Cerita Mesum

Surat Cinta Anak Sma

“Akhirnya kamu berani juga Ryan! Telah lama aku menunggu kata-kata cinta darimu. Tadi begitu pelajaran selesai, aku segera berlari ke danau ini secepat mungkin,” gumannya lirih. Chopin adalah nama panggilannya untuk Ryan.
Dina dengan sabar menunggu bayangan Ryan datang dan membisikkan kalimat yang sama dengan surat yang dipegangnya. Dia terus menunggu sampai akhirnya malam menyelimuti senja. Tak ada tawa yang diharapkannya, hanya tetesan air mata jatuh di pipi mengiringi langkahnya pulang ke rumah.
“Ryan, apa maksud dari semua ini?” lirih Dina berkata.
“Mengapa kamu mempermainkan aku?”
Sepasang mata yang mengawasi gerak Dina dari tadi lalu menerawang memandang bintang yang mulai muncul di langit. Dari mulutnya terucap, “Dina maafkan aku…!”
1995,
Bandung, (Dua minggu menjelang pernikahan)
“Belok kiriii…!”
Dewa pun membelokkan stang motornya menyibak genangan air di jalan mengikuti petunjuk temannya.
“Emang kapan?” teriak Dewa agar suaranya terdengar.
“2 minggu lagi.”
“Jauh amat nyetak undangannya?”
“Muraaahh…!”
Tangan Dina erat memeluk pinggang Dewa saat motor mereka menelusuri jalan sempit itu, lalu menepuk-nepuk pundaknya sesaat sebelum mereka melintas di depan sebuah percetakan.
“Makasih Wa. Aku nanti dijemput Toni.”
Dilambaikan tangannya saat Dewa memutar motor dan kemudian melaju kencang meninggalkan dirinya. “Anjing, goblok! Akhirnya mau juga dinikahi Toni,” maki Dewa sambil terus memacu motornya.
Jakarta, di hari yang sama
Ryan terlentang di atas peraduan tanpa selembar benang pun menutup tubuhnya.
“Kamu diam saja!” wanita di depannya berkata.
Disibakkan roknya ke atas, diturunkan celana dalamnya.
“Ingat ini yang ketiga kali.”
Lalu dia berjongkok di atas kemaluan Ryan dan mulai menurunkan pinggulnya. Pelan-pelan Ryan merasakan batang kemaluannya menerobos masuk ke dalam bibir kemaluan wanita itu.
“Bidadariku Dina.. Kau sungguh cantik,” lirih Ryan berkata.
“Terserah kau mau anggap aku bidadari, yang penting kamu bayar aku tiga kali lipat,” kata sang wanita tetap menaik-turunkan pinggulnya.
Batang kemaluan Ryan keluar masuk menyapu dinding lubang kemaluan, kegusaran hatinya tenggelam dalam lenguhan nikmat menahan remasan di batang kemaluannya.
Cinta sering membawa manusia dalam penderitaan yang tak bertepi. Menorehkan luka yang sangat dalam tak terobati. Memang cinta tak selalu memiliki, tapi adakah insan manusia yang sanggup menghadapi kenyataan saat dia kehilangan cintanya. Ryan merasakan desakan di dalam batang kemaluannya. Sekujur batang kemaluannya seperti dihisap-hisap. Ini yang ketiga kali dia akan merasakan orgasme malam itu. “Akhh..!” katanya saat menyemburkan air maninya ke dalam rongga lubang kemaluan wanita di atasnya. Diciumnya bibir sang wanita, lirih dia berkata,
“Aku cinta kamu.. wahai bidadariku..!”
“Kau pria terbodoh yang pernah kutemui,” sahut sang wanita sambil mencabut batang kemaluan Ryan dari dalam lubang kemaluannya.
Bandung, (Seminggu Menjelang Pernikahan)
“Uuhh..! Susah sekali membukanya,” Dewa mencongkel daun jendela di depannya. Mengendap dalam keremangan ruang yang telah dimasukinya dia berjalan sambil meraba. “Semoga ini kamar yang tepat.” Matanya menatap geliat sebuah tubuh telanjang dengan selimut yang tersibak sedang terbaring. Dewa menyunggingkan bibirnya senang. Didekati tubuh tersebut, digigit lembut daun telinganya sambil berbisik, “Aku benar-benar mencintaimu.” Dicium lembut bibir si gadis, tangannya menyusup di antara selimut yang sedikit menutupi. Dicarinya payudara si gadis, diraba dan diremas. Si gadis hanya melenguh pendek lalu diam lagi. Dipagut bibir tipis si gadis, tangannya memainkan payudaranya sambil sesekali memilin putingnya. Si gadis lalu mendesah dan terjaga,
“Dewa…”
“Ssshh… nikmati saja,” bisik Dewa di telinga si gadis.
Dewa lalu membuka resleting celana dan mengeluarkan batang kemaluannya. Direntangkan paha si gadis dan menempelkan kepala batang kemaluannya di bibir kemaluannya. Si gadis melenguh kecil dan menarik pinggulnya. Dewa membenamkan hidungnya di rambut si gadis, menciumi aroma segarnya, menaik-turunkan tangannya, menggesekkan batang kemaluan di bibir lubang kemaluan sang gadis. Telapak tangan satunya meremas dan memijat payudara si gadis, membuat si gadis terengah-engah dalam kenikmatan yang diberikannya.
