak
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, dan itu semua
membutuhkan tempo yang cukup lama.
Sampai pulang dari mengantar Dian, Hamsad masih belum
punya keputusan. Haruskah ia bicarakan masalahnya kepada
keluarga? Apakah itu tidak akan mengganggu ketenangan
keluarganya? Bagaimana jika keluarganya tahu, bahwa
Hamsad di ambang kematian? Sudah tentu hanya akan
membuat panik. O, tidak! Hamsad tidak mau masalah
pribadinya membuat panik keluarga. Ia lebih baik
menyimpannya sendiri, dan menanggung segala risiko
sendirian. Ia tak ingin melibatkan keluarga.
Pulang dari mengantar Dian, hari sudah malam. Tadi Dian
mengajaknya mampir ke supermarket, dan Hamsad setuju.
Pulangnya sudah cukup malam, dan Hamsad menjadi lebih
gelisah lagi. Bayangan indah bersama Kismi semakin nyata,
bahkan sempat membangkitkan gairah kejantanannya. Lalu,
tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Lho, kok berhenti? Ada apa?!” tanya Dian merasa sangat
heran.
“Apakah kau mendengar seseorang memanggilku?”
“Tidak,” jawab Dian.
“Aneh. Dua kali aku mendengar seseorang memanggilku.”
“Ah, ngaco! Tidak ada suara apa-apa kok! Ayolah,
buruan…! Nanti papa dan mama ngomel kalau aku pulang
kemalaman.”
Hamsad melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.
Beberapa saat kemudian, laju mobilnya dikurangi. Ia
menelengkan kepala, menyimak sesuatu dengan dahi
berkerut.
“Tuh, ada yang memanggil namaku berulangkah…!”
katanya kepada Dian. Tetapi, Dian hanya menggerutu tak
jelas. Hamsad kembali tancap gas.

91
Pada saat itu, ia baru teringat cerita tentang kematian
Norman, Denny, dan Tigor. Menurut Susilo, sebelum Norman
melakukan bunuh diri, anak itu juga mendengar suara
seseorang memanggilnya. Tigor juga bercerita, bahwa Denny
selalu merasa ada yang memanggilnya. Suara orang yang
memanggil seperti suara Kismi. Dan, tak berapa lama, Denny
bunuh diri. Menurut Bahtiar, sebelum Tigor bunuh diri, Tigor
juga merasa ada yang memanggil-manggil. Konon, suara itu
membuat Tigor menjadi sangat merindukan Kismi.
Dan, sekarang? Sekarang Hamsad merasa mendengar
suara Kismi memanggilnya. Apakah ia pertanda ia akan
melakukan bunuh diri?!
“Celaka kalau benar begitu,” geram Hamsad di dalam
hatinya. “Padahal mereka berbuat bunuh diri seperti di luar
batas kemauan hatinya. Ada kekuatan gaib yang
menggerakkan tangan mereka untuk melakukan bunuh diri.
Apakah aku juga demikian?”
Ketika sampai di rumah, suara orang memanggilnya itu
semakin jelas. Hamsad merinding sekujur badan. Ia berusaha
menjaga, kesadarannya, menegakkan logikanya, tetapi ia juga
merasa, bahwa dirinya sesekali terasa limbung karena dibuai
oleh kenangan manis bersama Kismi. Hatinya berdebar-debar,
seakan menuntut curahan rasa yang ada, yaitu rasa rindu
kepada Kismi.
“Gawat…! Aku harus bisa mengatasi emosiku sendiri…,”
katanya dalam hati.
Pikirannya berputar mencari cara. Lalu, ditemukan
beberapa kemungkinan untuk menghindari gelagat yang
membahayakan itu. Ia harus segera pergi ke pondokan Ade,
dan meminta bantuannya. Ia tak mau membuat kegaduhan di
rumah, sehingga keluarganya menjadi panik dan tegang.
Dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi, Hamsad
mulai terengah-engah diburu kegelisahan yang menyiksa.
Rindu ingin bertemu Kismi membuat napasnya sukar dihela. Ia
mencoba mengendalikan pikirannya agar tertuju pada temanTiraikasih

92
teman di pondokan, tetapi pikirannya itu justru menjadi kacau
balau.
“Hamsaaad…! Haaamsaaad…!”
Suara Kismi terdengar memanggilnya sepanjang
perjalanan. Suara itu jelas sekali mengalun, seakan-akan
untuk mengajaknya bercumbu. Apalagi suara Kismi terdengar
serak-serak manja, hati Hamsad semakin berdebar-debar.
Rindunya mengembang dan meracuni pikirannya. Ia menahan
perasaan itu sampai keluar keringat dinginnya. Ia menambah
kecepatan mobilnya supaya segera tiba di pondokan, tetapi
suara ‘Kismi itu semakin menyiksa jiwanya. Membuat Hamsad
tegang dan kelabakan. Ia sempat melirik arlojinya, ternyata
sudah pukul 10 malam lebih 45 menit. Ia hanya menggumam,
“Hampir tengah malam…!”
Pintu pagar halaman rumah pondokan itu tertutup
sebagian. Hamsad tidak sempat turun dari mobil untuk
membuka pintu halaman itu. Maka. ia langsung menabrak
pintu tersebut dengan mobilnya, hingga menimbulkan suara
gaduh yang mengagetkan semua penghuni pondokan itu.
Dan, mobil berhenti tepat di depan kamar Ade. Sorot
lampunya menyala terang, menyilaukan.
Hamsad terengah-engah, masih belum mampu turun dari
mobil. Kepalanya berdenyut-nyut, namun hatinya semakin
dicekam rasa ingin bertemu dengan Kismi. Ia terkulai lemas di
balik stiran mobil. Beruntung mesin mobilnya sempat
dimatikan, sehingga sedikit aman.
Para penghuni pondokan itu nyaris marah melihat sebuah
mobil merusakkan pintu pagar mereka Tetapi, Bahtiar segera
berteriak,
“Hamsad…?!”
“Siapa sih?!” seru yang lain.
‘Hamsad…!” jawab Yoppi juga. Ia berlari lebih dahulu
mendekati mobil Hamsad dan berseru, “Ham…?! Ham, kau
tidak apa-apa, kan?”
Hamsad menggeram, “Tolong akuuu…!”

93
Yoppi agak ragu ketika hendak membukakan pintu mobil,
tetapi setelah Bahtiar mendekat dan berkata,
“Buka pintunya, bawa keluar dia!”
Maka, Yoppi pun berani membukakan pintu mobil, lalu
segera membantu Hamsad keluar dari mobil. Hamsad gemetar
dan mengerang seperti suara orang merengek. Ia menyeringai
bagai merasakan sesuatu yang amat sakit. Teman-teman yang
lainnya pun segera mengerumuninya.
“Tolong aku…! Ouh… tolooong, De…! Aku… aku… ah!”
Hamsad terpelanting, nyaris jatuh. Kakinya amat lemas dan
gemetar. Lalu, ia segera digotong ke bangku panjang, depan
kamar Bahtiar. Ia dibaringkan di sana. Tetapi, mendadak ia
meronta sambil menggeram, kejang.
“Aku… oh… tolong jangan dekati aku! Aku ingin mati…!”
kata-katanya menyeramkan bagi yang mendengar.
“Ham, ingat! Ingat kau tidak boleh mati atas kemauanmu
sendiri…! Ingat, Ham…!” kata Yoppi.
“Aku ingin mati!” ia menggeram dengan ge-regetan.
Matanya mendelik dan bergerak nanar, seakan mencari
sesuatu. Dan, pada saat itu Yoppi pun gemetar dan berkata,
“Celaka! Ia punya emosi untuk bunuh diri! Ia akan
mengalami nasib seperti Tigor…!”
Semua mundur, tegang. Napas mereka menjadi sesak, dan
tubuh mereka merinding semua. Hamsad tersengal-sengal
sambil menggerang-gerang. Matanya memandang mereka
dengan liar. Giginya menggemelutuk dan otot-otot tubuhnya
mulai mengeras. Ia masih sempat berusaha berkata,
“Tolong aku…! Ouhhh… tolooong…!”
***
Bab 11
Mereka berkomat-kamit membaca doa dalam upaya
menyadarkan Hamsad. Tetapi, nalurinya untuk bunuh diri
semakin kuat dan mengacaukan kesadarannya. Dengan napas

