cerita mesum

Pacar Baru Ngajak Mesum Mulu II

Mulu Baru setelah itu ia mengocokku. Kali ini tanpa basi-basi langsung ditusuknya kontolnya ke liangku yang sudah sangat basah itu. Kenikmatan yang kuharapkan tercapai sudah. Saya benar-benar puas saat itu. Belum pernah kami bercinta sepanjang itu.

Suatu waktu pernah saat libido saya meningkat, saya mencoba memancing Alan.

Saya mencoba menjadi penari telanjang.

Sewaktu musik berdendang, saya menari secara sensual dengan ditonton oleh Alan.

Perlahan-lahan baju dan celansaya sudah terbuka, saya tinggal mengenakan bra dan cd berwarna hitam.
Kemudian saya menghampiri Alan yang sedang duduk. Tanganku membelai dada Alan. Dengan sengaja saya menempelkan dada saya ke dada Alan.

Saya dengan sengaja mencium Alan. Lidahku bermain dengan lidahnya. Lalu tanganku ke dadanya, membuka kancing baju Alan satu-persatu.

Alan sudah bertelanjang dada. Lidahku “berperang†dengan lidahnya. Tanganku memainkan puting dada Alan. Kemudian ciuman saya turun ke leher Alan, saya jilat belakang kuping Alan. Lubang telinganya saya jilatin, sembari saya memainkan puting dada Alan. Setelah saya puas memainkan puting dadanya, tanganku turun ke celananya.

Tanganku membuka kancing celananya, lalu saya turunkan celana Alan.

Kemudian saya sengaja menghindarin Alan.

Saya menari lagi. Tanganku perlahan-lahan membuka bra-ku. Sekarang saya tinggal memakai celana dalam.

Tangan kananku membelai payudarsaya sendiri, sedangkan tangan kiriku mengusap celana dalamku. Saya remas toketku. Putingku mencuat keatas. Perlahan2 saya membuka celana dalamku.
Tangan kananku meremas toketku, sementara tangan kiriku mengusap-usap memekku.

Kemudian saya menghampiri Alan. Saya mengambil tangan Alan, kemudian tangan Alan saya taruh ke toketku. Tanganku membimbing tangan Alan untuk mengusap toketku.
Lalu saya mencium Alan. Tiba-tiba Alan menjadi agresif.

Ciuman Alan mulai turun keleher jenjangku. Ciumannya makin ganas, ia sangat lihai memainkan lidahnya dirongga mulutku. Perlahan-lahan tangannya menyentuh pinggangku lalu naik keatas menyentuh toketku. Diremasnya dengan lembut dada saya yang sebelah kanan. Saya makin liar membalas ciumannya.

Ia lalu mencium pipiku lalu kembali menyerang leherku. Dilumatnya dan dijilatnya leherku dari atas sampai kebawah. Tangannya yang sedikit kasar meraba-raba toketku. Tubuhku berkelejat liar saat jemari Alan mempermainkan tonjolan dadaku. Saya hanya bisa mendongkakan kepala kearah atas, menikmati lumatan dan remasannya..

Ia lalu membalikkan tubuhku hingga membelakanginya. Saya hanya memejamkan mata sambil menikmati sensasi dipeluk cowo atletis itu. Dengan tangan mengelus perut Alan kembali menciumi ku. Kali ini punggungku dijadikan sasaran serbuan bibirnya yang hangat.

Lidahnya terasa geli saat menyapu-nyapu punggungku yang terbuka. Saya membiarkan tangannya mulai merambat naik ke toketku. Diremasnya benda kenyal itu. Saya menggelinjang nikmat. Apalagi saat lidah Alan mulai merayap di tulang belakangku.

Saya hanya pasrah dan membiarkan tangannya meremas dan mempermainkan payudarsaya sesukanya, karena saya memang menikmatinya juga. Bahkan tanpa sadar tanganku memegang tangan Alan seolah-olah membantunya untuk memuaskan dahagaku.

Bibir Alan kembali menyerbu punggungku. Diciumnya pundakku yang putih mulus itu, kemudian ditelusurinya tulang punggungku dengan lidahnya yang panas. Ini membuat syarafku semakin terangsang hebat.

Apalagi tangannya yang kokoh tetap meremas kedua belah payudarsaya dengan gemasnya. Ada rasa enak dengan remasannya itu. Lidahnya terus turun ke bawah hingga ke atas pinggulku. Hal ini membuatku semakin menggelinjang kegelian.