Dewa mendesis dan tertawa sinis melihat si gadis menyukai perbuatannya. Dewa lebih bahagia saat si gadis menjerit kecil ketika ujung batang kemaluannya menusuk lubang kemaluannya. Dewa merasakan kegundahan tubuh di depannya di antara harga diri atau perasaan nikmat yang ada. Si gadis berusaha mendorong tubuh di atasnya. Dewa menangkap kedua pergelangan tangan si gadis dengan kedua tangannya. “Ssshhhtt.. Aku cinta kamu..!” bisik Dewa lalu mencium bibir si gadis. Tak lama tangan sang gadis melemas, dan membalas ciuman dan balik melumat bibirnya. Digerakkan terus pinggulnya. Batang kemaluannya keluar-masuk di bibir kemaluan teman dekatnya itu. Dewa berhenti setelah memancarkan spermanya dalam rongga lubang kemaluan si gadis. Dilihat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. “Anggap saja itu hadiah perkawinanmu,” bisiknya. Dewa bangkit dari tempat tidur, mengambil bajunya, mengenakannya, dan mengecup bibir Dina dari pinggir tempat tidur sebelum melangkah menuju jendela. “Aku cinta padamu! Kau saja yang tak pernah mengerti..!” meloncat dia dari jendela lalu bayangannya menghilang di kegelapan malam.
Jakarta, di hari yang sama
“Tapi dia tak mencintaiku,” cairan sperma masih melekat di ujung batang kemaluannya.
Di sebelahnya sang wanita menjepitkan tangan Ryan di antara pangkal pahanya.
“Jika memang dia mencintaiku, pastilah ada sebuah jawaban mengapa dia tak menemuiku,” ditatap wanita yang sangat mirip dengan gadis yang dicintainya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Cinta tidaklah seindah yang orang bilang. Jika begitu, kenapa aku merasakan sesak tenggelam di lautannya,” dimatikan rokoknya lalu dia mengusap rambut sang wanita.
“Tubuh hampa tak berjiwa, dan kurasa gunung menekan di atasku dan kerikil tajam di kakiku, sedangkan dia… kudengar dia akan menikah,” keluhnya lagi.
“Hai bidadariku! Kenapa kau diam saja?” tanya Ryan sambil mencium sekilas dagu sang wanita.
“Entahlah Yan! Aku ngantuk,” jawabnya.
Lalu Ryan mencium bibir sang wanita, dan mengusap lubang kemaluannya. Mereka bercinta sekali lagi malam itu.
Bandung, (Malam Pertama di Hari Pernikahan)
Dina merintih pelan ketika bibir Toni menyentuh dan menghisap lembut bibir lubang kemaluannya, badannya menggelinjang di atas kasur yang mulai basah oleh keringat. Toni memainkan jemari di atas payudaranya, membelainya, meremasnya, dan sesekali memilin puting susunya. Erangan dan keluhan keluar dari bibir Dina ketika lidah itu memasuki dan membelai dinding-dinding lubang kemaluannya. Tangannya terangkat dan meremas rambut Toni.
Toni menaikkan badannya, memegang batang kemaluan dengan tangan kanannya, menyentuhkan ujung batang kemaluannya menyibak bibir lubang kemaluan memburu kehangatannya. Dina menjerit lirih ketika ujung batang kemaluan Toni menusuk dan berusaha membuka jepitan liang kemaluannya. Erang kesakitan keluar dari bibir Dina saat batang kemaluan Toni berhasil menerobos, mengisi liang kemaluannya. Toni memejamkan matanya menikmati remasan di batang kemaluan, menggerakkan pinggulnya semakin cepat.
Toni tanpa henti menelusupkan batang kemaluannya dalam jepitan lubang kemaluan Dina, sampai dirasanya otot pinggulnya mengeras dan nikmat yang luar biasa diseluruh syaraf tubuhnya. Mata Toni terpejam, mulutnya mengeluarkan desahan penuh kenikmatan. Disemprotkannya sperma di dalam lubang kemaluan Dina. Dina merasakan semburan cairan hangat di lubang kemaluannya. Tak lama terasa beban yang menindih dada saat Toni merebahkan kepalanya di permukaan kulit payudaranya. Sambil merasakan detak jantung Dina di telinga, Toni berkata,
“Kapan Na?”
“Aku tidak mengerti Ton..!”
“Pertama kali kau menghilangkannya?”
“Apa maksudmu?”
“Perawanmu?”
Dina terhenyak mengetahui maksud suaminya. Setelah semua keindahan yang baru saja mereka lalui di malam pertama. Mengapa hal itu masih dipertanyakan. Tak terasa, air mata menetes di pipinya. Dia merasa Toni hanya menginginkan kegadisannya lebih daripada dirinya.
“Seminggu yang lalu Ton,” lirih Dina menjawab.
“Siapa?” terdengar suara Toni menahan emosi.
“Sama Dewa,” air mata Dina mulai deras mengalir.
“Sudah kuduga,” sambil berkata Toni berdiri.
“Kau duga? tapi Ton… Aku..” tak sempat Dina menyelesaikan perkataannya.
Toni memegang tangan Dina dengan kasar dan menarik gadis itu berdiri, Dina melihat tatapan penuh kebencian bercampur dengan air mata di pelupuk mata suaminya. Toni membalikkan tubuh Dina, menjambak rambut gadis itu, menekan punggungnya sampai setengah telungkup di atas kasur.Toni meletakkan tangannya di atas payudara Dina, meremas kasar dan menancapkan kukunya di situ. Dina merasakan kepiluan dalam dirinya, inikah konsekuensi yang harus diterimanya sebagai istri jika tidak menyerahkan kegadisan pada suami?