94
yang tersendat-sendat dan bibir gemetar, Hamsad berkata
kepada Ade, karena matanya yang liar itu tertuju pada Ade,
“Ambil tali…! Tal… tali…!”
Ade gugup, tak tahu harus mengambil tali ke mana. Yang
lain juga sibuk mencari tali tanpa mengerti maksud Hamsad.
Malahan Susilo berseru,
“Jangan! Jangan beri tali dia! Dia mau gantung diri…!”
Maka, semua yang sibuk mencari tali berhenti seketika.
“Kismiii…! Aaaow…!” Hamsad mengerang setelah
mendesah menyebutkan nama Kismi. Bayangan perempuan
itu semakin kuat dan seakan meremat hatinya, menciptakan
rasa sakit yang sukar dipahami.
Kembali matanya yang nanar itu memandang Yoppi.
“Taliii… cepat taliii…! Ikat tubuhku di pohon! Ikat kuat-kuat…!
Oh, tolong…!”
Barulah mereka mengerti maksud Hamsad yang
sebenarnya. Dia minta diikat di pohon, supaya segala
gerakannya terbatas. Maka, mereka sibuk mencari tali untuk
mengikat tubuh Hamsad. Pada saat itu, terdengar lagi Hamsad
berkata sambil memejamkan mata kuat-kuat, “Ada di… di
mobil! Ada di mobilku…! Taliii…!”
Ade berlari ke arah mobil, dan mendapatkan segulung
tambang di samping tempat duduk sopir. Di situ juga terdapat
borgol, gelang besi untuk pencuri, yang diperkirakan milik
ayah Hamsad yang memang sebagai kepala polisi di sebuah
resort. Ade membawa serta borgol yang siap digunakan itu.
Tepat ketika Ade tiba kembali di depan Hamsad, pemuda
diracun kerinduan itu menggeram sambil berkata,
“Taaa… tanganku… oh, tanganku mau mengeras…! Ouh…
tolong, tolong diborgol ke belakang! Cepat, cepat…! Cepat…!”
Bahtlar merebut borgol dari tangan Ade, lalu ttegera
memborgol kedua tangan Hamsad. Tangan kanan itu belum
sempat menjadi kaku ketika ditautkan ke belakang dan
dijadikan satu dengan tangan kiri, lalu diborgol keduanya.
Crek…!

95
Sambil terengah-engah, Hamsad menyebut “Kismi”
beberapa kali. Di sela kata-kata Kis-mi itu ia berkata, “Ikat
aku…! Ikat di pohon mangga, belakang kamar mandi itu…!
Lekas…, bawa aku ke sana…! Ouh…, Kismi! Aku ingin
bertemu Kismi…!”
Lukman yang berbadan besar segera membawa Hamsad ke
pohon mangga. Yoppi dan Ade membantu mengikat tubuh
Hamsad, dijadikan satu dengan batang pohon.
“Ikat yang kuat! Jangan sampai ia bisa bergerak,” kata
Bahtiar dengan gugup.
Tali itu cukup panjang. Agaknya Hamsad berhasil
menyiapkan peralatan yang sederhana itu, sehingga tubuhnya
berhasil diikat dari dada sampai ke kaki. Ia seperti seorang
tawanan yang siap dihukum tembak. Sementara Hamsad
menggeram dan terengah-engah, mulut-mulut yang lainnya
gemetar tidak berani bicara. Dalam hati mereka timbul
perasaan macam-macam, antara kasihan, takut dan heran
bercampur menjadi satu, membuat mereka hanya terbengongbengong
dengan jantung berdebar-debar.
Lonceng di gardu ronda terdengar samar-samar satu kali.
Itu pertanda malam telah melewati pertengahan, dan sepi
kian menghadirkan kesunyian. Saat itulah, masa-masa
kemunculan Kismi ke kamar seruni pada motel tersebut.
Namun, kali ini bukan Kismi yang muncul menemui Hamsad,
melainkan kerinduannya yang amat menyiksa. Gairah ingin
bercumbu meluap-luap. Birahi Hamsad bagai membakar jiwa.
Menuntut satu pelampiasan yang nyata, namun ia tidak
mampu berbuat apa-apa karena tubuhnya terikat kuat di
pohon sedangkan kedua tangannya diborgol ke belakang.
Hamsad mengerang dengan otot leher menjadi bertonjolan
keluar. Ia menahan gejolak hasratnya yang membara di luar
kewajaran.
“Ta… tang… tanganku… tanganku… kakkk… kaku! Iaaa…
ia mau bergerak sendiri…! Oh… ouh…! Aaaow…!”
Hamsad memekik tertahan dengan kepala mendongakdongak,
seakan berusaha keras untuk dapat melepaskan

96
tangan kanannya dari borgol. Ia juga menggerak-gerakkan
badannya, bagai ingin meronta dari ikatan. Tetapi, ia tidak
berhasil. Ikatan terlalu kuat dan borgol pun cukup kokoh
menautkan tangan kanan dengan tangan kirinya. Jiwanya
bagai terbagi dua, antara ingin bunuh diri dan ingin melawan
hasratnya itu. Akibatnya Hamsad tiada habisnya mengerang,
menggeram dan meronta-ronta.
Mereka merasa terharu melihat Hamsad susah payah ingin
melepaskan diri. Susilo sempat berkata, “Kasihan dia!
Lepaskan saja…!”
Saat itu, Hamsad sempat berkata sambil menggeram
seperti orang kesurupan, “Jang… jangan…! Ouh, yaaah…
jangan! Jangan lepaskan…! Aaaoh… panggil Kismi! Panggil
Kismi… oh, aku ingin bertemu dengannya di alam kubur…!
Kismiii…!” Hamsad mengejang-ngejang. Tangan kanannya
bergerak-gerak dengan kasar. Ia kelihatan amat menderita
sekali. Teman-temannya banyak yang membaca doa kembali
untuk membebaskan Hamsad dari cekaman gaib yang
mengancam keselamatan itu.
Sesaat, terdengar lagi Hamsad meminta sesuatu tanpa
menatap salah seorang. Ia memejamkan mata sambil berkata
dalam erangan,
“Tutup mulutku…! Oh…! Tutup mulutku dengan kain…!
Lekaaas…! Aku ingin berteriaaak…! Lekaaas…!”
Bahtiar meraih sarung yang ada di tali jemuran dalam.
Sarung itu segera digunakan untuk menutup mulut Hamsad,
diikatkan ke belakang, sehingga praktis sarung itu juga
mengikat kepala Hamsad dengan batang pohon.
‘Hidungnya jangan ikut ditutup, Tiar! Biar ia bisa bernapas!”
saru Lukman dengan perasaan cemas bercampur kasihan.
Malam menghadirkan desiran angin pembawa embun.
Dingin. Ada kesan lengang di sela desiran angin itu. Seakan
angin berhembus tanpa desau dan suara apa pun. Hal itu
membuat mereka yang ada di depan Hamsad menjadi
merinding dicekam rasa takut. Apalagi mereka mendengar

97
anjing di rumah belakang pondokan itu melolong panjang
bagai irama menjelang ajal. tubuh mereka semakin bergidik.
Sementara itu, Hamsad masih meronta-ronta. la berteriak
keras-keras, namun suaranya teredam kain sarung yang
menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan kanannya makin
agresif, berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan gelang
borgol besi itu. Kakinya pun mulai bergerak-gerak, berusaha
melonjak, dan pundaknya meliuk-liuk, ingin melepaskan diri
dari ikatan tali yang kuat. Hamsad tak bisa berkata apa-apa.
Hanya suaranya yang menggeram disekap kain dan matanya
yang melotot bagai ingin keluar itulah ang membuat temantemannya
tak berani menatapnya langsung. Doa-doa masih
diucapkan oieh mereka dengan perasaan sedih. Bahkan Susilo
mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca,
memandang haru keadaan Hamsad.
Angin semakin berhembus kencang, merontokkan banyak
dedaunan dari pohon tersebut. Tak lama kemudian, gerimis
pun turun. Mereka semakin panik dan serba bingung. Namun,
saat itu mereka juga menepi menghindari rintikan gerimis di
ujung dini. Bahkan kali ini, gerimis itu telah berubah menjadi
hujan yang deras.
“Lepaskan dia! Dia kehujanan…! Dia menggigil di sana!”
kata Susilo dengan panik.
“Tenang, Sus.Itu cara yang dipilihnya,” kata Bahtiar.
‘Tapi kita harus tahu perasaan! Itu cara yang tidak
manusiawi!” bentak Susilo.
“Kalau dia kita lepaskan, maka ia akan bunuh diri! Apakah
itu manusiawi?!” balas Bahtiar dalam serentetan bentakan
kasarnya. Lukman segera melerai percekcokan mereka.
Gelegar suara petir di angkasa terdengar mengejutkan
mereka. Hamsad masih berusaha berontak dari ikatan dan
borgolnya. Jeritannya teredam kain sarung sehingga tak
terdengar keras. Hujan deras mengguyur tubuhnya di sela
per-cikan cahaya petir yang menggelegar beberapa kali.
“Bahaya! Dia bisa tersambar petir jika diam di bawah
pohon!” kata Susilo sangat tegang. Lama-lama, Susilo tidak