Kemudian ia membalikkan tubuhku, kini ia bisa dengan leluasa memandang tubuhku yang sudah telanjang bulat dihadapannya. Ia menelan ludah memandang kearah payudarsaya yang naik-turun seiring orongan nafasku yang memburu.

Matanya hampir copot saat memandang memek saya yang bersih terawatt. Saya sengaja mencukurnya beberapa waktu yang lalu. Saya tahu ia sangat bernafsu memandangku seperti ini.

Alan mendekat kerahku dan kembali melumat bibirku. Tangannya tak tinggal diam,turun aktif meremas dan memelintir dadaku. Tangannya sangat rakus menjelajahi setiap inchi dada saya dari yang kakan beralih kekiri. Hal itu mengakibatkan dada saya makin lama makin “membengkak”. Saya tak kuasa mendesah setiap kali remasannya didadaku.

Apalagi saat bibirnya dengan penuh nafsu turun kebawah dan melumat kedua puting payudarsaya yang sudah mulai keras. Dijilatinya payudarsaya secara bergantian, seolah-olah takut tak bisa menikmatinya lagi. Saya kembali melayang di awan saat tangannya mengelus pahaku. Nafasku semakin memburu dan saya mulai merasakan bagian selangkanganku mulai basah.

Alan lalu melepaskan payudarsaya dari mulutnya. Alan sendiri tampaknya juga sudah sangat terangsang. Saya dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah dan batang kemaluannya mengedut-ngedut. Ia kembali mendekatiku didudukkanya saya diranjanganya yang empuk. Kembali mulutnya mengulum payudarsaya dengan sangat rakus, seolah-olah ingin ditelannya semua. Tangannya juga tak tingal diam, mulai merangsek kearah bibr memekku.

Disibakkannya memek saya dan satu jarinya masuk keronggaku. Saya kontan mengerang kala jarinya dengan bebas beroperasi dimemekku. Ditusuk-tusukkannya telunjuknya itu dimemekku. Saya semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka saya pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku.

Setelah itu tiba-tiba tangan Alan yang kekar mengangkat tubuhku dan merebahkan di pinggir tempat tidur. Ia segera menarik kedua kakiku hingga menjuntai ke lantai. Dipandanginya lagi tubuhku yang telantang tersebut. Dengan tubuh telanjang bulat tanpa tertutup sehelai kainpun yang menutupi tubuhku, saya merasa risih juga dipandang sedemikian rupa.

Ia lalu meraba-raba paha mulusku, lalu ia berjongkok didepan bagian bawah tubuhku. Dengan leluasa tangan Alan meraba dan bibirnya menjilati pahaku. saya mulai menggeliat menahan geli yang teramat manakala bibir dan lidahnya mulai menjalar ke arah pangkal pahaku. Dibentangkannya kedua belah pahsaya dan menundukkan wajahnya di selangkanganku. Matanya nanar menatap liangku yang bersih itu. Saya tak tahu apa yang hendak ia lakukan, sampai kurasakan suatu sentuhan basah di bibir memekku.

Tanpa membuang waktu, bibir Alan mulai melumat bibir kemaluanku yang sudah sangat basah. Tubuhku menggelinjang hebat. Saya seperti kesambet ratusan tawon kala lidahnya menyrang bawahku. Saya semakin salah tingkah dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Yang jelas saya kembali merasakan adanya desakan yang semakin menggebu dan menuntut penyelesaian. Sementara kedua tangannya merayap ke atas dan langsung meremas-remas kedua buah dadaku. Bagaikan seekor singa buas ia menjilati liang kemaluanku dan meremas buah dada yang kenyal dan putih ini.

Lidahnya yang panas mulai menyusup ke dalam liang kemaluanku. Tubuhku terlonjak dan pantatku terangkat saat lidahnya mulai mengais-ngais bibir kemaluanku.

“Akhhh..Lan.. auw… oh….” bibirku merancu. Kemudian tanganku bahkan menarik kepala Alan lebih ketat agar lebih kuat menekan selangkanganku sedangkan pantatku selalu terangkat seolah menyambut wajah Alan yang tenggelam dalam selangkangan.

Puas mnyerang memekku, Alan kemudian berdiri dihadapanku lalu mendekatkan tubuhnya ketubuh mulusku. Diciuminya sekali lagi seluruh tubuhku. Kini tubuh telanjang Alan mendekapku. Darahku seperti terkesiap saat merasakan dada bidang Alan yang berbulu menempel erat ke toketku.