“Dasar pembohong. Tampangmu saja lugu…!” kata Toni mengingat sangkalan Dina saat ditanya apakah dia mencintai Dewa. “Katanya kamu mau diinginin hanya dengan suamimu.” Toni terus memaki sambil tetap menjambak rambut Dina. Toni menyusupkan jemarinya ke atas lubang kemaluan Dina, meremas dan menggesek, membuat Dina meringis menahan rasa sakitnya. Dina lalu menjerit kesakitan saat jemari itu menusuk dan mengoyak kemaluannya dengan lebih keras berkali-kali.
Toni mengeluarkan kejantanannya. Tangan kanannya menggenggam batang kemaluannya, dihujamkan batang kemaluannya sekuat tenaga ke liang kemaluan Dina. Dina membenamkan mulutnya ke kasur, menjerit sekuatnya, lubang kemaluannya seakan ditusuk oleh pisau tajam yang merobek otot-otot kemaluannya. Toni mengerang merasakan kesempitan liang kemaluan Dina, dan mendesis saat menggerakkan pinggulnya dengan kasar. Dina merasakan kenyerian yang amat sangat, air matanya membanjiri kasur, gadis itu mencengkram sprei kasur sekuat tenaga. Sedangkan Toni menggerakkan pinggulnya semakin cepat.
“Aku tahu kau memang mencintainya…!”
“Mencintai?” tanya Dina dalam hati.
Pilu mengiris hatinya menerima perlakuan dan perkataan Toni.
Toni mengerang dan menekan batang kemaluannya dalam-dalam ke rongga lubang kemaluan Dina. Toni orgasme. Dia menekan pantatnya agak lama di sana, merasakan jepitan otot lubang kemaluan Dina saat dia menyemburkan spermanya.
“Aku harap kau tidak bertemu dia lagi..!” sambil berkata dipukul kepalan tangannya ke belakang kepala Dina. Setelah itu Toni menarik keluar batang kemaluannya dan pergi tidur. Dina menangis semalaman dalam sakit dan pedih di hatinya.
Rumput sekolah belum mengering ketika Dewa mendengar bel tanda istirahat berdering. Matanya lalu melirik gadis cantik yang duduk sebangku dengannya sejak kelas 1. Bergetar hatinya tiap melihat lesung pipit dan manis senyum teman dekatnya itu. Dewa hanya bisa menekan rasa cintanya terbenam jauh ke lubuk hati terdalam. Dewa tak mau si gadis menjauh jika dia mengetahui perasaannya. Selain itu Dewa juga sadar pelabuhan hati si gadis hanya Ryan, kakak kelas mereka. Si gadis sering bilang begitu padanya. Katanya Ryan juga suka padanya, hanya Ryan masih malu mengatakan.
Si gadis berdiri dari bangkunya lalu berjalan meninggalkan kelas menuju kantin. Mata Dewa terus mengikuti gerak tubuh yang kadang terguncang tertawa berderai bersama temannya. Tiba-tiba dia berbalik dan berteriak, “Dewaaaa..! Ayuk ikut ke kantin!” katanya sambil melambaikan tangan. Dewa pun beringsut mengangkat pantat, dilangkahkan kakinya menuju Dina. Hanya sesaat setelah mereka pergi, sebuah tangan dengan cepat memasukkan surat ke dalam tas Dina. Lalu melangkah pergi meninggalkan sebuah surat untuk Dina. Sebuah surat cinta!
2015
Bandung, (Dua Minggu Menjelang Pernikahan)
“Hallo Tuan Putri! Jadi kita kebut-kebutan?”
Dina tersenyum ketika Dewa sudah menunggu di pintu kerjanya tepat waktu. Sahabat setianya itu memang benar-benar baik. Kali ini kesediaannya mengantar Dina ke percetakan sangat membantu. Dia harus segera mencetak undangan pernikahannya. Toni sendiri sedang sibuk mengawasi proyek sampai nanti sore. Beriringan mereka mengayunkan langkah sampai di pelataran parkir gedung.
“Berhasilkah kau mengikis keresahan tentang pernikahanmu? Bagaimana dengan Ryan?” kata Dewa menjentikkan rokok yang terselip di jarinya. Dipicingkan matanya memandang pantulan cahaya matahari dari dinding kaca kantor. Dewa berharap ada keraguan dalam nada bicara Dina. “Entahlah! Sayup terdengar hatiku berbisik. Pelan sekali. Aku sendiri tidak bisa mendengarnya,” mereka lalu terdiam sambil melangkah menuju tempat parkir. “Itu sabuk kamu lepas!” kata Dina melihat sabuk Dewa yang copot. Tangannya meraih sabuk Dewa dan mengikatkannya. Ditepis debu yang melekat di baju dan rambut Dewa. Lalu tangannya mengaitkan kancing atas kemeja Dewa yang terbuka. “Aduuhh! Gantengnya anak mama!” kata Dina. Tawa pun berderai dari bibir mereka. Dewa tahu Dina bercanda.
Dewa menaiki dan menstater motornya. Di antara bising suara motornya dan asap knalpot, Dina mendekap perut sahabatnya. Merasakan dekapan itu Dewa jadi cemburu kepada Toni, semua cinta di hatinya telah diberikan, dia bahkan bersedia melakukan apa saja untuk Dina. Sejak SMA sampai sekarang dialah yang selalu menemani Dina dalam suka dan duka. Tapi kini… dia harus menyaksikan orang yang sangat dicintainya itu menikah dengan orang lain. Dewa benar-benar cemburu terhadap Toni.