98
sampai hati melihat Hamsad diguyur hujan dan petir dalam
keadaan terikat, lalu ia pun berlari menerobos derasnya hujan
dan bermaksud membukakan tali pengikat tubuh Hamsad.
“Sus…! Jangan!” teriak Yoppi.
Ade segera melompat menyusul Susilo dan menarik kaos
yang dikenakan Susilo sambil berkata,
“Kau mau membunuh teman sendiri, hah?! Kau mau
membiarkan teman bunuh diri?!”
“Dia bisa mati tersambar petir, tahu?!” Susilo membetot,
tetap ingin mendekati Hamsad, tetapi Ade menyeret Susilo
hingga anak itu terpelanting jatuh.
“Bangsat kau…!” teriak Susilo lepas kontrol.
Ia hendak memukul Ade, tapi tangannya segera dipegang
Lukman yang berbadan besar, Lukman menyeret Susilo ke
teras sambil berkata,
“Kuasai emosimu, Sus! Saat ini gunakanlah otakmu, jangan
hanya perasaanmu!”
Susilo tak dapat berbuat banyak dalam cengkeraman
Lukman. Akhirnya ia tak tega menghadapi penderitaan
Hamsad, ia segera masuk ke kamar dan mengunci kamarnya
dengan kasar.
Tak berapa lama, hujan pun reda. Gerakan Hamsad mulai
melemah. Memang masih terlihat napasnya terengah-engah,
tetapi tangan kanannya yang sejak tadi berusaha ditarik keluar
dari borgol, kali ini tampak melemas.
Pukul 12 lewat, saat itu, mereka melihat Hamsad terkulai
pingsan di tempat. Tetapi, mereka masih belum berani
melepaskan ikatan pada tubuh Hamsad. Bahtiar berkata,
“Tigor dulu juga pingsan karena dipukul Lukman, tetapi
tangan kanannya bisa bergerak sendiri, dan menikam dadanya
beberapa kali. Jadi, kurasa tangan kanan Hamsad pun bisa
melakukan hal yang serupa jika kita lepaskan ikatan tali dan
borgolnya.”
“Sebaiknya tunggu sampai subuh tiba,” kata Yoppi, dan
yang lainnya setuju.

99
Maka, ketika mendengar suara adzan subuh, mereka baru
mulai berani melepaskan ikatan Hamsad. Tetapi, borgol itu tak
dapat dilepaskan, karena mereka tidak tahu di mana Hamsad
menaruh kunci borgol. Hamsad digotong ke kamar Bahtiar,
dan mendapat pertolongan sebagaimana mestinya. Tangan
kanannya berdarah, karena berulangkali memaksakan diri
untuk lolos dari borgol. Semua mata yang memandangnya
merasa iba dan semakin kasihan kepada Hamsad. Tetapi,
ketika Hamsad siuman, ia justru merasa lega karena telah
selamat dari ancaman maut, yaitu bunuh diri di luar
kesadaran. Roh yang masuk ke tangan kanannya telah
berhasil dijerat dengan akalnya, sehingga tangan kanan itu tak
bisa bergerak sendiri, seperti yang terjadi dalam kasus
kematian Norman, Denny, dan Tigor.
Di depan mata mereka, Hamsad memang berhasil lolos dari
ancaman maut kekuatan gaib tangan kanannya, tetapi apakah
itu berarti Hamsad menjadi jera? Apakah itu membuat
Hamsad puas dengan dirinya?
Tidak! Hamsad masih penasaran. Ia masih menyimpan
rindu kepada Kismi, walau rindunya itu tidak meracun jiwa.
Tetapi, karena rindunya itu ia jadi datang kembali ke Motel
Angel Flowers, dan membocking kamar Seruni. Kamar itu
masih kosong. Barangkali memang tidak ditawarkan kepada
tamu lain oleh petugas motel, karena mereka takut tamutamunya
mengecam akibat kamar angker tersebut. Hanya
saja, karena Hamsad memaksa untuk menyewa kamar Seruni,
maka petugas resepsionis tak bisa lagi menghalanginya.
Kamar itu tetap seperti dua malam yang lalu. bersih,
teratur rapi. Taplak meja di ruang tamu masih sama,
berwarna biru muda. Kursi meubel-nya juga masih sama,
terletak melingkar, menghadap ke dinding kaca depan. Hanya
saja, letak pot besar yang memuat tanaman sejenis palm itu
bukan lagi di samping pintu, melainkan ada di sudut ruangan,
dekat dengan buffet penghias ruangan. Selebihnya tak ada
yang berubah. Bahkan warna seprei dan selimutnya pun tetap

100
sama. Ini semakin mengingatkan Hamsad pada masa-inasa
indah yang pernah ia lewati bersama Kismi di kamar tersebut.
Hamsad masuk pada pukul 7 malam dengan tangan dibalut
perban. Luka pada tangan kanannya itu terasa perih jika tidak
dibalut perban, seperti seorang petinju yang belum
mengenakan sarung tinjunya. Dengan dibalut perban begitu,
rasa perih tersebut berkurang, dan konsentrasi Hamsad tidak
terlalu terganggu oleh rasa perih.
Sebelumnya, Hamsad telah menyiapkan segala sesuatunya
yang diperlukan. Tabungannya diambil sebagian dari bank.
Lalu, ia membeli sebotol madu asli, susu, telur ayam kampung
sampai 24 butir, anggur ginseng, super mie, dan beberapa
obat yang berguna untuk memulihkan kesehatan badan serta
menjaga stamina tubuh. Hamsad sempat tertawa sendiri
ketika membeli barang-barang tersebut. Tetapi, ia akhirnya
tidak peduli, karena semua itu memang ia butuhkan untuk
memulihkan tenaganya yang nyaris terkuras habis akibat
pergulatannya melawan emosinya kemarin malam.
Menunggu sampai lewat tengah malam, adalah pekerjaan
yang menggelisahkan bagi Hamsad. Ia berbaring sambil
menyaksikan acara TV, satu-satunya hiburan yang ada di
kamar tersebut. Sampai tak terasa, ia pun tertidur di tempat.
Mungkin karena kelelahan yang luar biasa, sehingga ia sampai
tertidur dan lupa mematikan TV.
Kalau saja ia tidak mendengar suara orang mandi, mungkin
ia tidak akan terbangun sampai pagi. Tapi, karena ia
mendengar desis kran shower di kamar mandi dan
gemericiknya air, maka ia pun terperanjat bangun. Lalu,
hatinya bertanya heran, “Siapa yang mandi? Rasa-rasanya aku
tidak membawa teman?!”
Buru-buru Hamsad menengok arlojinya di meja, lalu ia
menggumam, “Oh, pantas. Sudah pukul 12 lewat 23 menit.
Sudah lewat tengah malam…!”
Maka, hati Hamsad pun mulai berdebar-debar, karena ia
tahu bahwa orang yang mandi itu tak lain dari Kismi. Gemetar
langkahnya ketika ih mengendap-endap mendekati kamar