Ada sensasi hebat yang melandaku, saat dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki dengan bulu didadanya. Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tak kenal lelah meremas-remas buah dada saya yang semakin kenyal.

Tanpa menunggu lama lagi, Alan berdiri di antara kedua belah pahsaya dan siap-siap penetrasi. Di kocok-kocoknya kontol besarnya itu. Kemudian tangannya membimbing batang kemaluannya yang sudah berlendir dan dicucukannya ke celah hangat di tengah bukit kemaluanku. Saya menahan nafas saat kepala kontolnya yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamsaya hingga saya merintih kenikmatan.

Agak susah juga kontolnya menerobos gerbang memekku, meskipun ronggsaya sudah sangat banjir dengan lendirku. Ia tetap berusaha dengan sabar. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Tapi masih setengahnya saja, itu juga memek saya sudah terasa penuh.

Lalu tiba-tiba dengan kasar Alan tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku saya tak kuasa menahan diri untuk tak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.

“Aduh, Lan.. sakit….” rintihku.

Alan cukup mengerti keadaan diriku, saat ia selesai masuk seluruhnya ia memberi kesempatan padsaya untuk menguasai diri beberapa saat. Saya mamfaatkan untuk adaptasi dengan batang gedenya. Kemudian ia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan. Saya menggeliat hebat saat ujung batang kemaluan yang besar itu menyeruak dinding memekku.

Sungguh batang kemaluan Alan itu luar biasa nikmatnya. Liang kemaluanku serasa berdenyut-denyut saat menjepit ujung batang kemaluannya yang bergerak maju-mundur secara pelahan.

Alan terus menerus mengayunkan pantatnya makin lama frekwensinya makin cepat. Ia dengan kecepatan tinggi mamaju-mundurkan batang batang kemaluannya dalam liang kemaluanku. Otomatis dada saya terguncang-guncang keatas dan kebawah seiring goyangan tubuhku. Keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami merancu dan mendesah ga jelas. Direngkuhnya dada saya yang bergoyang itu.

Diremasnya dengan lembut. Berbeda dengan memek saya yang disodoknya dengan cepat, dada saya justru diremasnya dengan lembut. Putting payudarsaya yang sebelah kanan dipelintirnya dengan tangan kirinya. Saya sungguh tak kuasa untuk tak merintih setiap Alan menggerakkan tubuh da tangannya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamsaya sungguh membuatku lupa ingatan.

“Ahh..ahhh..” erangan kami membaur jadi satu.

Saya sudah tak bisa ngapa-ngapain, setiap kali Alan menyodokkan kontolnya. Dapat kurasakan dinding memek saya tergesek, klitorisku juga tergesek-gesek. Hal itu membuatku merem-melek keenakan.

Alan kemudian memegang kaki kiriku, terus diangkatnya ke bahu kanannya, terus ia mengangkat kaki kananku, diangkatnya ke bahu kirinya. Saya diam saja, tak bisa menolak, posisi apa yang ia ingin terserah, pokoknya saya ingin cepat-cepat disodok lagi. Saya tak tahan ingin langsung dikocok. Ternyata keinginanku terkabul, ia menyodokku lagi, kakiku dua-duanya terangkat, mengangkang lagi, makanya memek saya terbuka lebih lebar dan Alan makin leluasa mengocok-ngocokkan kontolnya.

Saya sudah setengah sadar saat Alan kembali mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya yang terjepit erat dalam laing kemaluanku semakin menyeruak masuk. Memek saya diaduk-aduk batangnya. Saya yang sudah sangat terangsang tanpa sadar akhirnya menggoyangkan pantatku seolah-olah memperlancar gerakan batang kemaluannya dalam liang kemaluanku.

Kepalsaya tanpa sadar bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang kurasakan. Liang kemaluanku semakin berdenyut-denyut dan ada semacam gejolak yang meletup-letup hendak pecah di dalam diriku.Kupacu terus goyangan pinggulku, karena saya merasa sebentar lagi saya akan memperolehnya. Terus…, terus…, saya tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suara saya yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu.

Beberapa saat kemudian orgasme meyerangku. Dan saat klimaks itu hamper sampai saya memekik keras sambil meremas kuat bed cover. Langit-langit kamar seolah-olah jatuh menimpaku. Sekujur tubuhku mengejang. Erangan panjang keluar dari mulutku saat mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku sehingga kelihatan mengkilat.