Tak jauh dari tempat mereka berada, sebuah sorot mata mengamati mereka ditemani percik curiga di hati. Tenggelam dirinya dalam prasangka tak terjawab. Toni tersenyum miris menahan kepedihan dalam hati saat Dewa dan Dina menghilang dalam rapatnya debu asap kendaraan. “Sudah kuduga,” katanya.
Bandung, (Satu Minggu Menjelang Pernikahan)
Dina terhenyak dari mimpi ketika dirasakan seseorang lelaki sedang mencumbu tubuhnya. Apakah ini Toni? Tapi… mungkinkah dia senekat ini? Dibesarkan matanya agar mampu melihat dalam remangnya kamar.
“Dewa…?” kaget Dina memandang wajah sahabatnya.
“Ssshh.. nikmati saja,” bisik Dewa setelah dia tahu Dina terbangun.
Dina merasakan kepiluan di hati menghempaskan dirinya dalam jurang kepedihan yang terdalam. Teman dekatnya yang dia percaya selama ini sedang menciumi bibirnya.
Dina coba menarik tubuhnya tapi tak bisa. Badan Dewa terlalu berat menekannya. Dewa makin berani, dia menggesekkan batang kemaluannya di bibir lubang kemaluan Dina. Tidak ada yang terasa di hati Dina selain goresan luka yang sangat dalam. Dina tidak menikmatinya sama sekali, bahkan merasa sesak karena dadanya tertekan oleh dada Dewa.
Dina ingin berteriak minta tolong, dia menjerit kecil ketika dirasanya kepala batang kemaluan Dewa sudah menusuk lubang kemaluannya. Dia ingin sekali berteriak, tetapi pita suaranya tak juga bergetar terhalang oleh rasa kasihan kepada sahabatnya jika seisi rumah terjaga. Dicoba mendorong tubuh Dewa. Tetapi percuma karena Dewa menggenggam erat pergelangan tangannya. Dia benar-benar sayang pada Dewa. Rasa sayang sebagai sahabat yang terlalu berlebihan membuatnya tidak tega untuk berteriak.
Dalam kepedihan dan nyeri di hatinya, Dina hanya bisa pasrah menerima desakan dan hujaman batang kemaluan Dewa di lubang kemaluannya. Sakit rasanya. Berulang-ulang dirasakan batang kemaluan itu keluar masuk bibir lubang kemaluannya. Dina merasa lubang kemaluannya terganjal oleh penuhnya batang kemaluan Dewa. Dina berusaha untuk menarik lubang kemaluannya menjauh tetapi tetap saja batang kemaluan Dewa mampu menerobos lubang kemaluannya. Setelah beberapa lama dirasakan semprotan cairan panas berkali-kali dalam rongga kemaluannya.
Dewa lalu bangkit meninggalkan dirinya. Pilu dan nelangsa menemani isak tangisnya ketika Dewa keluar dari jendela kamar. Dina terus menangis dengan kemaluan yang basah oleh sperma dan sedikit darah.
Jakarta, (Malam Pertama di Hari Pernikahan)
Ryan kembali menelepon bidadarinya agar datang ke rumah. Sudah seminggu dia tidak melihat wajahnya. Kangen sekali hati ini ingin melihat lesung pipit dan senyum manis di bibirnya. Wanita itu ditemuinya dua minggu yang lalu ketika dia sedang mencari bahan berita di daerah prostitusi. Pertama kali melihat, Ryan sungguh terkejut. Dia teringat akan gadis yang sangat dicintainya. Wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua. Rasa kangen dan cintanya yang selama ini ditahan hadir kembali.
Rasa cintanya pada Dina memang sangat mendalam, hingga saat ini dia belum bisa menghapus keinginan untuk memiliki hati adik kelasnya saat di SMA itu. Sebuah kenangan yang selalu menghujam hatinya setiap ia teringat pada gadis itu. Ryan merasa beruntung ketika dia menemukan lagi bidadarinya itu, walaupun hanya replikanya.
Lonceng di kamarnya berdenting 8 kali ketika didengar pintu kamarnya diketuk. Bangkit Ryan ke arah pintu, dipandangi wajah wanita yang berdiri melempar senyum setelah dia membuka pintu kamarnya.
“Kamu benar-benar mirip dia. Kamu memang bidadariku,” guman Ryan.
“Mau masuk nggak?” Ryan mendorong daun pintu kamar.
Di depan kamar dua orang temannya sedang duduk menonton TV.
“Jangan terlalu berisik Yan..!”
“Jadi pengen nih!” kata mereka sambil tersenyum.
Mereka lalu bercinta malam itu. Si wanita sambil tersenyum manis rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya ke arah Ryan. Kedua buah dadanya yang terlihat penuh membentuk bulatan indah yang sempurna. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas menantang.
“Uoogh…” tanpa terasa mulut Ryan mendesah menahan ereksi, takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluan si wanita. Belahan bibir kemaluannya yang merah walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal. Bibir luarnya terbuka seakan memanggil-manggil Ryan untuk menikmati.
Si wanita tersenyum melihat batang kemaluan Ryan yang telah tegang, dan membuka kakinya lebih lebar. Terlihat bagian dalam lubang kemaluan yang merah dan basah. Ryan mendekat ke arah bukit itu pelan-pelan sekali sambil mengusap paha si wanita. Didekatkan lidahnya pada bibir lubang kemaluannya. Ryan mencium lembut bibir kemaluan itu, dijilati ujungnya, dan diputar-putarkan lidahnya. Terkadang dimasukkan lidahnya ke dalam rongga lubang kemaluan membuat rongga itu semakin berdenyu-denyut. Hal ini membuat nafsu Ryan semakin memuncak, lalu dia menggangkat badannya. Wajahnya mendekati wajah bidadarinya, dilihatnya wanita itu tersenyum.