101
mandi yang pintunya tak tertutup itu. Pada saat langkahnya
makin dekat, kran shower itu berhenti, bagai ada yang
mematikan. Hamsad semakin berdebar dan merasa heran.
Tapi, ia nekat mengendap-endap untuk mengintip siapa
gerangan ynng mandi di tengah malam ini.
“Jangan seperti pencuri, Hamsad…!” terdengar suara dari
dalam kamar mandi. Dan, suara itu jelas suara Kismi yang
serak-serak manja, Hamsad lalu menampakkan diri dengan
cengar-cengir. Matanya tak berkedip memandang tubuh mulus
berkulit kuning langsat itu dalam bintik-bintik air yang hendak
disapu dengan handuk. Mamsad buru-buru masuk dan
menyahut handuk dari tangan Kismi.
“Jangan hapus…!”
“Hamsad…?! Aku dingin…!”
“Biarkan aku memandangi tubuhmu yang tersiram bintikbintik
air ini. Oh… begitu indahnya kau dalam keadaan basah
begini, Kismi…,” bisik Hamsad sambil menatapi tubuh polos itu
Kismi kepala sampai ke kaki.
“Konyol kamu, ah!” Kismi berusaha meraih handuk, dan
Hamsad menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
Jari-jemari Hamsad meraba tubuh itu, bagai menyentuh
butiran-butiran airnya dari pundak ke dada. Kismi
membiarkan, justru tertawa dalam desah, dan terdengar nada
seraknya yang seakan kemanjaan itu.
“Maaf, aku membangunkanmu, Hamsad,” kata Kismi sambil
membiarkan ujung jemari Hamsad merayap samar-samar di
permukaan kulit tubuhnya.
“Aku tertidur menunggumu,” kata Hamsad tanpa menatap.
“Aku tahu, dan aku merasa semakin kagum padamu,
Hamsad.”
“Dalam hal apa?” tanya Hamsad setelah mencibir.
“Tak pernah ada lelaki yang lolos dari dendam Cincin
Zippus, kecuali kau.”
Kali ini, Hamsad menatapnya. “Dendam cincin…?!” Hamsad
memperjelas keheranannya.

102
“Setiap lelaki yang bercinta denganku, ia pasti mati oleh
tangan kanannya sendiri, sebab di tangan kananku itulah
Cincin Zippus melekat sampai sekarang. Kutukan Cincin Zippus
akan merasuk dalam tangan kanan lelaki yang bercinta
denganku, dan lelaki itu pasti akan mati oleh kutukan Zippus,
yang menggunakan bantuan tangan korban sendiri. Dan,
kau…?” Kismi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Kau
hebat sekali! Kau bisa lolos dari kutukan. Itu
mengagumkan…!”
“Kau juga mengagumkan! Perempuan lain bisa kuabaikan,
tapi kau tidak sama sekali…,” Hamsad tersenyum, Kismi
mengikik serak, kemudian ia mengecup kening Hamsad.
Tetapi, balasan Hamsad lebih panas dari lahar gunung berapi.
Sekujur tubuh Kismi dirayapinya dengan bibir dan lidah,
membuat Kismi merintih di sela desah, melebarkan tubuhnya,
memberi kesempatan Hamsad agar lebih leluasa. Lalu, kamar
mandi itu menjadi arena berpacu bagi napas-napas yang
memburu puncak kemesraannya.
***
Bab 12 tamat
Keduanya ternyata memang pasangan yang tak pernah
mengenal lelah. Banjir keringat bukan penghalang bagi
mereka untuk terus berpacu. Kali ini, ranjang menjadi
tumpuan amukan birahi mereka. Seprei kasur menjadi lusuh.
Morat-marit tak karuan. Kismi mengamuk setiap birahinya
melambung tinggi, melahirkan pekik dan ringkikan yang serakserak
manja. Dan, suara itu membuat Hamsad makin
menggebu-gebu dalam cumbuannya, makin dibakar
gairahnya, meskipun ia sudah berulangkali melambung tinggi
mencapai puncak harapannya.
Di awal dini, akhirnya petualang cinta mereka berhenti.
Kismi yang memohon agar Hamsad mengakhiri ‘pelayarannya’
saat itu juga.

103
“Hari sudah menjelang pagi, dan kita harus berpisah lagi,
Hamsad,” kata Kismi memberi pengertian dengan sabar dan
lembut.
Hamsad mendesah, seakan tak mengizinkan Kismi pergi. Ia
memeluk perempuan itu dalam satu rengek kemanjaan
seorang lelaki. Erat sekali ia memeluk Kismi, sehingga Kismi
merasa kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Hamsad disetiap
saat. Kismi menjadi haru. Ia mencium Hamsad beberapa kali,
bahkan kini ia juga memeluknya erat-erat dengan kedua kaki
menggamit tubuh Hamsad.
“Aku juga tidak ingin berpisah,” bisik Kismi. ‘Tapi
keadaanku tidak mengizinkan kasih kita selalu berpadu
sepanjang hari, bahkan sepanjang masa, Hamsad.”
“Aku ingin memilikimu, Kismi. Aku ingin membanggakan
kekasihku kepada mereka!”
“ltu tidak mungkin, Hamsad. Ada penghalang di antara
kita.”
“Aku akan menembusnya, Kismi! Aku akan menghancurkan
penghalang itu!” ucap Hamsad dalam pelukannya. “Apa pun
yang harus kutempuh, aku harus bisa memiliki kamu, Kismi.
Aku tak mau tersiksa seperti kemarin malam lagi. Aku tak
mau!”
Kismi merasa kaget, dan bingung juga menggadapi sikap
lelaki seperti Hamsad. Ia masih memeluk Hamsad,
membiarkan Hamsad tengkurap di atasnya Tangan Kismi
mengusap-usap kepala Hamsad dengan lembut, seakan satu
curahan rasa kasih sayang yang tak ingin berakhir sampai di
situ.
Setelah melalui masa bungkam yang mendalam, Kismi pun
berkata lirih,
“Carilah potongan tanganku, dan tempelkan pada jasadku,
maka aku akan hidup kembali dan kita bisa berdua ke mana
saja, Hamsad.”
Kali ini, Hamsad menarik wajahnya, ia mengatur jarak
dengan menggunakan kedua lengan dipakai bertumpu di

104
kasur. Ia memandang Kismi yang terbaring di bawahnya, lalu
bertanya,
“Bukankah kedua tanganmu dalam keadaan lengkap, tak
kurang satu apa pun?”
Kismi menggeleng, wajahnya sendu. “Ini tangan semu.
Tangan yang ada dalam khayalanmu saja. Jasadku ini juga
jasad yang ada dalam khayalanmu, Hamsad. Itulah sebabnya
kukatakan, bahwa di antara kita ada batas penghalang, yaitu
khayal dan kenyataan! Terkadang manusia tidak bisa
membedakan keduanya. Kau tidak bisa melihat, bahwa tangan
kananku ini sebenarnya buntung. Dipotong oleh Rendy, bekas
kekasihku yang punya penyakit syaraf.”
“Di mana orang itu sekarang?”
“Ada di neraka. Kau mau ikut ke neraka?”
Hamsad menghempaskan napas. Ia masih belum mau
melepas hubungan kasihnya, dan tetap membiarkan dirinya di
atas Kismi. Lalu, dengan suara sedikit bimbang ia bertanya,
“Di mana kau dibunuh oleh Rendy?”
“Di kamar ini!”
“Dan, potongan tanganmu di simpan di mana?”
“Entahlah. Mungkin di kamar ini, mungkin di tempat lain.
Dibuang begitu saja. Carilah, dan letakkan pada jasadku yang
bersemayam di dalam kotak kaca, maka rohku yang ada di
dalam batu Cincin Zippus itu akan membuatku hidup kembali.
Kematianku yang ketiga nanti, adalah kematian yang sejati.
Tapi, saat ini, aku masih bisa hidup dan menikmati kehidupan
selayaknya manusia biasa…!”
Hamsad mendesah, lalu menegaskan kata, “Akan kucari
potongan tanganmu itu sampai dapat!”
“Tapi, hati-hati, Hamsad. Dia ganas! Dia memendam kutuk
dan dendam! Dialah yang semalam berusaha ingin
membunuhmu!”
Merinding juga Hamsad jika teringat peristiwa kemarin
malam. Tapi, demi teringat kemesraan dan cintanya kepada
Kismi, Hamsad tetap bertekad untuk mencari potongan tangan
kanan Kismi. Hanya saja, di mana potongan tangan itu