Alan juga sama denganku, mungkin karena baru pertama sekali bersetubuh dengannku dan baru kali ini merasakan kenikmatan tubuhku, ia juga orgasme bersamaan dengannya. Dengan menyebut nama saya ia mengeluarkan spermanya dirahimku. Saya merasakan cairan hangat dan kental menyirami memekku.

Spermanya menyembur banyak sekali di dalam rahimku, cairan hangat dan kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke pahaku. Setelah semua maninya keluar ia menjatuhkan tubuhnya disampingku. Tubuhku lemas bersimbah peluh. Saya merasa sangat lelah, napasku terengah-engah.

Ia melap keringat didahiku lalu menecup keningku sambil mengucapkan terimaksih. Kami kemudian mengobrol tentang permainana kami barusan. Ia mengsaya sangat kagum akan keindahan tubuhku, makanya tanpa terasa cepat sekali orgasme.

Perlahan-lahan tenaga kami mulai terkumpul dan nafsu kami mulai bangkit lagi. Ia menatapku penuh arti, kemudian kami berciuman. Kali ini ciuman kami lebih ganas. Saya bahkan mulai berani mengelus kontolnya yang belum tegang benar itu. Ia membalasnya dengan menyerang memek saya juga. Kami sangat bernafsu, berbagi kenikmatan.

Perlahan tangan Alan mulai menggerayangi tubuhku bagian atas, buah dada saya yang terlihat membusung digapainya dengan buas. Alan kembali menghujamkan ciuman dan juga jilatannya ke arah leherku. Ia semakin meningkatkan serangannya, lalu mulai menurunkan ciumannya ke arah kedua gunung kembar.

Sementara kedua putingku terasa gatal menahan gejolak seakan ingin cepat dikulum oleh mulut Alan yang jilatannya terasa membuat tubuhku melayang. Tanpa banyak basa basi lagi Alan langsung menjilati dan mengulum buah dada saya satu persatu seolah ingin semua dihabiskannya.

Saya semakin menggeliat dan memekik kecil,

“Akkh.. akhhh.. Alan.. teruskan.. teruskan.. akh.. ahkk..” saya tak kuasa mendesah menikmati mulutnya yang menjelajahi putingku, bahkan sesekali digigitnya dengan lembut sehingga membuatku makin mendesah.

Kemudian ia menghentikan aktivitasnya, lalu mendudukkan ku ditepi ranjang bersamaan dengannya. Ia megangi batang kontolnya pakai tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Saya tahu ia mau merasakan mulutku di alat kelaminnya. Sebelum mengoralnya saya terlebih dahulu mengocok-ocok kontolnya, ia sangat menikmati remasan jari lembutku di batangnya. Kukocok keatas dan kebawah seperti pompa.

Tanpa perasaan jijik,kemudian saya bungkuk sedikit, saya pegang batang kontolnya yang besar itu pakai tangan kiriku, tangan kananku menahan badanku biar tak jatuh dan mulutku mulai bekerja. Senjatanya mulai kujilati perlahan dan sesekali kukulum dalam-dalam. Kurasakan aroma memek saya disana, tapi tak kuperdulikan.

Kembali kumasukkan kontolnya kemulutku, tapi mulutku tak sanggup menampung ukuran kontolnya yang besar itu, masih ada sisi seperampatnya lagi diluar, meskipun ujung sudah menyentuh kerongkonganku bagian dalam. Perlahan-lahan senjata Alan semakin membesar. Kudengar Alan mengerang menikmati jilatanku. Saya semakin terangsang melihat senjata Alan yang semakin menegang itu, maka saya makin bersemangat mengoralnya.

“Akh.. akh.. Terus.. Feb.. terus…” nafasnya tak teratur menahan perlakuanku di kontolnya. . Alan sepertiya puas juga sama permainanku, ia melihatiku bagaimana saya meng “karaoke” in ia sambil sesekali membuka mulut sambil sedikit berdesah.

Beberapa saat kemudian Alan melepaskan diri, ia membaringkan saya di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku. Saya diposisikannya untuk membelakanginya sambil tiduran, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Saya tak tahu gaya apa yang akan dipakainya untuk menyetubuhiku. Dari belakang Ia berusaha memasuki memekku.

kepala kontol Alan yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamsaya hingga saya merintih kenikmatan. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Ia lalu mengoyangkan pantatnya mula-mula lambat kemudian cepat. Saya menjerit tak karuan saat kontolnya menyerangku dari belakang. Sungguh sensasi yang baru pertama kali kualami.