Mereka berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Batang kemaluan Ryan yang berdiri tegak bergetar saat menyentuh bukit kemaluan yang halus dan sangat empuk. “Bukit kemaluan bidadariku memang montok dan besar.” Perlahan Ryan membuka kedua belah paha si wanita. Dengan lembut Ryan menyentuhkan, menyelipkan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluannya yang basah. Ryan berhenti sejenak ketika kepala batang kemaluannya masuk 1/4. Dia memejamkan matanya menahan nikmatnya perasaan saat itu. Perasaan luar biasa ketika kepala batang kemaluannya menggesek bibir lubang kemaluan si wanita. “Lagi Yan, masukin lagi…!” merengek dia ketika mengetahui Ryan menahan gerakannya. Ryan tentu saja akan melakukan hal itu. Dia lalu memajukan batang kemaluannya perlahan memasuki lubang kemaluan bidadarinya. “Ouugghh..!” Ryan melenguh ketika pangkal batang kemaluannya menyentuh lubang kewanitaan. Terasa seluruh batang kemaluannya digenggam erat di dalam lubang kemaluan. Ryan lalu memaju-mundurkan pantatnya. Dia menarik sampai sekitar 50 persen panjangnya, lalu menekan lagi hingga masuk semuanya. Ryan terus melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat.
Setelah beberapa lama, tiba-tiba, “Oougghh, oh.. oh.. oh. oh..” si wanita menjerit-jerit. “Ough.. terus Yan..!” digeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Lubang kemaluannya semakin basah, dan meremas-remas batang kemaluan Ryan. “Uhh.. hu.. hu. huu..” terdengar suara si wanita seperti merintih, menahan nikmatnya sodokan batang kemaluan Ryan. “Yaaan… udah Yaan… aku udah dapat!” teriaknya ketika merasakan orgasme, rongga kewanitaannya menjadi lebih berdenyut, seperti menggigit lembut batang kemaluan Ryan. Si wanita menaik-naikkan pantatnya agar batang kemaluan Ryan makin dalam mengisi lubang kemaluannya.
“Ouughhhh… Yan.. Hiks.. hiks.. hu.. hu..” si wanita kembali merintih kenikmatan. Kedua tangannya meremas-remas pundak Ryan. Ryan tiba-tiba merenggut pantat si wanita, mencengkeramnya. Dihentak-hentakkan pantatnya ke bawah. Hal ini membuat gesekan antara batang kemaluan dan rongga lubang kemaluan makin cepat. Ryan terus melakukannya hingga pada hentakan terakhir ditekannya pantat lama sekali ke bawah. Tiba-tiba sang bidadari merasakan senjata Ryan semakin besar, Ryan mencapai orgasmenya. “Ooouughh..” Dia merasakan ada tembakan hangat di dalam perutnya. Lembut dan mesra. Semprotannya kencang sekali dan berkali-kali. Kira-kira tujuh atau delapan tembakan, badan Ryan mengejang, dan lalu lemas, lunglai, jatuh ke depan, menindih tubuh sang bidadari. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.
Malam itu Ryan tidak berminat untuk bercinta lebih dari sekali. Dia merasa sudah senang bisa memandangi wajah cantik yang terlihat sayu di depannya. Tidak seperti malam lain kegalauan di hatinya sirna, malam itu dia merasa bahwa kebahagiaan yang selama ini dinantinya akan jadi nyata. Si wanita menggeser pantatnya lalu berdiri dan membereskan tasnya. Segera Ryan loncat dan mencegahnya.
“Habiskan malammu di sini!” pinta Ryan dipeluknya paha si wanita.
“Kamu tampak tidak berminat. Ada setoran yang harus kupenuhi.”
“Aku bayar kamu lebih.”
Segera Ryan memeluk tubuh si wanita yang masih telanjang bulat. Membawanya merebah di atas ranjang kamarnya. Dipeluk erat tubuh si wanita. Dipandangi wajah itu sambil mengusap-usap rambutnya sampai mereka akhirnya tertidur. Malam itu mereka tertidur dengan alat kemaluan mereka saling bersentuhan sepanjang malam.
Terdengar kokok suara ayam bersahutan ketika Ryan terbangun. Dilhatnya sang bidadari masih tertidur dengan tangan memegang batang kemaluannya. Dicium lembut bibir wanita di depannya itu.
“Andai saja kau benar-benar Dina,” lirih Ryan berkata.
Dicium lagi bibir si wanita dengan maksud agar dia terbangun.
“Bidadariku..! Kamu tahu aku mencintaimu kan?” kata Ryan setelah mereka mandi dan si wanita telah siap berangkat pergi.
“Gokil luu..!” sahutnya tertawa sambil mengambil uang dari tangan Ryan.
Dijentikkan jarinya di hidung Ryan.
“Sampai nanti ya Yaan..!”
Melayang terbang tinggi angan Ryan sejak itu, terombang-ambing dalam khayalannya. Kadang teringat raut wajah Dina, lalu masa ketika dia di team basket SMA, di masa itulah dia dekat dengan Dina, lalu pekerjaannya, tertiup lagi ke kisah SMA-nya. Ryan tidak tahu harus melakukan apa hari itu. Pikirannya sedang hampa. Lalu dia beringsut menyalakan komputernya. “Sshh..!” dihembuskan asap rokok dari hidungnya sambil matanya tetap menonton film Terminator 2 di monitor komputernya. Film ketiga yang ditontonnya hari itu. Ketika dijentikan rokoknya di atas asbak, terdengar, “Ding Dong..!” Bel rumah tempat Ryan kost berbunyi. “Din dong..!” Ditarik kursi malasnya ke belakang dan diseret kakinya berjalan ke ruang tamu.