105
dibuang oleh Rendy, atau disembunyikan? Ah… itu satu hal
yang sulit bagi Hamsad. Sukar ditentukan secara logika.
Sepanjang siang, Hamsad memikirkannya sambil mondarmandir
di dalam kamar, terkadang ia meneliti keadaan tanah
di luar kamar, mencari kemungkinan di mana tangan Kismi
disembunyikan Rendy.
Semuanya dilakukan secara diam-diam agar tidak
menimbulkan kecurigaan orang lain, terutama petugas motel
itu. Beberapa batu dibongkarnya, dan dikembalikan seperti
semula jika ternyata tidak terdapat apa yang dicari. Beberapa
tanah di korek-koreknya, dan dikembalikan seperti semula
karena tak ada tanda-tanda tangan Kismi di sana.
“Kamar ini harus kutelusuri lebih dulu,” pikir Hamsad.
“Mungkin membutuhkan waktu sehari penuh. Kalau memang
di kamar ini tidak ada, berarti aku harus mencari ke tempat
lain, mungkin di pinggir sungai, di pinggir selokan, atau… ah,
memang sulit ditentukan. Tetapi, seandainya aku menjadi
Rendy, apa yang kulakukan setelah aku membunuh Kismi dan
memotong tangannya?” Hamsad berpikir keras.
Membayangkan seandainya dia menjadi Rendy yang
berpenyakit syaraf, apa yang akan dilakukan terhadap
potongan tangan itu? Kemudian, batinnya berkata, “Mayat
akan kutinggalkan, supaya orang-orang terkejut menemukan
mayat Kismi, lalu tangan itu…? Hm… tangan itu akan
kuletakkan di tempat tertentu di kamar ini. Tak perlu repotrepot
membawanya pergi dan membuangnya. Cukup
diletakkan di suatu tempat, sehingga suatu saat akan ada
orang yang terkejut menemukan tangan itu. Lalu, ia akan
berteriak ketakutan, dan aku akan puas mendengarnya!”
Hamsad menghempaskan tubuhnya, duduk di ruang tamu.
“Itulah pikiranku jika aku menjadi Rendy yang sinting.
Sekarang, di mana tangan itu disembunyikan yang kira-kira
bisa membuat orang terkejut?” Setelah berpikir beberapa saat,
Hamsad berkata sendiri, “Di almari…! Buffet, kulkas, almari
dapur dan… dan bawah kasur!”

106
Bergegas dia memeriksa tempat-tempat tersebut dengan
teliti. Ternyata tempat yang diperkirakan itu tidak menyimpan
tangan Kismi. Ia mendesah kesal. Hatinya berkata,
“Bagaimana dengan tempat penampungan air closet? Jika ada
yang membukanya pasti akan menjerit karena melihat
potongan tangan terapung!”
Lalu, ia pun memeriksa tempat penampungan air WC, yang
secara otomatis akan mengguyur closet itu jika habis dipakai
seseorang. Ternyata di sana juga tidak ada. Hamsad mulai
kesal. Ia melihat plafon kamar mandi yang terbuka pada
gagian sudutnya. Hatinya berkata, “Oh, ya, ya…apa salahnya
jika kuperiksa bagian atas eternit ? Siapa tahu potongan
tangan itu dilemparkan begitu saja di dalam eternit itu?!”
Dengan susah payah Hamsad memeriksa langit-langit
kamar mandi, dan seluruhnya. Isinya tanya kabel-kabel
instalasi listrik yang malang-melintang. Tak ada potongan
tangan di sana. Hamsad sudah mencarinya dengan teliti,
sampai jeluruh pakaian dan tubuhnya menjadi kotor oleh
debu.
“Ke mana, ya?” pikirnya sambil garuk-garuk kepala.
Mendadak, telepon berdering. Petugas resepsionis
mengingatkan ckeck-out hampir tiba, lalu menanyakan apakah
Hamsad mau melanjutkan sampai beberapa malam, atau
cukup untuk hari itu saja? Karena Hamsad digelayut rasa
penasaran dan tekad untuk menemukan potongan tangan itu
menggebu-gebu, maka ia bermaksud memperpanjang waktu
sampai besok siang.
“Sial! Benar-benar sulit menemukan potongan tangan itu!”
gerutunya dengan nada kesal. “Ah, sebaiknya aku istirahat
dulu. Semalaman aku tidak tidur. Siapa tahu setelah bangun
tidur nanti aku menemukan gagasan yang lebih baik…!”
Hamsad menyuruh room-boy untuk membereskan
kamarnya, sementara itu ia mandi, merendam diri di air
hangat, yang mampu mengurangi rasa capeknya itu.
Ketika ia merebahkan diri, benaknya terbayang kecantikan
Kismi dan kehebatan wanita itu di atas ranjang. Alangkah luar

107
biasa bangganya jika Hamsad bisa memperistri wanita cantik
seperti Kismi. Alangkah bahagianya nanti jika ia telah hidup
bersama Kismi. Angan-angannya pun mulai melambung tinggi,
menciptakan sejuta keindahan yang ada pada khayalnya.
Berulangkah hatinya berucap tekad, “Aku harus memiliki dia!
Aku harus memiliki Kismi. Aku sangat mencintainya…!” Lalu, ia
pun tertidur.
Tak diduga ternyata Hamsad tertidur cukup lama. Ketika ia
bangun, ia mendapatkan alam telah meremang, matahari
senja tinggal seujung rambut dan memancarkan warna merah
lembayung di perbatasan samudera. Debur ombak terdengar
jelas, karena angin senja berhembus tanpa suara. Badannya
segar dari segala kepenatan, apalagi ia telah meminum susu,
telur mentah, madu dan lain sebagainya. Namun demikian,
perutnya toh masih terasa lapar juga, sehingga ia memesan
makanan untuk pengisi perutnya.
Sambil menikmati makanannya, Hamsad berpikir-pikir
tentang potongan tangan Kismi. Tadi siang, semua tempat
sudah diperiksanya. Kini tinggal bagian dinding dan lantai.
Maka, seusai menyantap makanannya, Hamsad kembali
beroperasi, memburu tangan Kismi. Setiap dinding diketuknya
pelan-pelan, didengarkan suara ketukannya. Jika menggema,
berarti tempat itu berongga. Besar kemungkinan di situlah
tangan tersebut disembunyikan. Semua dinding diketuk. Rata.
Dan, itu memakan waktu cukup lama, karena ia kerjakan
dengan cermat dan hati-hati.
Sayang, hasilnya tidak memuaskan. Tidak ada dinding yang
patut dicurigai. Tak ada rongga di dalam dinding tersebut.
Bahkan dinding kamar mandi dan dapur pun telah
diperiksanya, dan hasilnya nihil. Sekarang giliran lantai yang
menjadi pusat perhatiannya. Saat itu, malam telah lama
menebarkan kegelapan. Arlojinya menunjukkan pukul 8 lewat
15 menit.
Lantai kamar terbuat dari ubin marmer warna putih kebirubiruan.
Berukuran 40×40 cm tiap lempengan ubin. Dengan
tekun Hamsad mengetuk-ngetuk setiap ubin, mencari ruangan

108
di bawahnya. Dari lantai teras, masuk ke ruang tamu, masuk
ke ruang tidur dan terus ke kamar mandi, tidak ada ubin yang
menimbulkan gema jika diketuk. Berarti tidak ada bagian yang
berongga.
Sejenak pintu diketuk. Hamsad terperanjat. Ia menggumam
dalam hati, “Belum lewat tengah malam, mungkinkah Kismi
datang?”
Oh, ternyata seorang pelayan restoran yang datang dan
menyodorkan bon makanan yang dipesan Hamsad. Hempasan
napas menandakan Hamsad mengalami kelegaan ketika
mengetahui yang datang pelayan restoran itu. Ia segera
memberikan selembar uang puluhan ribu tanpa kembali, dan
pelayan itu pun pergi.
Ketika ia hendak kembali ke ruang belakang, meneruskan
pekerjaannya yang menyita waktu itu, ia sedikit merasa heran.
“Seingatku, pot besar itu kemarin ada di sudut sana,
kenapa sekarang berada di sini, di dekat pintu? Siapa yang
memindahkan?” Kemudian, Hamsad tertawa sendiri dan
menggumam, “Sial! Room-boy yang membereskan kamar
sewaktu aku mandi siang tadi, pasti telah memindahkannya
kemari. Dan… ah, pikiranku sekarang mudah curiga. Bukan
kepada manusia, kepada benda pun punya kecurigaan!
Gawat! Jangan-jangan aku menjadi sinting!” sambil
menggumam begitu, ia melangkah ke belakang.
Sekarang, bagian dapur ia periksa lantainya. Satu demi
satu diketuknya menggunakan gagang obeng besar yang ia
ambil dari dalam mobilnya di garasi. Dan ternyata, salah satu
dari ubin itu menimbulkan gema ketika diketuk. Hamsad mulai
berdebar-debar. Apa yang dicarinya mulai menumbuhkan
harapan. Kemudian, ia segera membongkar ubin tersebut
dengan menggunakan obeng besar dan kunci pas dari dalam
mobilnya. Kunci digunakan untuk memukul gagang obeng,
sedangkan mata obeng sendiri berfungsi sebagai alat
pemotong semen perekat sambungan ubin.
Lama juga membongkar satu lempeng ubin itu, karena
semennya cukup keras. Kalau petugas motel mengetahui,