Saya kembali merintih setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamsaya sungguh membuatku lupa ingatan. Alan menyetubuhi saya dengan cara itu. Sementara bibirnya mulai melumat bibirku, yang segera kubalas.

Kami bertukar air liur sejenak, sebelum ia mengarahkan bibirnya kearah tengkuk dan leherku. Saya makin menjadi-jadi merasakan jilatannya disana, apalagi tangannya selalu meremas-remas payudarsaya yang berguncang-gunjang. Saya dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.

Saya sepeerti kesetanan melihat bagaimana batang kontol lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Sunguh kontras sekali, melihat kontol hitamnya menusuk memek putihku. Saya menjerit-jerit dengan kuat kala semua titik kenikmatanku di serangnya. sodokan kontol besarnya dimemekku, jilatannya dipundak dan leherku, serta remasan didada saya membuatku melayang-layang. Gerakanku semakin liar saja.

Tak berapa lama kemudian saya merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk bantal guling dihadapanku dengan kuatnya.

“Aaagghh.. Alan.. akuu.. oohh” jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Kembali kurasakan orgasmeku yang kedua kalinya malam itu. Tubuhku melemas.. lungai. Tapi Alan makin semangat memacuku dari belakang hingga orgasmeku makin panjang dan indah. Saya sudah lemas sekali.

Tapi ini belum berakhir karean kontolnya masih tegang sekali, tak mungkin ia membiarkan hal itu. Ia masih sibuk menyodok-nyodokku dari belakang.

Beberapa menit kemudian Alan membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah toket saya yang kini menggantung berat ke bawah. Saya mengerang-erang menikmati semua desakan birahi ini. saya sunguh kewalahan menghadapi sodokan Alan yang masih bertenaga.

Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir 15 menit ia bertahan dalam posisi itu, tapi belum ada tanda-tanda akan orgasme. Saya yang menungging didepan tubuhnya hampir kehabisan nafas.

Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini.

Kontolnya dengan mahir sekali menerobos milikku. Sungguh luar biasa kenikmatan yang kurasakan, saya pun semakin liar, saya membuka pahsaya lebih lebar agar kontolnya lebih leluasa masuk. Memek saya seperti diaduk-aduk dari belakang. Terkadang Alan bahkan menggoyang-goyangakn pinggangnya kekanan dan kekiri sehingga membuatku makin gila saja rasanya.

Ia menghentak-hentakkan pinggulnya, semakin kencang membuat tubuhku tersentak-sentak dan dada saya terayun-ayun. Saya mengerang-ngerang sambil ikut meraba dada saya sendiri, mencoba menambah kenikmatan sendiri. Saya mulai liar dan gatal. Saya ga peduli dicap apaan yang penting saya ingin segera menuntaska birahi ini.

Alan benar-benar ahli, tak lama kemudian saya sudah mulai pusing, saya lihat dinding kamar mulai berputar-putar. Saya benar-benar tak bisa ngontrol badanku. Ada semacam setrum dari selangkanganku yang terus-terusan bikin saya gila.

“Ah… ah… Lan.. Ah… berhenti dulu Lan… Ah… Ah… Shhh…” saya tak tahan sama puncak nafsuku sendiri. Tapi Alan bahkan terus-terusan menyodok-nyodok memekku. Saya benar-benar tak tahan lagi, saya kejang-kejang, tapi sudahnya benar-benar enak sekali, saya orgasme lagi. Saya membenamkan kepalsaya di bantal mencoba menghapus peluhku yang sudah sebesar jagung itu.

“Lan, istirahat dulu ya..” Pintaku. Tanpa melepaskan kontolnya dari memek saya dibiarkannya saya istirahat sebentar.

Beberapa detik lewat, semua badanku masih lemas, tapi saya tahu ini belum selesai.Alan sendiri sepertinya memang sudah tak tahan ingin mengeluarkan maninya diliangku, tanpa menungu lama lagi diangkatnya kepalsaya hingga posisiku kembali seperti anjing kawin, dan langsung ditusukkan lagi kontolnya itu ke memekku. Ada sedikit rasa perih karena baru orgasme. Saya memintanya lebih lembut,Tapi Alan tak peduli.

Nampaknya ia sangat senang melihatku tak berdaya seperti ini. Alan mengocok memek saya seperti orang yang kesurupan dan tangannya tak pernah diam, langsung diremasnya pantatku yang sudah basah oleh keringat. Diremas-remasnya benda kenyal itu sambil sesekali di cengkramnya dengan kuat. Kontan saya menjerit panjang. Nampaknya ia sangat menikmati doggy style ini, karena ia bisa yang pegang kendali, dengan memperlakukan tubuhku sesukanya.