Demi Hujan Badai dan Panasnya Matahari! Ryan terkejut memandang sosok wanita di hadapannya. Seluruh alam raya bersujud dan memuji kehadirannya. Butir air mata dan semerbak harum tubuh menambah keagungannya. Sinar wajahnya mengusap hati Ryan, damai terasa. Lama Ryan menatap wanita itu memastikan dia tidak salah lihat. Cinta lama bersemi lagi, dua insan manusia yang memendam kasih bersahutan memancarkan cinta. Kebahagian yang dulu didamba kini menyentuh hati mereka. Tidak ada manusia yang menyangkal tidak menginginkannya, ketika mimpi dan cinta yang hilang jadi nyata, semua orang akan berebut menggapainya.
“Dina…! Ada apa? Mengapa menangis?”
Tak ada kata yang terucap dari bibir Dina.
“Silahkan masuk..!” sambil tangan Ryan mempersilakan juga Dina untuk duduk.
Dina melangkah masuk dan meletakkan pantatnya di sofa, kantung matanya tampak tebal. Diseka tetes air matanya yang sulit ditahan.
“Apa yang terjadi?” Ryan lalu turut menghempaskan pantatnya pada sofa di depan Dina.
Dia merasa khawatir dengan kondisi Dina. Dina terdiam, lama mereka terdiam dengan kondisi ini. Dina yang tetap sesegukan, dan Ryan yang menatap penuh kasih tidak mengeluarkan sepatah katapun. Lenggang suasana saat itu, hanya deru suara angin yang meniup ranting pepohonan sesekali membuat mereka menoleh.
“Ryan..! Antarkan aku ke Kalianda. Aku capek!” suara Dina keluar ditengah isak tangisnya.
“Aku ingin pulang,” lanjutnya.
“Baik!”
“Setelah itu dia mengusap kedua susuku. Diremas dan dipermainkan putingnya sambil menggesek-gesekkan batang kemaluannya ke perutku. Lalu dia mencium payudaraku, perlahan diturunkan ciumannya ke bawah. Bibir kemaluanku dijilat, dijulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubang kemaluanku. Dijilat, terus jilat dan dijilat sambil tangannya meremas-remas puting payudaraku.”
“Setelah sekian menit dalam posisi ini, ada rasa yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Sangat nikmat. Otot lubang kemaluanku seperti tersedot-sedot. Rasanya aku ingin menjerit-jerit dan berteriak untuk melampiaskan nikmatnya. Aku baru tahu kalau itu yang namanya orgasme,” lalu Dina terdiam seperti mengenang saat-saat itu.
“Lalu dia merebahkan badanku. Didekatkan pinggulnya ke selangkanganku. Pahanya berada di bawah pahaku. Aku tahu dia akan memasukkan batang kemaluannya. Terasa kepala batang kemaluannya sudah menempel di bibir lubang kemaluanku.Tiba-tiba aku tersentak karena rongga lubang kemaluanku terasa penuh,” Dina menutup wajahnya, terlihat sekali dia menahan beban yang berat di dalam hatinya mengenang masa-masa itu.
“Ryan mendongakkan kepala dan memejamkan matanya. Peluh membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Aku pun ikut menaik-turunkan pantatku berkebalikan arah dengan gerakan Ryan. Setiap permukaan lubang kemaluan dan klitorisku menyentuh pangkal batang kemaluannya rasanya indah sekali.”
“Setelah itu yang kutahu aku memejamkan mataku, lalu aku merancau tak menentu. Hingga kurasakan rasa yang tadi kualami, lubang kemaluanku kembali seperti disedot-sedot. Aku berteriak dan menggigit bibirku. Rasanya lebih nikmat dari orgasme pertamaku. Tidak lama Ryan juga berteriak. Ouughh katanya,” Santi tersenyum ketika dia menirukan ucapan Ryan.
“Terasa hentakan di lubang kemaluanku. Ryan menekan batang kemaluannya sedalam mungkin ke lubang kemaluanku, sambil badannya terhentak-hentak. Terasa tembakan sperma di ujung dalam kemaluanku sekitar 7 kali. Hangat sekali.”
“Untuk berapa lama, batang kemaluannya tetap terselip di lubang kemaluanku. Sepertinya kami berdua tidak mau memisahkan kemaluan kami,” Dina menghela nafasnya.
“Ya, begitulah kejadiannya,” kata Dina mengakhir ceritanya.
Dewa mengusap wajahnya sendiri. Ditahan rasa cemburu di hatinya, biar bagaimanapun kini harapannya mendekati kenyataan.
“Kau tahu aku mencintaimu kan?”
“Ya aku tahu.”
“Kumohon jangan katakan lagi tentang Ryan.”
“Tapi Wa, aku masih susah untuk melupakannya.”
“Janganlah sedetail itu.”
“Aku hanya tidak ingin ada bagian yang kulupakan. Akan aku ingat semua kenangan indahku bersama Ryan.”
Dewa menatap mata sendu Dina dalam-dalam, memandang ke sepasang mata yang mulai terlihat surut, menghisap rokoknya dalam-dalam,
“Walau bagaimanapun, yang namanya cinta, memang cenderung berakhir menyakitkan, menorehkan luka kenangan yang sulit dilupakan.”
“Ah, tapi ada kan yang cintanya tetap kekal dan membawa kebahagiaan?”