109
pasti pekerjaan itu dilarang. Tetapi, Hamsad yang sudah
telanjur penasaran itu tidak peduli dengan akibatnya. Ia tetap
membongkar ubin itu dengan sabar, sekalipun sudah
memakan waktu hampir satu jam lamanya.
Napas terhempas lega. Ubin sudah berhasil dibongkar.
Kemudian, dengan hati-hati dan berdebar-debar, ia
mengangkat ubin tersebut untuk dipindahkan ke sampingnya.
“Sial…!” cacinya dengan kesal. Di bawah ubin itu memang
ada rongga, tanah kosong, tetapi di situ ada pipa saluran air
yang agaknya pernah terpotong dan disambung lagi. Tidak
ada tangan Kismi, tidak ada tanda-tanda lain. Hanya pipa
saluran air dengan sambungannya.
“Uuuh…! Brengsek! Sudah capek-capek membongkar,
berkeringat, gemetar, eh… isinya pipa air! Konyol!” gerutu
Hamsad seraya meletakkan kembali ubin tersebut pada
tempatnya, tanpa menutupnya dengan semen seperti semula.
Ia terpaksa mandi saat itu juga, karena selain tubuhnya
berkeringat juga kotor karena tanah. Selesai mandi, ia
membubuhkan parfum penyegar badan sambil matanya
melirik ke arloji di meja. Oh, sudah pukul 10 malam lebih 50
menit?
“Aku harus bersiap menyambut kedatangan Kismi. Ia akan
semakin mengagumiku jika aku berpakaian rapi dan
menunggunya di ruang tamu!” kata Hamsad sendirian, seperti
orang gila.
Susu, madu dan telur yang dicampur ginseng, segera
ditenggaknya habis. Kemudian, ia duduk di meubel tamu,
santai. Sekaleng bir tersedia di atas meja, depannya. Sebuah
majalah milik Dian yang tertinggal di mobil bisa dijadikan
bahan bacaan menunggu lewat tengah malam.
Penat juga membuang waktu lama dengan duduk-duduk.
Maka, Hamsad pun pindah tempat. Kali ini ia melonjorkan kaki
di sofa dengan santai sambil meneruskan membaca majalah.
Tetapi, pada saat majalahnya menyentuh daun tanaman
dalam pot, Hamsad jadi terkejut.

110
“Aneh. Beberapa jam yang lalu pot ini ada di dekat pintu,
kok sekarang ada di sini lagi? Siapa yang memindahkan?” Ia
memperhatikan pot besar berisi tanaman sejenis palm yang
daunnya mirip daun mangga. Dahinya berkerut ketika
memperhatikan tanaman tersebut. Jelas tadi ia sempat curiga,
karena tanaman itu ada di dekat pintu. Sekarang ia semakin
curiga, karena tanaman itu ada di sudut, dekat dengan sofa
Tangan Hamsad secara tak sadar mematahkan ujung daun
tersebut. Dan, ia terbelalak kaget, karena yang keluar dari
ujung daun itu bukan getah putih, melainkan getah merah.
Ketika diciumnya, getah itu berbau amis darah.
Merinding seketika itu juga tubuh Hamsad. Ilerdebar-debar
hatinya, dan mulai gemetar jari-jemarinya. Satu daun ia
patahkan lagi dari tangkainya. Klak…!
“Astaga…?!” Hamsad nyaris memekik keras, karena tangkai
daun itu mengucurkan getah merah yangberbau amis darah.
Hamsad sempat terlonjak mundur dengan mata membelalak
lebar.
Tetesan darah dari tempat bekas tangkai daun itu
menjatuhi tanah di bawahnya. Dan, Hamsad teipaksa
mengerutkan dahi tajam-tajam, mempertegas penglihatannya,
karena tetesan darah itu jatuh pada sebuah benda yang
mencuat dari kedalaman tanah pot. Rasa ingin tahunya
bergumul dengan perasaan takut. Hamsad mendekatkan
wajah, memperhatikan benda kecil itu.
“Astaga…?! In… ini., ini ujung kuku…!” Hamsad mencoba
mengorek tanah itu sedikit-sedikit, maka semakin berdebarlah
ia, karena kini tampak jelas di kedalaman tanah pot itu
terdapat jari kelingking manusia yang berkuku panjang, tapi
indah dan serasi.
“Ya, ampun…! Pasti di sini tangan Kismi ditanam oleh
pembunuhnya…!” kata Hamsad dalam hati.
Maka, segera ia mengorek tanah dalam pot besar itu
dengan kedua tangannya. Makin dalam semakin jelas
bentuknya. Sepotong tangan perempuan yang masih utuh,
tanpa kebusukan. Di jari manisnya melingkar cincin berbatu

111
putih kekuning-kuningan. Cincin Zippus. Mungkin karena cincin
itulah maka tangan yang terkubur di dalam tanah pot itu tidak
membusuk.
Hamsad menggali dengan kedua tangannya untuk
mendapatkan tangan tersebut tanpa ada yang tertinggal.
Napasnya memburu karena memendam rasa takut dan girang.
Sampai akhirnya, ia berhasil menggali seluruhnya. Menatapnya
sesaat, kemudian mengangkatnya pelan-pelan bekas
potongan sebatas pergelangan tangan lebih sedikit itu, masih
kelihatan berdarah segar.
“Benar. Tangan ini sama persis dengan tangan Kismi yang
sering mengusap-usap,” kata Hamsad pelan sambil
memperhatikan telapak tangan yang menghadap ke muka.
Tapi, tiba-tiba tangan itu melesat cepat mencengkeram
wajah Hamsad.
“Hah…!Aaah…!”
Hamsad terpekik dan ketakutan seketika. Jantungnya nyaris
berhenti berdetak ketika tangan itu bergerak cepat,
mencengkeram wajahnya. Dengan sekuat tenaga Hamsad
berusaha melepaskan, menarik tangan itu dan membuangnya
ke sembarang tempat. Napasnya terengah-engah. Wajahnya
berdarah karena kuku yang mencengkeramnya. Gerakan
potongan tangan Kismi yang di luar dugaan itu membuat
Hamsad menjadi panik dan sangat tegang. Matanya
membelalak lebar penuh rasa takut. Ia memandang potongan
tangan yang tergeletak jatuh di sofa, dekat dengan majalah.
Hamsad melangkah mundur perlahan-lahan mengitari
meja. Pada saat itu, ia melihat jelas jari tengah dan jari
telunjuk tangan itu bergerak-gerak, bagai merayap. Kemudian,
melompat ke meja kaca. Sekali lagi jantung Hamsad nyaris
berhenti melihat gerakan tangan yang mengerikan itu. la
bagai susah menelan air ludahnya sendiri. Kakinya gemetar
dan keringat dinginnya mengucur seketika.
Desakan rasa takut itu membuat Hamsad bergegas untuk
melarikan diri. Ia segera melompat dan berlari ke arah pintu
keluar.