Tangannya mulai berakih kepunggungku lalu ketoketku. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir putting dadaku. Saya tak tahan digituin, apalagi badanku masih lemas, tanganku lemas sekali, untuk menahan hentakan-hentakan waktu Alan menyodokkan kontolnya saja sudah tak kuat. Saya ambruk ke ranjang, tapi Alan masih terus mengocokku, dari belakang.

“Ah… euh… ah… aw…” saya cuma bisa mendesah setiap kali Alan menyodokkan kontolnya ke memekku. Saya ditungganginya seperti kuda dengan pantatku sebagai pegangannya. Rasa perih menjalar keseluruh tubuhku. Saya coba mengangkat badanku agar derita birahi ini cepat berlalu, tapi saya tak kuat. akhirnya saya menyerah, saya biarkan badanku ambruk seperti itu kekasur. Saya berusaha memohon agar ia berhenti,

Tapi rupanya Alan tak peduli, ia tetap maksakan kontolnya keluar-masuk ronggaku. Saya cuma bisa pasrah sambil menahan perih di memekku. Dada saya bergesakan dengan kasur tiap kali ia menyodok, dan sepertinya itu membuat ia makin nafsu. Ia tambah kecepatan dan mulai meremas dada saya yang terjuntai kekasur

Mendadak rasa sakit di liangku hilang, Rasa sakit kocokannya sudah benar-benar sirna, sekarang saya cuma merasakan nikmatnya seluruh tubuhku. Saya mulai merem-melek kegilaan dan akhirnya saya sampai ke puncak yang kesekian kalinya hari itu, dan bersamaan puncak kenikmatanku, saya merasakan cairan hangat muncrat di memekku. saya tahu Alan juga sudah sampai puncak, kontolnya berdenyut-denyut. Akhirnya saya klimaks lagi bersamaan dengan Alan. Spermanya yang hangat mengalir mengisi rahimku

“Febby.. a.. ku.. ke.. luar… !” erangnya panjang sambil meringis. Disemprotkannya kontolnya semana kememekku. Kali ini kurasakan maninya lebih banyak yang keluar, sampai tumpah dan mengalir disela-sela pahaku.

Rasanya sungguh lemas, badan seperti mati rasa, mata saya juga makin berat. Mungkin karena kecapaian digenjot Alan berulang kali atau karena kondisiku yang kurang fit, akupun tak sadarkan diri, meskipun jarang sekali saya pingsan setelah bersenggama.

Malam itu saya tertidur di apartemen Alan. Tapi saya benar-banar ga bisa tidur, karena ia selalu ingin menikmati jepitan memekku. Baru saya tertidur sebentar, kurasakan lidahnya bermain-main di dada saya dan tangannya mengorek-orek liangku.

Saya sudah sangat lemas sekali, jadi saya biarkan saja ia berbuat sesukanya kepadaku. Digenjotnya kembali tubuhku dengan posisi konvensional. Kali ini ia tak menumpahkan maninya di rahimku melainkan di dada dan perutku. Saya disuruhnya membersihkan kontolnya.

Saya kurang nyaman tidur dengan lelehan sperma di tubuhku, maka segera saya pergi kekamar mandinya dan membersihkan tubuhku. Saya coba mengurangi rasa lemasku dengan cara berendam air hangat di bath upnya. Baru saja saya menikmati hangatnya bath up disekujur tubuhku ia sudah muncul di pintu kamar mandi.

Nampaknya nafsunya kembali memuncak melihatku berendam dengan lemah di bath up. Ia lalu kembali memonpa tubuhku, percuma saya menolaknya yang sudah kerasukan nafsu. Dengan posisi menungging berpegangan pada pintu kamar mandi ia menggenjotku. Saya merasakan orgasme yang berkepanjangan malam itu.

Bahkan saat saya sudah terlelap ia mencoba menusukkan kontolnya ke anusku. Untung saya segera bangun dan memarahinya. Saya bilang saya belum siap anal sex, apalgi dengan kontol seperti itu, bisa jebol anusku. Ia akhirnya minta maaf dan mengurungkan niatnya, tapidengan syarat saya mau mengoralnya. Akhirnya kupaksakan men-karoke kontolnya. Cukup lama saya mengoralnya hingga akhirnya kontolnya itu mengeluarkan sperma dimulutku. Setelah itu kami tidur.

Related Post