“Bagi sebagian iya, bagi yang lain tidak. Kita hanya bisa melanjutkan hidup kita dan menikmati yang tersisa. Kelak akan datang mentari menyapu mendungmu saat ini. Percayalah!”
Dikembangkan senyum, diremas jemari tangan pujaan hatinya.
“Kamu tahu banyak Wa,” guman Dina tak tertarik membalas senyum Dewa.
“Aku cuma tahu satu, bahwa aku akan selalu mencintaimu dan menemanimu dalam suka maupun duka,” dibuangnya puntung rokok jauh-jauh ke pantai.
Dina hanya bisa menggigit lemah bibir tipisnya.
“Jadi kita jenguk Toni? Kita tidak pernah menjenguknya!” tanya Dewa sambil membersihkan pasir yang menempel di celana.
“Dia takkan mau. Setelah semua yang terjadi, aku rasa dia tak akan pernah mau menemuiku! Aku juga tidak mau menemuinya. Dia mencabut kebahagianku yang hampir jadi nyata!” Dina menghela nafas.
Mereka duduk di tepi danau. Setelah sekian lama mereka bersama dalam perjalan menuju Kalianda tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Bergulat tanya haruskah dicurahkan rasa yang seharusnya sejak SMA dulu dikatakan.
“Maaf aku menyusahkanmu.”
“Kenapa kau tidak langsung ke rumah saja,” Ryan mencabuti rumput di depannya.
“Aku rindu tempat ini.”
Ryan melihat ke arah Dina, terbuka mulutnya untuk bertanya suratnya dulu.
“Ada yang ingin kukatakan padamu…”
“Ryan! Mengapa kamu membohongiku?” potong Dina menatap mata lelaki yang sangat dicintainya itu.
“Aku tidak pernah membohongimu,” Ryan tidak mengerti maksud perkataan Dina.
“Lima tahun yang lalu aku menunggumu di sini. Dan kau tidak pernah datang.”
Terhenyak Ryan mendengar perkataan Dina.
“Aku juga menunggumu, dan kau tidak pernah datang.”
Perasaan terkejut kini dirasakan oleh Dina.
“Dimana?”
“Di tempat kita duduk sekarang.”
“Dan kau?”
“Sama… di tempat kita duduk sekarang!”
Ranting dedaunan bergesekan menimbulkan suara gemuruh di telinga mereka. Segemuruh hati mereka yang tidak mengerti atas semua yang terjadi. Jika memang itu yang terjadi mereka telah salah mengira tentang perasaan masing-masing.
“Aku menunggumu Yan!” Dina menahan isak tangisnya.
“Aku cinta kamu,” menetes air mata bahagia dari mata Dina.
“Aku juga. Kaulah bidadariku. Tak ada wanita yang kuinginkan selain kamu. Siang dan malam kuimpikan dirimu. Sejak dulu aku ingin mengatakan AKU CINTA KAMU.. DINA.”
“RYANN..!” dipeluknya tubuh Ryan sekuat tenaga dalam isak tangisnya yang deras mengalir. Dicurahkan rasa kasih yang ditahannya selama ini. Ryan menyapu lembut bibir bidadarinya dengan tangannya, dibenamkan wajahnya pada rambut Dina dan mencium lembut harum aromanya. “Yan… cium aku,” bisik Dina lirih. Mereka pun bercinta malam itu disaksikan oleh pancaran lembut sinar rembulan yang menyentuh halus tubuh dua insan yang dipenuhi rasa rindu dan kasih itu.
Kalianda, Kisah Toni di waktu yang sama
Toni menginjak keras pedal gas mobilnya. Terbakar emosinya membayangkan Dewa dan istrinya sedang bercumbu. Dibaca lagi surat istrinya:
Ton..!! Aku pulang ke orangtuaku.
Istrimu
Tadi dia sudah ke rumah Dina dan dia tidak ada. Diinjak rem mobil ketika dia sudah sampai ke pelataran parkir danau. Diambil kunci Inggris dan senter dari mobilnya.
“Akan kuhantam palanya dengan kunci ini,” ujarnya sambil terus melangkah.
“Aku tahu kau di sini, kau dan Dewa memang sering ke tempat ini. Sama seperti suratmu padanya.”
Dicengkeram erat gagang kunci Inggrisnya. Dinaikkan lengan bajunya makin ke atas. Sesaat dia terdiam memicingkan matanya melihat dengan geram dua insan saling berciuman tanpa busana.
“Anjing Luuu…!” berlari dia mendekati mereka.
Diacungkan tangannya dan “DAAKKK..!” Kunci Inggis menghantam kepala si pria yang berada di samping istrinya.
“Hah.. Ryan..!?” terkejut Toni menyadari bahwa pria itu adalah Ryan.
“Kau memang pelacur…!” dicengkeram leher si wanita, dijotoskan kepalan tangannya ke pipi lalu ditendang tubuh itu. Ditendangnya sekuat tenaga.
Dina hanya bisa menangis menahan sakit. Sekujur badannya terkena sepakan sepatu Toni berkali-kali. Tiba-tiba dirasa matanya berkunang-kunang.
“Anjing luu, dulu Dewa sekarang Ryan..!”
Ditendangnya terus tubuh di depannya sampai akhirnya tak bergerak. Toni terdiam, nafasnya terengah-engah berkejar-kejaran dengan emosinya. Diangkat tubuh istrinya, lalu dibopong ke arah mobil. Cuma satu tujuannya, membawa istrinya segera ke rumah sakit. Kepulan asap mobil berterbangan saat mobil itu melaju, jauh di tepi danau tubuh Ryan terlentang dengan kepala berdarah. Tak lama Ryan menghembuskan nafas terakhirnya.