112
Plokkk…!
Tiba-tiba potongan tangan itu melesat dan menempel pada
leher belakang Hamsad.
“Aaah… hah…! Hiiih…!” Hamsad meronta-ronta,
berjingkrak-jingkrak ketakutan dengan tubuh semakin
merinding. Kuku pada potongan tangan itu terasa menggores
perih di kulit lehernya, seakan hendak mencekik dari belakang.
Dengan sekuat tenaga Hamsad menarik tangan itu dan
membuangnya ke arah pintu. Namun, kali ini tangan tersebut
tidak mau terlepas dari genggaman Hamsad. Tangan itu justru
menggenggam tangan Hamsad kuat-kuat, bagai berpegangan.
Celaka! Hamsad mengibas-ngibaskan dengan gerakan cepat,
tetapi tangan itu masih lengket pada tangan Hamsad.
Lalu. dengan menggunakan tangan kanannya, Hamsad
menarik punggung potongan tangan yang masih berlumur
tanah itu. Ia berhasil, dan membuangnya ke arah pintu.
Plokkk…!
Tangan itu jatuh ke lantai. Mata Hamsad masih mendelik
memandanginya penuh rasa takut dan jijik. Potongan tangan
itu bergerak-gerak jarinya, kemudian bagai sebuah mainan ia
mampu melarikan diri dengan menggunakan jari-jemarinya
itu. Hamsad segera melompat ke ruang tidur menghindari
kejaran potongan tangan tersebut. Gerakannya begitu cepat,
sehingga sewaktu Hamsad hendak haik ke atas ranjang,
benda menjijikkan itu berhasil melompat dan mencengkeram
betis Hamsad.
“Waaaow…!” Hamsad memekik ketakutan. jPotongan
tangan itu bagai menempel pada celana Hamsad, dan ketika
hendak dipegang, ia bisa bergerak naik ke paha dengan cepat,
lalu merambat merambat terus ke punggung. Hamsad
kebingungan untuk memegang potongan tangan itu. Ia
berguling-gulingan sambil berteriak ketakutan. Potongan
tangan itu tidak mau terlepas. Kini justru merayap sampai ke
leher samping dan mencengkeram lagi.
“Setaaan…! Hhhah…!” Dengan menggunakan kedua
tangan, Hamsad berhasil lagi menarik potongan tangan Kismi

113
itu dan membuangnya ke arah dinding, bagai dibenturkan
dengan keras.
Semakin panik Hamsad menghadapi hal itu, semakin ngeri
ia melihat tangan tersebut tidak jatuh ke lantai, melainkan
mampu merayap di dinding seperti seekor cicak. Darah bekas
potongan tangan menetes ke sana-sini. Sungguh mengerikan.
Jari-jemari tangan yang sebenarnya lentik dan indah itu kali
ini bergerak-gerak lagi, bagai merayap di permukaan dinding.
Hamsad buru-buru masuk ke kamar mandi, dan mengunci
pintunya.
“Oh…! Oooh…!” Ia terengah-engah diteror potongan
tangan bercincin Zippus itu. Napasnya nyaris habis,
tenggorokannya kering, dan badannya lemas. Ia bersandar
pada dinding di kamar mandi dalam ketegangan yang
mencekam Sekarang ia merasa aman. Potongan tangan itu
tidak dapat masuk ke dalam kamar mandi. Tetapi, sampai
kapan ia harus mendekam di kamar mandi?
Tiba-tiba pintu kamar mandi itu diketuk-ketuk dengan
lembut. Hamsad tersentak kaget, berdiri dari jongkoknya, dan
menjauhi pintu. Ia tidak berani membukakan, bahkan
mendekati pintu pun ia tidak berani. Perasaan ngeri membuat
jiwanya menjadi kerdil dan ingin menangis karena dongkolnya.
Tok, tok, tok…! Suara pintu diketuk. Hamsad masih diam,
makin tegang, makin menjauh. Ia berdiri di atas closet yang
tertutup. Gemetar ketakutan.
“Hamsad…?! Haaam…?!”
“O, itu suara Kismi…!” katanya sambil menghempaskan
napas lega. Berulang-ulang Hamsad menghempaskan napas,
senang sekali, karena pemilik potongan tangan itu sudah
datang. Itu berarti waktu sudah menunjukkan lewat tengah
mulum.
Hamsad segera turun dari closet. dan membuka pintu
kamar mandi. “Hahhh…!”
Rupanya di luar kamar mandi tidak ada Kismi. Yang ada
hanya potongan tangan itu. Dan bunda tersebut segera
melesat masuk, menerkam kejantanan Hamsad. Nyawa

114
Hamsad bagai melayang ketika itu. Ia memekik kaget,
kemudian mengerang kesakitan karena alat kejantanannya
diterkam oleh potongan tangan yang ganas itu.
“Oh…! Oooh…! Aaaow…!” Hamsad terhuyung-huyung
dengan badan membungkuk. Kedua tangannya memegangi
potongan tangan Kismi yang makin lama terasa makin
meremat alat kejantanannya itu. Hamsad meringis kesakitan
dengan badan membungkuk, dan kini limbung ke kiri,
bersandar pada dinding di depan kamar mandi. Potongan
tangan itu bagai sukar ditarik. dan, apabila ia ditarik, terasa
makin kuat cengkramannya. Hal itu membuat Hamsad
semakin mengerang kesakitan dengan mata terpejam kuatkuat.
“Hamsad…?!” sapa sebuah suara di ruang tamu.
“Kismiii…!” teriak Hamsad tertahan karena memendam rasa
sakitnya.
Kismi muncul dari ruang tamu ke kamar mandi, dan ia
melihat Hamsad kesakitan sambil memegangi alat
kejantanannya.
“Oh… kau…?!” Kismi terperanjat kaget dengan mulut
terbengong.
“Aku menemukan… menemukan potongan tanganmu…!
Tapi, tapi dia meremat… aouuuh…!” Hamsad semakin
membungkuk dengan kaki merendah karena potongan tangan
itu semakin menggenggam alat kejantanannya.
“Lepaskan! Jangan sakiti dia…!” bentak Kismi sambil
memandang potongan tangannya.
Beberapa saat kemudian, potongan tangan itu pun
mengendur. Hamsad buru-buru menariknya. Sempat terlihat
olehnya jari-jemari potongan tangan itu bergerak-gerak, bagai
sedang melemaskan otot-ototnya. Hamsad buru-buru
melemparkannya, dan potongan tangan itu jatuh di lantai.
Kismi memandang potongan tangannya dengan senyum
berseri. Ia buru-buru memeluk Hamsad dan menciuminya.
“Oh… kau telah berhasil! Kau berhasil menemukannya,
Hamsad…!”

115
Yang bisa dilakukan Hamsad hanya uh nyr ringai
merasakan sisa sakitnya. Tetapi, ia kemudian berkata, “Apa
yang harus kulakukan?!”
“Lekas, bawa dia ke tempatku. Cari aku di ruang bawah,
dan tempelkan potongan tangan itu pada jasadku, Hamsad…!”
“Aku tidak mau membawanya! Aku tidak mau mati dicekik
olehnya, Kismi!”
“Jangan kuatir…!” kemudian Kismi mendekati potongan
tangannya yang tergeletak telentang di ranjang. Ia berbicara
dengan potongan tangan itu,
“Jangan sakiti dia! Dia akan mempertemukan kita!”
Jari-jemari yang tadinya diam, kini bergerak-gerak, seakan
sebuah anggukan tanda patuh terhadap perintah Kismi. Lalu,
Kismi mendekati Hamsad dan berkata,
“Bawa mobilmu menuju rumahku. Di sana aku tinggal, di
bekas rumah keluargaku yang sudah pindah ke Amsterdam.
Ikutilah kunang-kunang, ke mana arahnya, ikuti saja. Nanti
kau akan menemukan rumah di sebuah bukit. Rumah itu
sudah tak terawat lagi, tapi di sanalah Kosmin
menyemayamkan aku di dalam kaca…!”
Setelah berkata demikian, Kismi mencium pipi Hamsad.
Hamsad sendiri menunduk memperhatikan alat kejantanannya
yang dikhawatirkan terluka. Ternyata tidak. Namun, ketika ia
memandang ke depan, ternyata Kismi telah tiada.
“Kismiii…?! Kismiii…?!” Hamsad mencoba mencari Kismi,
dan wanita yang hadir setiap tengah malam itu memang tidak
ada lagi. Tetapi, Hamsad melihat seekor kunang-kunang
terbang di sekitar pintu. Hamsad tak tahu persis, apakah
kunang-kunang itu jelmaan dari roh Kismi atau bukan, tetapi
ia membiarkan kunang-kunang itu keluar melalui celah sempit,
dan Hamsad sendiri harus segera mengeluarkan mobil dari
garasinya.
Mulanya ia ragu-ragu ketika hendak mengangkat potongan
tangan. Tetapi, agaknya potongan tangan itu tidak seganas
tadi. Maka, dibungkusnya potongan tangan itu dengan

116
saputangan, kemudian ia pun keluar dari motel dengan
mengendarai mobilnya.
Malam bercahaya purnama, sehingga gelap tak terlalu
pekat. Kunang-kunang terbang di depan mobil. Gerakannya
cepat, seirama dengan gerakan mobil. Sementara itu,
saputangan pembungkus potongan tangan Kismi diletakkan di
jok samping kiri. Perhatian Hamsad tertuju pada gerakan
kunang-kunang penuntun jalan itu.
Ia tidak tahu kalau saputangan itu terbuka sendiri.
Kemudian, jari-jemari potongan tangan bercincin itu bergerakgerak.
Kini tengkurap, dan merayap perlahan-lahan.
Ciiit…! Mobil nyaris menabrak pohon, karena Hamsad
terkejut setelah pahanya terasa dicubit oleh potongan tangan
tersebut.
“Brengsek! Kulaporkan kau kepada Kismi kalau
menggangguku terus!” geram Hamsad dengan jantung
kembali berdebar-debar. Potongan tangan itu mencolek-colek
paha, bahkan kini menggelitik di pinggang Hamsad. Sesekali
Hamsad terpekik dan badannya bergerak kegelian, membuat
laju mobilnya menjadi limbung.
“Diam! Jangan ganggu aku!” bentak Hamsad
memberanikan diri. Potongan tangan itu melompat ke depan
stiran mobil. Hamsad membiarkan, karena potongan tangan
itu tidak membuat gerakan yang perlu dikuatirkan. Bahkan,
ketika kunang-kunang membelok arah, jari telunjuk dari
potongan tangan itu menuding ke arah kiri, seakan memberi
tahu agar mobil harus membelok ke arah kiri. Demikian juga
jika harus ke arah kanan, jari itu menujuk arah kanan.
Kemudian, tibalah Hamsad di sebuah perbukitan. Jalanan
menanjak, kanan-kirinya kebun teh. Melewati perkebunan itu,
ada jalan persimpangan. Jari telunjuk potongan tangan itu
menuding ke arah kanan, dan Hamsad membelokkan mobilnya
ke kanan. Tak berapa lama, jari tangan itu mengembang
semuanya, seakan menyuruh “Stop” pada mobil tersebut.
Cahaya purnama menampakkan sosok rumah kuno yang
tinggal reruntuhannya. Menyeramkan sekali. Bentuk

bangunannya jelas bangunan zaman Belanda. Bagian atapnya
sudah rusak total, dan pada bagian halamannya telah banyak
ditumbuhi tanaman liar, termasuk rumput ilalang.
Kunang-kunang terbang memasuki rumah yang
menyeramkan itu. Hamsad ragu-ragu. Ia berdiri di samping
mobil sambil memegangi potongan tangan. Tiba-tiba,
potongan tangan itu bergerak maju sambil memegangi tangan
Hamsad, seakan menariknya agar Hamsad segera memasuki
rumah kuno tanpa penghuni itu.
Langkah kaki Hamsad terasa gemetar. Ia memasuki rumah
yang sunyi dan kotor itu. Cahaya pucat rembulan
meneranginya. Bahkan ada lantai yang longsor ke bawah,
menuju ruang bawah. Potongan tangan dan kunang-kunang
menunjukkan jalan menuju lantai bawah, melalui tangga batu
di balik sebuah dinding kamar. Debar-debar di dalam dada
Hamsad makin bergemuruh. Ia tetap mengikuti penunjuk
jalannya yang setia Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah
peti kaca seukuran tubuh manusia.
Hamsad terhenyak kaget ketika menegaskan
penglihatannya, bahwa ternyata di dalam kotak kaca yang
mirip akuarium itu terdapat tubuh Kismi yang terbaring
dengan tangan kanan terpotong. Kismi mengenakan gaun
putih transparan yang sering dikenakan berkunjung ke kamar
motel.
Lebih terkejut lagi Hamsad setelah ruangan itu menjadi
terang. Ada cahaya api yang datang dari arah belakangnya. Ia
buru-buru berpaling. Oh, ternyata Pak Kosmin memegangi
obor sebagai penerangnya. Hamsad semakin gemetar, karena
ia ingat Pak Kosmin mampu menembus daun pintu bagaikan
asap.
“Jangan takut, Tuan. Saya tidak akan berbuat jahat…!
Lakukanlah apa yang harus Tuan lakukan,” kata Pak Kosmin
yang mempunyai sepasang mata cekung.
Kemudian, Hamsad membuka tutup kotak kaca itu dengan
gemetar. Napasnya tertahan, sesekali tersendat-sendat. PelanTiraikasih

pelan ia letakkan potongan tangan itu ke lengan kanan tubuh
Kismi.
Suatu keajaiban membelalakkan mata Hamsad, sambungan
pada potongan tangan dengan lengan Kismi itu membentuk
satu cahaya hijau muda. Hijau kekuning-kuningan, mirip
cahaya fosfor. Cahaya itu berpijar-pijar sejenak, kemudian
redup. Dan, kini menjadi hilang sama sekali. Obor yang
dibawa Pak Kosmin mendekat. Mereka memandang potongan
tangan bercincin Zippus itu, dan ternyata pada sambungan
tersebut tidak terlihat ada bekas luka sedikit pun
“Ia telah pulih kembali, Tuan,” bisik Pak Kosmin.
Hamsad terhentak lagi ketika mata Kismi yang terpejam itu
terbuka, berkedip-kedip sejenak, kemudian tersenyum
memandang Hamsad.
“Jangan takut, Hamsad.,.. Aku Kismi! Aku telah hidup
kembali!” seraya Kismi mengusap-usap pergelangan
tangannya yang semula buntung itu.
“Kau… kau benar-benar hidup…?!”
Kismi mengangguk, keluar dari kotak kaca, mendekati
Hamsad, kemudian Hamsad meraba pelan-pelan wajah Kismi.
Terasa hangat. Lalu, Kismi berkata lirih, “Kau berhak memiliki
aku, Hamsad…!”
Mata Hamsad berkaca-kaca karena terharu, kemudian
tanpa ragu lagi ia memeluk Kismi erat-erat, seakan tak ingin
berpisah dengan Kismi selama-lamanya. Kismi pun
menyambut pelukan itu dengan perasaan bahagia yang
mengharu. Ia sempat meneteskan air mata, dan Hamsad
mengusapnya sambil berkata,
“Jangan teteskan air mata. Aku tak ingin kehilangan kau,
walau hanya setetes air matamu. Aku tak ingin, Kismi…!”
“Ohhh, Hamsad…!” Aku kagum pada tekadmu! Aku juga
tidak ingin kehilangan kau…! Tapi….”
“Tapi, apa, Sayang?”
“Tapi ada satu risiko jika kau memperistri aku, Hamsad.”
“Risiko apa?”

“Aku… aku tak akan mempunyai keturunan…,” bisik Kismi
dengan perasaan sedih. Hamsad pun berkata lirih sambil
menatapnya,
“Aku tak mau peduli tentang itu, yang penting kau jadi
milikku. Dan… dan kau tak boleh kehilangan apa-apa lagi,
Kismi!”
Pelukan itu makin erat. Kemudian, Kismi berkata kepada
Pak Kosmin, “Terima kasih, pak Kosmin. Dampingilah kami
dari alammu…!”
Obor pun padam. Ruangan jadi gelap. Kisimi berlari-lari
membawa keluar Hamsad dari reruntuhan bekas rumahnya.
Kemudian, Hamsad bermaksud membawa Kismi kembali ke
motel untuk sementara waktu, sampai ditemukan tempat
kontrakan yang layak bagi Kismi yang ternyata seorang
ilmuwan berotak cerdas. Namun, ketika Kimiiii hendak naik ke
dalam mobil Hamsad, ia jadi terhenti dengan wajah memanja.
“Kenapa…?” tanya Hamsad heran.
“Kiss me…!” katanya seraya menyodorkan pipi, dan
Hamsad pun mencium pipi itu.

Related Post