Bandung, Kisah Dewa di waktu yang sama
Dewa lalu beringsut, dinyalakan korek api dan dibakar surat yang dipegangnya. Surat itu diberikan Toni saat istirahat kedua lima tahun lalu waktu mereka di SMA. Katanya dia menemukan surat itu di bawah meja Dewa. Sekilas dilihat gugup di wajah Toni. Jelas Toni sudah membacanya. Dewa pun membaca isi surat itu. Saat itu sambil tersenyum Dewa mengatakan itu surat Dina untuknya. Sesungguhnya dia tahu, itu bukan untuknya melainkan surat cinta Ryan untuk Dina. Dimasukkan surat itu ke dalam tasnya, terbuka mulut Dewa ingin menanyakan kegugupan di wajah Toni, tapi terdengar derai tawa Dina bersama teman ceweknya datang mendekat. Waktu itu tak ada kata yang terucap dari bibir Dewa selain menyuruh Toni pergi.
Api mulai membakar surat itu meninggalkan noda hitam. Dewa pun memekarkan tangannya membiarkan surat yang masih jelas terbaca itu jatuh.
Telah lama aku menyimpan rasa ini. Sejak pertama kali bertemu aku selalu memimpikanmu di setiap tidurku. Tidak ada yang aku inginkan di hidup ini selain kamu. Aku sudah berlatih mengatakan hal ini langsung padamu. Tapi aku tidak bisa. Setiap berada di dekatmu, hatiku selalu berdebar dan tidak ada kata yang bisa keluar dari bibir ini. Kata hatiku kamu juga mencintaiku, mungkin aku berlebihan menangkap sinyal di matamu. Tapi jika perasaanku benar, datanglah malam ini ke tepi danau. Aku akan menunggumu di sana. Aku akan terus menunggu sampai fajar menyingsing. AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU!
Chopin
Epilog:
Kalianda, 5 Juni 2010, Masa-masa SMA
Sepasang mata yang mengamati sedari tadi lalu berucap, “Dina.. Maafkan aku..!” berjuta bintang di alam raya tapi hanya sang gadis yang dipuja, digesernya ranting yang menusuk pinggangnya. “Aku kaget tadi siang saat Dewa memergoki, untung itu surat Dina, jadi rencanaku masih bisa berjalan. Dewi Fortuna memang mencintaiku,” gumannya sambil mendongakkan kepalanya menyapu alam semesta yang luas di atasnya. “Aku terpaksa Dina, agar kau dan Dewa tidak pacaran. Kupikir Chopin nama panggilan Dewa, ternyata itu namamu. Tapi nggak papalah, karena hal itu rencanaku jadi tetap berjalan walaupun Dewa memergokiku. Yang pasti kau tidak akan bertemu Dewa malam ini. Siapa tahu kalian akan saling benci,” gumannya sambil matanya terus menerawang memandang bintang yang mulai muncul di langit.
Tak lama diambil tasnya lalu berujar,
“Aku mencintaimu Dina..! Sungguh mencintaimu..!” dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu setelah sosok Dina menghilang tak terlihat. Berjalan dia mengikuti bayangan tubuhnya sendiri hingga pelataran parkir.
“Hey Yan..!” katanya saat melihat Ryan turun dari mobil sambil membawa sekuntum bunga mawar putih. Ryan tak sempat membalas teguran itu karena terburu-buru lari menuju tepi danau.
“Huh..! Sombong sekali dia. Tapi, mana Dewa? Kok dia tak datang malam ini,” gumamnya melihat ke sekeliling.
Kini setelah lima tahun mendekati Dina, tetap saja dia tidak mampu menaklukan hatinya. Dia memang masih berhak memiliki tubuhnya, tapi bukan hatinya. Dinginnya udara di ruangan itu kembali menusuk-nusuk tulang di tubuhnya. “Apakah ini hukuman yang harus kuterima atas kesalahanku itu?” katanya mengenang masa SMA. Mata Toni menerawang jauh memandangi sinar rembulan yang masuk melalui sela-sela jendela rumah sakit.
Di depannya tubuh Dina terkapar dengan memar di sekujur tubuh. Toni masih tidak mengerti, mengapa dia jatuh cinta pada wanita murahan seperti Dina. “Dengan Dewa aku tahu dia cintamu. Tetapi dengan Ryan? Kamu memang… huuhhh,” terdengar helaan nafas dari mulutnya. Ditahan kata murahan yang tidak jadi diucapkan. Toni berjalan ke bangsal dan menyuruh suster pertama yang ditemuinya untuk menelepon polisi.
Terima kasih kami ucapkan untuk:
Putradewa, Toni, Almarhumah Ryan, dan seluruh kru MoMMa.
Puja dan puji kami ucapkan untuk:
Dina dan bidadari palsu.
Kami tidak mengucapkan apa-apa untuk yang tidak suka cerita ini. Untuk yang suka, kirimkan ide atau inti kisah hidup anda kepada kami. Kru MoMMa akan berusaha keras meramunya dan menyajikannya sesuai permintaan anda. Mungkin anda ingin mengoleksi kisah cinta anda sendiri. (Untuk team editorial, mohon tidak mengedit catatan akhir dari saya. Itu bukanlah advertasing. Cerita yang jadi akan saya kirimkan juga pada anda. Saya adalah penggemar berat situs ini dan tidak pernah mengirim cerita pada situs lain. Hormat saya, Dewa Putradewa).

Related Post